Love at First Post

Apakah mungkin mencintai seseorang yang belum pernah kita temui?

-Teacher's Diary-

Advertisement

Jika dulu aku menjawabnya dengan gegap bahwa tidak akan bisa. Kini terpaksa aku menarik kalimatku sendiri. Namun demikian, sejujurnya, aku tidaklah malu apalagi menyesal, karena ini tentangmu.

Dahulu, jauh sebelum aku menemukan sosok sepertimu, aku hanyalah gadis desa dengan impian sederhana dan biasa. Suatu ketika aku menemukan bahwa ada orang jauh di luar sana yang tidak kukenal menyatakan kekagumannya padaku. Anehnya, bukan hanya sekali dan seorang, lebih. Aku pun tak mengerti bagaimana bisa seseorang mengagumiku sementara aku bahkan tidak mengenalnya. Aku menggali dan meminta kejelasan, namun tanpa hasil. Begitu janggal mengetahui ini.

Waktu bergulir, masa berlalu. Aku mulai tumbuh menjadi seorang wanita. Ya, kukatakan aku wanita setelah tumbuh dari seorang gadis. Aku merasa berbeda dengan seluruh proses pendewasaan ini. Aku tumbuh. Puji syukur pada Tuhan, karena aku diberikan-Nya kesempatan untuk tumbuh dengan penuh impian dan cita-cita besar untuk masa depan, untuk negeri ini.

Advertisement

“Kita bisa mengubah nasib, namun tidak dengan takdir”

(mungkin)

Aku tidak mengerti bagaimana Tuhan bekerja, tapi aku percaya apapun takdir-Nya adalah yang terbaik. Salah satu takdir itu adalah dipertemukan dengan sosokmu. Hingga kini, aku masih tidak mengerti bagaimana bisa dirimu, di antara jutaan bahkan miliaran lelaki. Kenapa engkau? Kenapa kini? Pertanyaan yang masih belum mampu aku jawab.

Advertisement

Kutemukan sosokmu di balik cerita kawan-kawanku. Tidak ada hal yang istimewa, awalnya. Dirimu seperti halnya lelaki di luar sana, cool, tegas, dengan aura yang begitu adorable bagi banyak wanita, yang mana salah satunya adalah aku. Tidak ada yang cukup istimewa untuk membuatku jatuh hati saat itu. Ya, saat itu hingga aku menyadari bahwa kelak di kemudian hari nyatanya aku benar-benar jatuh hati.

Kujawab takdir itu dengan mencoba mencari tahu dirimu lebih jauh, meski hanya sebatas lewat jendela maya. Aku hanya begitu penasaran, bagaimana bisa kawan-kawanku telah jauh lebih dahulu terpikat padamu?

Apa yang istimewa darimu, selain jambangmu itu? Hehe. Apakah sebatas impresi fisik karena memang dirimu layak dipuji? Ataukah hal lain yang jauh lebih berharga?

Sejenak aku telusuri perlahan jendela demi jendela tulisanmu. Sederhana tapi bermakna. Begitu mulanya. Hingga tanpa sadar kujatuhkan kesadaranku pada rentetan tulisanmu yang menyentuh hatiku. Seringkali menggugah, tapi tak jarang berisi ungkapan perasaanmu pada seseorang, aku begitu yakin dengan itu. Sayangnya itu bukan untuk diriku. Jelas, bukan.

Perlahan kuteliti kembali perasaanku dan saat itu aku terbawa oleh tulisanmu. Yaa aku benar-benar terpikat pada tulisanmu. Kali pertama, kedua, atau seterusnya aku sudah sepenuhnya yakin bahwa aku terbawa. Sejak saat itu, aku semakin memahami makna ungkapan “sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada”. Kiranya demikian perasaanku padamu sejak saat itu. Kupikir tidak mungkin benar mengagumi, menyukai bahkan lebih dari itu, tanpa sebelumnya menjumpaimu secara nyata. But it did work !!

“Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu”

Perlahan tapi pasti kekagumanku terpupuk. Lagi-lagi hanya melalui tulisanmu. Kini aku benar-benar tahu bagaimana rasanya jadi Guru Song ketika membaca diary Guru Ann di Baan Gaeng Wittaya. Seringkali aku bisa merasakan energi positif yang begitu menakjubkan saat membaca apapun yang kamu tulis, selama itu bukan tentang hatimu pada hati yang lain. Karena saat aku teringatkan bahwa dirimu mungkin sudah memilih hati yang lain, aku tak begitu yakin mampu merekatkan kembali patahan-patahan perasaanku.

“Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia”

Semakin lama diriku semakin paham, bahwa perasaan ini bukan sebatas kekaguman yang akan reda ketika matahari yang lain terbit. Jelas bukan. Aku percaya matahari terbaik bagiku adalah kamu. Semakin lama aku semakin mengerti, bahwa alasan terbesar mengapa aku begitu mengagumi adalah karena aku menemukan diriku padamu.

Sungguh.

Aku merasakan itu dari tulisanmu dan seluruh filsafatmu, caramu memandang dunia dan esensi kehadiranmu di dunia. Aku terpikat, maaf. Bahkan aku sama besarnya ingin mengubah dunia, seperti halnya impianmu, bukan?

