Apa yang ada di pikiran kamu, saat mendengar kata “Bersanding”?

Ingat ya “bersanding”, bukan “bertanding”. Seperti penganten yang ada di pelaminan. Itu namanya bersanding. Duduk bersebelahan, berdampingan. Sepasang anak manusia yang mengikat janji sehidup semati dalam tali pernikahan. Boehlah itu disebut bersanding. Tidak salah. Bersanding = pelaminan, sah-sah saja. Tapi semua itu hanya diukur secara fisik. Dua orang yang menikah, maka akan bersanding di pelaminan. Hanya terlihat secara fisik. Kasat mada.

Secara asal usul kata, bersanding dapat diartikan berjajar atau berdampingan, ya seperti pasangan penganten tadi. Duduk bersebelahan. Saling dekat. Kira-kira begitu.

Apakah bersanding seperti itu? Justru bukan itu.

Bersanding, boleh juga bersifat simbolik. Tak hanya urusan fisik. Tapi moral, mentalitas. Bersanding, bisa jadi isyarat bagi kita akan perlunya keseimbangan dalam hidup. Penganten yang bersanding itu fisik. Tapi secara moral, mereka bertekad menciptakan keseimbangan dalam hidup. Saling mengayomi, saling mencintai. Agar seimbang, tidak bertepuk sebelah tangan. Betul gak?

Advertisement

Kalo gitu bersanding, apa artinya?

Ya itu tadi. Keseimbangan. Kan tidak melulu kita enjoy hanya untuk satu urusan saja. Terlalu monoton. Buat apa kerja melulu tapi gak bisa menikmati. Buat apa ngerjain kewajiban terus tapi gak pernah mikiran hak. Untuk apa kita ngumpulin melulu tapi gak pernah berbagi. Dalam hal apapun. Kita butuh keseimbangan.Bersanding adalah kondisi hidup kita yang seimbang.

Maka “bersanding’ pantas menjadi acuan. Kita butuh keseimbangan. Tidak mungkin kita hanya mengejar dunia melulu. Tanpa mau memikirkan akhirat. Kerja di usia produktif juga pasti akan berhenti ketika masa pensiun tiba.

Advertisement

Allah memberikan kita kelebihan. Katakan berupa kekayaan atau kecukupan. Karena Allah ingin menyeimbangkan kita. Memberi kelebihan untuk menutupi kekurangan yang kita miliki. Allah pun menjaga keseimbangan. Allah pun bersanding dengan hambanya, dengan kita.

Bersanding itu menyeimbangkan hidup. Pikiran harus bersanding dengan hati. Tindakan bersanding dengan perkataan. Hasrat fisik seimbang dengan hasrat batin. Sekali lagi, bersanding. Sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan, kita perlu menyandingkannya.

Mengapa kita penting seimbang, penting bersanding?

Karena hidup yang tidak seimbang sangat tidak nyaman. Sulit untuk hidup “ada apanya”, lebih baik “apa adanya”. Kita boleh kerja 8 jam sehari, 12 jam sehari. Silakan. Tapi ingat, kita juga harus punya waktu untuk istirahat. Agar tetap seimbang, agar tidak stress.

Siapapun, kapanpun. Hidup tetap butuh keseimbangan. Bersanding, bukan bertanding. Bersanding simbol dari keharmonian, keselasaran dalam hidup kita. Untuk urusan apapun. Sedangkan bertanding, simbol kompetisi, pertarungan. Bertanding bisa dimaknakan positif untuk motivasi. Juga bisa bersifat “panas” karena di dalamnya ada perseteruan, usaha untuk salling mengalahkan, saling melemahkan.

Maka, penting untuk bersanding dalam hidup. Seimbang, selaras. Jangan kita membaca melulu tanpa mau menulis. Atau mendengar melulu tanpa mau berbicara. Hari ini dan esok, kita perlu memikirkan keseimbangan, tentang bersanding. Ada plus ada minus, ada suka ada duka. Itulah bersanding. Agar tercapai rasa saling pengertian antara dua kutub yang berbeda dalam hidup kita, dalam diri kita.

Hidup normal saja itu baik. Tapi jauh lebih baik, hidup dalam keseimbangan. Lahir maupun batin, dunia maupun akhirat. Marilah membangun sikap untuk selalu bersanding… #BelajarDariOrangGoblok

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya