Jika sesekali saja beliau putus asa dalam perantauannya ke San Francisco, perannya dalam membangun Indonesia tidak akan sebesar sekarang. Siapa sangka, seorang individu yang lahir di Bandung dan berlogat Sunda bisa melanjutkan karirnya sebagai arsitek di perusahaan internasional. Gedung-gedung di berbagai negara (termasuk gedung Telkom di Jakarta) dirancang berdasarkan konsep beliau dan beberapa rekan kerjanya.

Dibalik sebuah tokoh besar, ada sebuah cerita yang patut didalami, dan diceritakan kembali. Inilah cerita tentang Maulana Murdan, seorang arsitek yang menaklukkan dunia dengan hobinya.

Advertisement

Biografi dan Hobi

Maulana Murdan adalah seorang arsitek lulusan ITB yang melanjutkan karirnya di Woods Bagot, perusahaan arsitek San Francisco. Beliau lahir di kota Bandung pada tahun 1970 dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. “Sebagai anak yang paling besar, laki-laki, harus menjadi contoh kepada adik-adik dalam segala hal. Alhamdulillah, Uwa menjadi panutan adik-adik…” begitulah ucapan sang ibunda Maulana pada salah satu sesi tanya jawab yang lain.

Ibunya sekarang masih menetap di perumahan daerah Tubagus Ismail, Bandung. “Uwa juga masih memperhatikan kebutuhan-kebutuhan Nini sampai sekarang, walau dirinya sudah mempunyai keluarga sendiri.” Rasa tanggung jawab, pengabdian kepada orang tua, serta jiwa memimpin sudah mulai dibentuk Maulana sejak kecil.

Advertisement

Pada tahun 1976, Maulana sekolah di SD Giki Karangsari, Bandung. Sejak kecil, Maulana sudah mulai menunjukkan hobinya dalam bidang seni dan merancang. “Merancang itu bukan hanya menggambar, tetapi membuat perencanaan cara membuatnya, lebih bersifat bagaimana…” ujarnya . Beliau pun melanjutkan sekolah menengah di St Aloysius pada tahun 1982, sampai lulus SMA. Seusai lulus , Maulana membawa minat dan hobi merancangnya menuju level berikutnya, dengan melanjutkan kuliah jurusan arsitektur di Institut Teknologi Bandung.

Menjalani masa-masa ini, Maulana memiliki prinsip untuk melakukan segala sesuatu secara maksimal. Mengapa? Beliau mengatakan “If you want to be someone, be the best. Jika kamu ingin menjadi seseorang, jadilah yang terbaik dalam bidang hal itu.” Dengan memaksimalkan usaha dan progresi, seseorang tidak akan setengah-setengah dalam melakukan segala sesuatu. Beliau juga menambahkan: “Go to the best school or university, and be the best student that you can be. And when you go to the real world, pursue your career with the best manner, be passionate at what you are doing.

Kota San Francisco

Prinsip tersebut membawa Maulana menuju babak baru dalam kehidupannya. Sejak itu, Maulana melihat sesuatu yang istimewa di kota San Francisco. Beliau akhirnya merantau ke kota itu pada tahun 2001. Pada masanya, San Francisco sudah merupakan kota yang maju. Akan tetapi, Maulana memiliki keterpikatan istimewa terhadap sisi kebudayaan kota ini. Kota San Francisco diwarnai dengan kelompok ras dan cara berpikir yang berbeda-beda.

“Bukan warga asal Amerika, saya berkesempatan untuk berinteraksi dengan kalangan ras yang lain…” ujarnya mengenai alasan beliau merantau ke San Francisco. “Istilahnya, SF adalah sebuah melting pot. Inilah tempat dimana munculnya kelompok-kelompok yang menciptakan pergerakan baru. Selain itu, masyarakat kota ini open-minded.

