Bang.. Bagaimana progress skripsimu? Sudah adakah perkembangan menuju ke tahap sidang? Itulah yang selalu mama katakan diawal ketika memulai percakapan denganku melalui telepon. Ma.. maafkan aku ya sudah menambah beban mama di umur mama yang sudah mencapai kepala empat. Tapi mama sehat-sehat kan di sana? Kalimat itu menjadi kalimat yang jarang sekali ku ucapkan untuk mama yang jauh disana.

Mama, aku yakin di hatimu yang paling dalam tersimpan berjuta rasa sayang dan juga tanda tanya besar, kenapa ya anakku ini tidak kunjung selesai juga perkuliahannya? Untuk mama yang senantiasa berjuang selalu mendoakan aku, aku ingin menyampaikan betapa besarnya rasa cintaku kepadamu yang tidak bisa aku sampaikan secara lisan. Tenanglah ma, seperti apa yang sering mama sampaikan selalu  kepadaku "akan ada waktunya semua ini akan selesai" 

Advertisement

Terkadang ketika melihat teman-teman seangkatan sudah pada bekerja, bahkan sudah ada yang menikah, di lain sisi ada rasa ingin menyerah saja dengan dunia perkuliahan ini dan langsung melanjutkan ke dunia pekerjaan. Tapi, hati ini berpikir bagaimana dengan nasib kedua orang tua ku terlebih mama yang sudah menyemangatiku sampai sekarang ini. Mama yang tiap hari menyemangati walau dalam sepi ku yakin dia bersedih melihat kondisiku yang tak kunjung menemukan tanda-tanda aku mendaftar sidang.

Aku yakin waktu 5 tahun yang aku habiskan di kampus ini sudah menjadi beban bagi mama di sana, bahkan mungkin sudah menjadi bahan gossip teman-teman mama disana. Kau juga sering mengadu kepadaku tanpa sadar "Bang.. Mama ini sudah pusing lho sebenarnya, tapi kalau bisa cepatlah kau selesai ya bang biar bisa kita melangkah ke tahap selanjutnya" 

Tenanglah Ma, anakmu yang dulu manja ini sudah merasakan pahit manisnya hidup di tanah perantauan semenjak dari sekolah menengah hingga sekarang. Mohon berikan rasa sabarmu sekali lagi ya ma, dan juga terimakasih yang sebesar-besarnya karena sudah habis-habisan untuk selalu mendukungku dari sejak aku dilahirkan ke dunia ini. 

Advertisement

Mungkin jurusan yang kuambil tidak sesuai dengan jalan kehidupanku ke depan, tapi dengan doa-doamu yang senantiasa kau panjatkan ke Tuhan membuatku bersemangat untuk menyelesaikan kembali apa yang sudah aku mulai. Semoga mama senantiasa sehat-sehat di sana ya, ketika aku lulus nanti engkaulah orang pertama yang akan aku beri kabar bahagia itu. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya