Luka Ini Akibat Kebodohanku Sendiri. Kepadamu Kuucapkan Selamat dan Maaf dari Hati

luka hati kebodohan sendiri

Wajar saja, aku tergoda kepadamu karena perempuan mana pun aku mudah jatuh hati kepada pria yang membuatnya nyaman. Termasuk diriku kepadamu. Aku tahu ini salah, namun tetap kulanjutkan. Walaupun ku tahu akhir kisah ini akan melukai diriku sendiri karena aku berdiri di antara kau dan dia.

Advertisement

Jujur saja, aku memang menyukaimu walaupun aku tahu hubungan ini terlarang. Lalu, apa salahku jika kau juga menaruh rasa terhadapku? Sedari awal aku katakan kepadamu bahwa aku takut untuk melanjutkan hubungan ini. Bukan karena takut dia tahu, namun lebih daripada itu, aku takut kau akan pergi dariku setelah ia tahu hal ini.

Hari demi hari, kita lalui berdua. Tiada satu haripun terlewati tanpa komunikasi di antara kita. Rasa itu pun semakin tumbuh tanpa diduga. Aku pun terlambat untuk mengenyahkannya. Sekalipun tak terduga, aku pun menikmatinya. Hubungan terlarang ini.

Ya, aku pun memaksa untuk tetap bertahan di kondisi yang tidak memungkinkan. Menjadi orang ketiga dalam bahtera rumah tangga. Sialnya, aku menjadi gamang. Merebutmu darinya atau melepasmu untuk keutuhan hubungan kalian berdua.

Advertisement

Aku memang tak begitu yakin dengan ceritamu tentang buruknya hubungan kalian berdua. Namun, hal itu terkadang yang menjadikanku bak iblis bermuka dua.

Aku pun mencoba menjauh. Hilang tanpa kabar berhari-hari. Kau pun mencariku kesana-kemari. Namun, aku enggan bertemu. Aku ingin melihatmu tersiksa karena rindumu terhadapku.

Advertisement

Hingga suatu hari, ia pun mulai curiga. Entah dari mana, ia mendatangiku. Memakiku. Meneriakiku. Aku pun diam. Karena aku tahu ini juga kesalahanku yang membiarkanmu jatuh ke pelukanku.

Tak lama berselang, kau pun datang dan meminta maaf.

“Maaf, aku tak tahu ia akan menemuimu. Aku akan segera membereskan masalah ini. Dan kembali kepadamu,” ucapnya dengan memelas.

Aku diam dan meninggalkannya. Tanpa kata dan airmata. Bagaimanapun juga, aku adalah seorang perempuan. Aku tak mungkin melukai hatinya demi kemenangan perasaanku. Aku pun mengejarmu.

“Maaf, kita akhiri hubungan ini sampai disini. Karena aku sudah cukup melukainya. Melukai sesama perempuan yang memiliki rasa terhadapmu,” kataku saat itu.

Kau pun menangis. “Lalu bagaimana denganku? Aku mencintaimu. Rasaku kepadanya sudah hambar. Tidak ada lagi. Hanya ada kau di sini, di hati dan pikiranku,” balasnya sambil memegang erat tanganku.

“Cobalah untuk memperbaiki hubunganmu dengannya. Ada berbagai cara untuk memperbaiki hubungan. Cobalah satu persatu. Jika perlu, kalian pergi berkonsultasi kepada ahli. Kau tak bisa begitu saja mengatakan rasamu kepadanya hambar sedangkan setiap malam, kau tidur seranjang dengannya. Jangan katakan terpaksa! Kau seharusnya lebih tahu itu,” ujarku seraya pergi meninggalkannya.

Berbulan-bulan lamanya, aku berusaha menahan diri untuk menemuimu. Kini, perasaan bersalah melekat didiriku. Andai saja dahulu aku tak berkenalan dan membiarkan dirimu singgah di hatiku, mungkin aku takkan semenderita ini karena aku tahu aku yang akan jauh lebih menderita pada akhirnya. Karena dugaanku benar, kau kembali kepadanya tanpa perpisahan. Artinya, aku hanyalah bagian dari perjalananmu.

Teruntuk dirimu, aku tak menyalahkanmu karena semua ini adalah kesalahanku. Dan untuknya, aku meminta maaf telah menjadi duri di tengah kalian. Doaku semoga kalian tetap bahagia dan tidak mendapati orang sepertiku lagi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE