Masih Sering Membeda-bedakan Gender dalam Hal Pekerjaan? Sudah Ketinggalan Zaman!

Sering sekali anak laki-laki dan anak perempuan di zaman sekarang ini masih saja sering dibeda-bedakan mulai dari pekerjaan, mainan, dan bahkan kesukaan yang harus dimiliki harus sesuai dengan jenis kelaminnya. Terlebih lagi yang sering membeda-bedakan adalah dari orangtua sendiri. Secara tidak sadar orangtua sudah melakukan stereotip gender pada anak. Hal ini sangat tidak baik untuk anak-anak jika sudah besar atau dewasa nanti. Sekarang ini masih banyak sekali anggapan kaku atas pembagian peran anak laki-laki dan anak perempuan. Bukan hanya di luar sana tetapi di rumah pun juga banyak. Pembagian peran tersebut termasuk stereotip gender. Gender sendiri meliputi dari beragam ciri, peran, sifat, dan tanggung jawab berdasarkan identitasnya. Gender bisa ditentukan dari pola asuh orangtua, norma yang berlaku, serta anggapan dari masyarakat. Kemudian ada satu lagi, yaitu terkait peran gender. Peran gender yang dibuat dari anggapan masyarakat tersebut yang kemudian menuntut individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan jenis kelaminnya.

Stereotip gender yang sering dilakukan orangtua secara tidak sadar salah satunya adalah pembagian pekerjaan antara anak laki-laki dan perempuan. Terlebih lagi di lingkungan rumah. Seringkali orangtua menganggap jika anak perempuan pekerjaannya bersih-bersih rumah seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, mencuci baju, memasak, dan pekerjaan rumah lainnya. Sementara untuk anak laki-laki pekerjaan rumahnya seperti membantu ayahnya mencuci mobil atau pekerjaan yang berhubungan dengan mesin dan otomotif. Anggapan anak laki-laki tidak perlu melakukan pekerjaan rumah merupakan anggapan yang salah. Pekerjaan rumah itu bisa dilakukan oleh siapa saja serta tidak memandang gender, tidak untuk anak perempuan dan para ibu saja. Anak laki-laki dan para bapak pun boleh melakukannya.

Memang kenapa jika anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah? Apakah itu berdosa?Menyalahi aturan atau bagaimana? Apakah menyalahi kodrat? Oh, tentu saja tidak. Padahal pekerjaan rumah itu merupakan pekerjaan yang mendasar dalam latihan memegang tanggung jawab dan kemandirian. Apalagi jika sejak kecil anak laki-laki maupun anak perempuan sudah diajarkan dan dibiasakan untuk melakukan pekerjaan rumah. Misalnya saja membiasakan untuk merapikan dan membersihkan kamar tidur, mengembalikan benda ke tempat semula setelah dipakai, dan membereskan mainannya sendiri. Dengan hal itu anak-anak sudah diajarkan memegang tanggung jawab sendiri. Tentunya saat mengajarkan hal tersebut pada orangtua harus pelan-pelan dan dengan cara yang benar. Tidak dengan kekerasan atau yang bisa mengganggu mental serta pikiran anak-anak.

Membiasakan anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah juga bisa untuk bekal jika mereka sudah dewasa nanti. Jika ada kondisi dimana mereka hidup sendiri tanpa orangtua atau saudaranya yang lain, mereka tidak kebingungan karena sudah bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sehingga mereka tidak mengandalkan orangtua maupun saudaranya yang lain. Mereka bisa hidup mandiri. Stereotip peran gender jika masih dipertahankan akan banyak memberi dampak buruk bagi lingkungan serta diri sendiri. Tidak hanya pada anak laki-laki dan perempuan saja melainkan bisa  juga berdampak untuk kehidupan yang sudah dewasa nanti. Pada dasarnya tidak ada bedanya antara “Pekerjaan Laki-laki” dan “Pekerjaan Perempuan” karena laki-laki dan perempuan bisa melakukan pekerjaan apapun itu.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini