Malam Senin ini ada sesuatu yang berbeda. Malam ini rentetan Intagram stories dipenuhi adek-adek SMA yang mengeluh Senin besok secara terpaksa mereka harus kembali ke sebuah lembaga yang dirancang oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, yang sering kita sebut dengan ‘sekolah’. Mereka merasa liburan ujian kenaikan kelas kemarin belum cukup untuk berburu foto demi menyelaraskan feeds mereka. Sebagian juga merasa belum sempat nonton bareng gebetan mereka. Dan konsekuensi dari adanya berita bahwa Senin besok masuk membuat murid ada yang dengan tegas menuliskan “Menolak Sekolah”, di snapgram.

Di samping itu, ada murid yang berusaha menghibur diri dengan menuliskan “Senin? Happy aeee”. Lepas dari keluhan anak SMA, saya ada cerita soal Senin. Lebih tepatnya saya ada cerita soal masa SMA. Senin, satu kata, dua suku kata, berjuta keluhan siswa di setiap kedatangannya. Seburuk itukah hari Senin? Jika saya masih di bangku SMA layaknya kalian, dengan satu tarikan nafas tanpa keraguan sedikit pun saya akan menjawab “Ya!” Kenapa? Jika saya masih mengenakan seragam putih abu-abu seperti yang kalian kenakan setiap hari Senin hingga Kamis, maka akan saya jawab dengan fasih, “Karena bakalan ada tugas banyak, bakalan ada jadwal les lagi, bakalan ketemu guru yang killer-killer nggak jelas, terus bakalan ketemu mantan aku, tahu sendiri mantan aku sekelas, pelajaran jadi sulit untuk diserap otak.”

Saat itu satu pertanyaan mampu dijawab dengan banyak jawaban dari seorang pelajar SMA. Namun, satu pertanyaan soal matematika tidak mampu dijawab sampai jam bergerak bergitu lama. Tapi tidak semua pelajar akan berkata demikian, itu hanya unek-unek saya semasa SMA. Unek-unek yang saya curahkan bersama dengan kawan-kawan terdekat semasa SMA juga.

Tapi, kini saya telah resmi lulus sesuai prosedur. Saya katakan lulus sesuai prosedur karena untuk lulus sesuai keinginan Ibu saya, saya rasa hasil yang saya capai saat itu jauh dari perkiraan. Nilai ujian yang buruk menjadi alasan utama. Tapi bagi saya lulus sesuai prosedur saja sudah cukup, karena setelah ujian bukan berarti perjuangan telah usai, masih banyak yang harus saya lakukan. Jadi, untuk berjuang saya kira menghemat kapasitas otak saat ujian nasional baik untuk saya, haha.

Setelah lulus, jujur saja saya merasa sedih. Bukan karena kemarahan Ibu saya. Juga bukan karena nilai ujian matematika saya yang jauh dari idaman Ibu saya. Kesedihan saya selepas kelulusan lebih kepada berpisah dengan kawan-kawan terdekat saya, juga kawan-kawan sekelas saya. Kawan yang lebih sering saya panggil tidak sesuai namanya. Terdengar kasar memang, namun kata ‘tersinggung’ tak sedikit pun terlintas di benak saya, juga kawan-kawan saya. Mengingat momen ketika bersama mereka selalu saja bisa membuat bibir ini melengkung membuat simpul senyum dengan sendirinya.

Advertisement

Namun, momen itu kini hanya mampu terlintas di kepala saya. Meski Jan Koum dan Brian Acton telah susah payah menciptakan Whatsapp, namun masih banyak dari penggunanya yang memilih menjadi silent reader. Janjian kumpul full team pun seakan-akan menjadi hal yang mustahil. Jarak benar-benar memberikan dampak yang begitu besar dalam sebuah hubungan persahabatan. Chat grup kini tidak seramai dulu. Dan yang muncul juga itu-itu saja. Yang dulu sebentar-sebentar muncul notifikasi, kini tinggal grup chat yang mulai basi. Yang dulu di setiap ada masalah langsung cerita, kini keraguan justru melanda meskipun sebatas menyapa. Nongkrong, cerita-cerita, dan hal seru lainnya.

Memang yang telah saya lalui bersama dengan kawan-kawan saya bukanlah sesuatu yang penting, bahkan bagi kalian sesuatu yang tidak berkelas. Tapi biarlah, kawan itu berguna ketika main bareng, bukan untuk jaim bareng. Mereka ada di mana saat kau terpuruk lalu dengan cepat akan menggapai tanganmu. Mereka juga ada saat kau sedih, saat itu ia akan segera memberi senyuman di wajahmu.

Kawan terbaikmu tidak hanya akan menerimamu apa adanya. Namun mereka akan membantumu menjadi dirimu yang seharusnya. Dari itu semua, pelajaran terpenting adalah jangan malas-malasan, nilai jelek akan membuat Ibu anda kecewa! Dan juga satu hal, hargai kebersamaan kalian bersama kawan-kawan kalian. Hari Senin masuk sekolah bukan mengeluh. Hari Senin kalian akan bertemu kembali dengan kawan-kawan kalian. Banyak orang-orang sering menyebut masa SMA dengan sebutan part terindah dalam kehidupan, tapi jarang dari mereka menyebutkan bahwa masa SMA juga part yang paling cepat dilewatkan.

Kalau di tanya apa maksud saya menulis ini semua, maka saya akan menjawab jujur dengan satu tarikan nafas, “Karena saya rindu kawan-kawan saya!” Jika benar kalian sedang membacanya, tolong segera agendakan petualangan kita. Sebelum jarak benar-benar memberikan ruang yang begitu luas untuk rindu yang membuas.