Mahasantri Diharapkan Menguasai Kitab Kuning, Teknologi Digital dan Kemandirian

Pondok pesantren merupakan tempat bagi penimba ilmu agama secara mendalam kepada para Kiyai dan Masyaikh yang ada di Pesantren. Sedangkan kuliah merupakan tingkatan tertinggi dalam dunia pendidikan. Mana yang lebih penting? Bagaimana pendapat kalian jika mondok sambil kuliah?

Ataukah malah sebaliknya kuliah sambil mondok sehingga kuliah yang paling diprioritaskan? Itu semua tergantung niat pribadi masing–masing. Ada orang yang sangat ingin kuliah, akan tetapi karna mendapat beasiswa dari UIN maka harus sambil mondok. Ada lagi yang benar–benar ingin menimba ilmu agama di pondok pesantren, akan tetapi orang tua menginginkan anaknya mendapat pendidikan tertinggi dalam pendidikan sehingga anak mondok sambil kuliah. Banyak pula mahasiswa yang memutuskan hanya di rumah untuk membantu orang tua ataupun memilih untuk sambil bekerja.

Dari berbagai macam cara mahasiswa untuk menjalani kehidupannya, pasti ada sisi positifnya masing–masing. Sama–sama memiliki niat untuk mencari ilmu di Perguruan Tinggi, mahasiswa biasanya mudah terpengaruh oleh temannya. Ada yang suka nongkrong di cafe, sering mampir ke mall, ada yang sangat giat mengikuti kegiatan organisasi, bahkan ada yang rajin mengaji. Kalian termasuk yang mana nih?

Sebagai orang tua pastinya khawatir jika anaknya yang kuliah di luar kota terbawa pada hal negatif. Untuk itu, banyak orang tua mahasiswa yang mendaftarkan anaknya untuk belajar di pondok sambil kuliah. Hal ini lebih efektif dan efisien. Apalagi di masa pandemi Covid–19 seperti sekarang ini yang melaksanakan kegiatan kuliah daring.

Dengan belajar di pondok sambil kuliah daring anak menjadi tidak jenuh di rumah belajar sendiri karena di pondok pasti banyak teman–teman yang senantiasa saling membantu jika ada temannya yang sedang kesulitan. Ini juga dapat menjadi solusi bagi mahasiswa yang jenuh menghadapi kuliah daring. Mengisi waktu dengan mengaji dan solat berjamaah sehingga mahasiswa tidak lagi jenuh dengan kuliah daring.

Mahasantri merupakan sebutan bagi kalian yang kuliah sambil nyantri. Mahasantri adalah singkatan dari Mahasiswa dan Santri. Ada banyak hal menyenangkan yang dapat kita jumpai di pondok. Selain mengaji untuk mendalami ilmu agama serta ngalap barokahnya Kyai dan Masyaikh, di pondok kita juga diajarkan kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan dengan teman, serta adab terhadap guru sangat ditekankan, sehingga banyak yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup. Selain mendapatkan ilmu umum dari perguruan tinggi, Mahasantri juga mendapatkan ilmu agama di pondok pesantren.

"Santri tidak hanya wajib paham kitab kuning, teknologi harus dikuasai pula" (Kemenag Muhammad Ali Ramdhani, Direktur Jenderal Pendidikan Islam). Kekuatan masa depan anak bangsa berada pada keahlian dibidang teknologi digital, oleh karena itu santri perlu belajar dan mendalami teknologi digital. Apalagi menjadi seorang mahasiswa sekaligus santri yang melaksanakan kuliah secara daring karena pembatasan aktivitas adanya pandemi Covid–19 seperti sekarang ini.

Mereka dituntut untuk menguasai teknologi digital. Kegiatan perkuliahan yang memanfaatkan media digital seperti laptop dan handphone, mahasantri dituntut untuk pandai mengoperasikan aplikasi–aplikasi yang dimanfaatkan dosen untuk perkuliahan daring. Untuk tugas–tugas kadang mahasiswa juga mendapat tugas untuk membuat penelitian, membuat video pembelajaran, maupun film pendek yang tentunya perlu keahlian dalam bidang teknologi digital dan informasi.

Meskipun ada perbedaan kesetaraan keilmuan antara Ponpes salaf, Ponpesma, dan Rusunawa, akan tetapi aktivitas mahasantrinya setara dengan santri ponpes salaf. Mahasantri yaitu santri yang amat besar, baik keilmuwan umum, kitab kuning, dan kemandirinnya. Mereka posisinya di atas “santri” biasa. Tidak hanya sebagai mahasiswa yang menjadi santri, akan tetapi mahasantri dituntut untuk menguasai ilmu agama, ilmu umum, serta teknologi digital. Mahasantri diharapkan ilmunya sudah nyegoro dan kemandirinnya sudah tahan banting.

Selain pandai baca kitab kuning bahkan hafal Alquran, mahasantri dituntut mandiri, bahkan punya ilmu kebatinan serta kekebalan. Jika buta kitab kuning, tak bisa memaknai kitab, memasak, mencuci, dan tak menguasai ilmu teknologi, apakah layak disebut mahasantri?

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang Mahasiswa PAI di IAIN Pekalongan Santri di Pondok Pesantren Bustanul Mansuriyah Kajen Kabupaten Pekalongan