#ManusiaBolehBerencana; Bersama Senja yang Mulai Mengintip dari Balik Pepohonan Sore Ini, Aku Mengambil Jeda.

Aku mengawali tahun ini dengan berdoa kepadaNya, memohon rahmat dan berkat.

Tahun baru telah dimulai, gemerlap cahaya kembang api, ramainya suara terompet, dan megahnya berbagai perayaan menyambut tahun baru telah usai. Lembaran putih siap ditulis, sejarah baru siap diukir, kisah seru siap dibuat. Lalu apa yang sudah dicapai pada 2018? Apa yang harus dikejar dan diraih pada 2019?

Advertisement

 

 

Mungkin butuh waktu sejenak untuk merefleksikannya. Kadang manusia perlu jeda untuk memaknai hidup, mengamati sekitarnya, merefleksikan yang telah dilalui, merajut kembali mimpi-mimpi yang belum tercapai, dan kembali berlari. Tidak pernah ada rumus atau teori yang mengatakan salah jika kita harus mundur selangkah dan untuk dapat kembali maju. Jadi, cobalah mengambil jeda.

Advertisement

Mengambil Jeda

Aku pun mencoba mengambil jeda, merefleksikan satu lagi tahun yang berlalu. Rasanya tidak banyak cita-cita yang terwujud pada 2018. Mimpiku untuk membuat buku, masih sekadar mimpi. Untuk kuliah lagi? Juga masih menjadi angan. Bekerja sesuai passion? Sepertinya tidak perlu ditanyakan, karena belum terwujud juga. Lalu apa yang dicapai?

Advertisement

Bersama senja yang mulai mengintip dari balik pepohonan sore ini, aku mengambil jeda. Seketika pikiranku melayang jauh menembus ruang dan waktu. Melihat diriku 5 tahun yang lalu. Saat itu akhir 2013, aku masih kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Waktu itu, aku mengambil keputusan yang mengubah diriku seutuhnya.

Kilas Balik

Kala itu aku mendapat tawaran untuk menulis di salah satu majalah di Bogor. Dengan modal nekat dan kemauan untuk belajar, aku menerima tawaran itu. Kira-kira tugasnya seperti reporter atau wartawan namun bukan di media mainstream.

Namanya Berita Umat, sebuah media alternatif dengan nafas identitas agama di bawah pengelolaan Komsos BMV Katedral Bogor. Majalah bulanan milik orang  Nasrani itu membuat aku merasakan serunya menulis. Ketika awal aku begabung, rasanya terseok-seok, karena tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan mencoba dunia tulis menulis.Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa.

Seakan menemukan jalan hidup, aku memiliki mimpi baru untuk berkarya di bidang jurnalistik dan menjadi seorang penulis buku.  2015 menjadi tahun yang bersejarah karena banyak sekali pengalaman baru yang menjadi bekal hingga kini. Mulai dari dipercaya mengelola situs bmvkatedralbogor.org, sebuah media daring non-profit dari majalah Berita Umat, sampai menjadi ketua panitia dari acara keberagaman, kebersamaan, dan toleransi di Kota Bogor, Festival Komunikasi Sosial (Komsos) namanya. Pada tahun yang sama aku mulai menulis di majalah HIDUP, sebuah majalah rohani yang terdistribusi secara Nasional.

Sambil melayani lewat tulisan di majalah dan media daring tersebut aku fokus untuk menyelesaikan kuliah dan berhasil diwisuda pada pertengahan 2016.

Tahun demi tahun berlalu, dan aku masih di titik yang sama. Bedanya saat ini aku bekerja menjadi karyawan swasta di Bogor. “Lho, bukannya sudah nulis kok masih bekerja jadi karyawan swasta lagi?” Mungkin pertanyaan tersebut hadir dalam benak teman-teman. Yup, seperti yang sudah aku bilang bahwa media tersebut bukan media mainstream. Media-media tersebut adalah media alternatif sehingga tidak ada gaji atau honor, paling-paling pengganti transport saja.

Tidak Terpikirkan

Senja beranjak pergi, berganti dengan bulan dan bintang, aku kembali tersadar. Seketika aku mengingat beberapa momen penting yang sebenarnya tidak pernah menjadi mimpi atau cita-citaku pada 2018 ini.

Mei 2018, pada perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-52 aku iseng mengikuti kompetisi INMI (Inter Mirifica) Award 2018. Sebuah anugerah jurnalistik bagi insan pers katolik di Indonesia. Waktu itu aku mendaftarkan majalah Berita Umat dan situs yang saya kelola untuk ikut serta. Bertempat di Aula Gereja Katedral Keuskupan Agung Jakarta, aku menghadiri malam penganugerahannya.

Tak disangka melalui berita yang aku tulis berjudul “Mgr. Paskalis: Menjadi Manusia Paskah yang Indonesia” situs yang saya kelola mendapat juara 1 untuk kategori Situs Berita Terbaik INMI Award 2018. Karena beberapa tulisan rekan yang lain juga masuk nominasi, situs yang aku kelola berdua bersama seorang kawan membawa pulang 1 piala lagi sebagai Best of The Best Website INMI Award 2018. Sebuah prestasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kemudian, pada Oktober 2018 aku dipercaya untuk menjadi Pemimpin Redaksi Digital Komsos Katedral Bogor. Kaget dan bingung harus berbuat apa? Kebijakan baru ini dibuat agar media-media yang dimiliki dapat lebih berkembang lagi. Maklum sebelumnya media cetak, daring, media sosial, dan audio visual di bawah satu redaksi saja. Redaksi Digital mengelola situs, media sosial, dan audio visual.

Setelah mendapat kepercayaan tersebut, aku mencoba membuat tim, melakukan rekrutmen. Kira-kira pada awal Desember 2018, berbekal 6 orang armada baru kami mulai jalan untuk menghidupkan redaksi ini. Aku yakin, jalannya akan berat, apalagi kami yang memulai, namun entah sampai kapan, disisa waktu yang ada, kami sepakat untuk memberikan yang terbaik.

Malam ini, ditemani sinar rembulan dan beberapa bintang mungil, aku tersadar. Mungkin memang banyak mimpi yang belum tercapai, cita-cita yang belum tergapai. Tapi, Tuhan punya jalanNya sendiri. Ternyata banyak juga pencapaian dan kepercayaan yang diberikan Tuhan tahun ini. Semua hanya soal waktu yang tepat.

Aku mengawali tahun ini dengan berdoa kepadaNya, memohon rahmat dan berkat. Aku mencoba kembali merajut mimpi-mimpiku dan pastinya akan berusaha mewujudkannya di tahun yang baru.

Bagaimana denganmu kawan?

#ManusiaBolehBerencana #KompetisiMenulisHipwee #Hipwee #HipweeCommunity

 

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis yang mengubah rasa menjadi cerita.

CLOSE