Kamu tahu, waktu terus bergulir, hingga hampir menuju penghujung masaku mencari ilmu. Puluhan bulan berlalu tapi entah mengapa Tuhan belum mengijinkanku untuk setidaknya mendengar suaramu. Belum sekalipun usahaku membuahkan hasil. Berapa kali saja aku mencoba menuju ke lingkaranmu, lingkunganmu, sayangnya tak kudapati dirimu di sana. Teruk sudah akalku merencanakan skenario elegan hingga kampungan, hanya untuk melihat sosokmu lebih dekat.

Sungguh.

Andai kamu tahu betapa malunya diriku pada Tuhan yang melihat tingkah polah tak sabaranku.

“Rencana Tuhan indah pada waktunya”

Ya. Indah pada waktunya jika kita mau bersabar. Masih jelas teringat berbulan-bulan kemudian Tuhan mulai “luluh” dengan tekadku. Aku tahu sebuah pertemuan tidak akan hadir tanpa alasan.

Suatu ketika, tanpa niatan sedikitpun untuk “memburumu”, ku langkahkan kaki jauh dari naungan ruang nan nyaman. Kutempuh jarak yang tak dekat, tak singkat, dengan tekad “aku ingin menemukan masa depanku” dengan maksud bahwa aku ingin membuat karir terbaik lewat inspirasi seorang pakar karir melalui kelas inspirasi,

Tak kutemukan orang lain dari duniaku di sana. Jujur, begitu awkward merasakan atmosfer asing di sana. Bismillah, wallahi hamba ingin memiliki masa depan yang sukses. Semoga sang pakar karir itu mampu memberiku pencerahan atas kebingunganku di ambang masa studi. Hanya itu niatku-pada awalnya hehe.

Sesi hampir berakhir dan aku baru menyadari kamu.. Iya kamu.. Matahariku ada dalam ruangan yang sama. Masya Allah. Seketika seluruh perhatianku yang sedari tadi tercurah untuk menyimak dan memahami sang pakar, seketika berubah padamu.

Lagi, dirimu mengalihkan duniaku.

Dan aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Cukup jauh hingga tak ada yang tahu bahwa saat itu my world turned into you. But I could clearly see you, in real. Sayang, sesi lanjutan aku tak bisa menjumpaimu dimanapun. Mungkin Tuhan ingin tunjukkan agar semestinya aku memperbaiki niatku kembali. Kamu tahu kenapa? Ya. Seketika duniaku teralih, niatku pun tergeser. Maaf.

Bulan berlalu, ya beberapa bulan. Drama memang akrab denganku, bukan? Terimakasih loh, ini berkat dirimu yang menghadirkan drama di hidupku. Di lain kesempatan, Tuhan mengujiku, apakah aku mampu melakukan sesuatu yang nyata selain berdoa dengan menemuimu? Kujawab itu dengan tindakan “Ya, bukan hanya rayuan, wahai Tuhan”.

Aku pun hadir kembali di acara yang mirip dengan acara di mana aku dipertemukan denganmu tanpa sengaja. Tapi kali ini berbeda, karena aku mengupayakan pertemuan itu secara sengaja. Terima kasih Tuhan. Meskipun sulit, ku mencoba mengerahkan fokusku pada sang pakar, tapi lagi-lagi berkatmu duniaku teralih. Pesonamu tak luntur tergerus keringat tergerus waktu. Imajinasi pun berakhir fantasi, ketika aku tidak bisa berlama dan mencoba mencari celah untuk bertukar pikiran denganmu secara langsung. Tuhan, aku gagal modus offline nih.

Sejak saat itu, aku belum punya kesempatan serupa atau yang lain untuk bisa selangkah lebih dekat denganmu lagi. Hingga sekarang. Hingga kemustahilan adalah cukup nyata bagiku.

Tapi meskipun demikian, entah mengapa masih saja perasaanku tak berkurang, growing instead. Seringkali aku menanyai hatiku, mengapa hanya dia yang mampu membombardir benteng pertahananku. Sementara tak seorangpun yang berhasil menginvasinya, bahkan setelah beragam cara mereka coba. Sesungguhnya mereka tidaklah buruk, hanya bagiku hingga kini dirimulah yang memiliki kunci hati milikku yang entah kapan bisa kamu buka dan tinggali.

Mohon maafkanlah aku yang secara tidak sopan mengagumimu, karyamu, jiwamu dan terkadang mencoba membangun angan-angan memiliki keluarga dengan putra-putri terbaik bersamamu. Bahkan terkadang aku memohonkanmu pada Tuhan, sehingga setidaknya hatimu bisa segera tergerak ke arahku.

Maaf.

Aku telah mencoba beragam hal untuk memindahkanmu secara hormat dari hatiku, tapi masih belum berhasil. Sementara aku pun sepenuhnya tahu, bahwa dirimu bahkan tak sekalipun mengenaliku karena barangkali aku bernaung di dalam gelap untuk melihatmu dari jauh. Pun aku mengerti bahwa hatimu barangkali telah sepenuhnya terisi hati yang lain.

Setidaknya, izinkan ku kembali mengungkapkan terima kasih padamu yang telah menginspirasiku dari berbagai hal. Aku kagum padamu. Tidak, lebih. Lebih dari sekadar kagum.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penyuka kopi sachet, langit subuh, dan kamu.