Oleh karena itu, lingkungan ini kompatibel dengan konsep dan tujuanku.” Maulana menunjukkan rasa optimis dalam pernyataannya. Beliau yakin akan sampai ke tujuannya. Lingkungan baru dan cultural shock yang dialami Maulana malah sebaliknya dijadikan acuan untuk berkarya lebih, serta memperkaya jam terbang dalam proses perjuangannya membangun tanah air.

“Justru hal baru yang diluar ekspektasi akan menjadi bagian krusial dari karir saya, serta sarana untuk melakukan penyempurnaan." Ujarnya.

Mengapa Tidak Balik ke Indonesia?

Ada rasa haru dan kuat khusus dalam hati setiap perantau kepada ranah kampungnya. Namun, tidakkah mereka mendapatkan rasa rindu? Atau mungkin rasa itu hanya akan muncul belakangan? Apakah kerinduan bisa menggetarkan hati Maulana sehingga beliau berpikir untuk kembali pulang? Tidak sama sekali. Beliau membuktikan bahwa dirinya tidak bermasalah hidup di San Francisco, “karena dari awal saya open-minded” katanya.

Beliau juga merasa bahwa keputusan untuk pindah ke Indonesia bukanlah pilihan yang efektif. “San Francisco adalah pusat inovasi dan kompetisi. Fasilitas dan kualitas tenaga kerja yang kami miliki pun high standard. Saya prefer membantu Indonesia dari luar sini.” Dengan pindah ke Indonesia, peran beliau dalam memberi dampak dan membantu perkembangan negara tidak akan maksimal. Lingkungan yang penuh kompetisi terbukti cocok untuk menjadi acuan bagi Maulana.

Apa Arti Sukses

Lalu, apakah arti kata sukses bagi Maulana? Beliau menjelaskan bahwa suatu proyek arsitek bukan hanya sekedar bentuk self-expression, atau semata sumber pencaharian nafkah.

“Saya merancang suatu proyek untuk mengangkat kualitas hidup masyarakat. Suatu proyek akan berkesan bagi saya ketika pengguna merasa kualitas hidup mereka menjadi lebih baik dengan bekerja, menginap, atau bertamasya di lingkungan tersebut…” ucap beliau menjawab pertanyaan tersebut.

Yang menjadi nilai dari suatu karya bukanlah tingkat estetika, atau keuntungan yang dapat diraih darinya. Nilai itu muncul ketika masyarakat bisa merasakan dampak positif dari konsep proyek tersebut.

Seni dan Keilmuwan

Selain merancang, salah satu hobi Maulana yang dicintainya sejak masa sekolahnya adalah bermain musik. “Di SMA, Maulana terkenal jago bermain drum. Waktu itu, Maulana membentuk band bersama anggota teman-temannya. Nini masih ingat rumah kami diramaikan oleh suara musik band pimpinannya pada saat mereka latihan…” ucap ibu Maulana.

Apakah hobi musik seorang arsitek memiliki korelasi dengan karirnya? Ternyata, korelasi ini memberi warna unik di kehidupan Maulana. “Sangat menarik pertanyaannya" sebutnya saat ditanya mengenai musik. "Ketika bicara tentang musik, orang sering melihat sisi keseniannya. Namun dalam musik itu sendiri, sisi keilmuwan memiliki tempat yang krusial.

Saya pun menyadari betapa miripnya dunia arsitektur dengan musik. Dibalik sebuah visi rancangan yang bersifat kesenian, unsur keilmuwan mendapatkan momennya sendiri. Contohnya, proses menghitung luas ruangan, atau menggunakan geometry untuk memecahkan segala masalah mengenai bentuk. Sangat menarik ketika seseorang berhasil menyatukan seni dengan keilmuwan.”

Maulana menekankan pentingnya keseimbangan antara pengembangan seni (imajinasi sebuah konsep) bersama dengan pendalaman keilmuwan (yang berhubungan dengan kepastian dan sistematika). Keseimbangan ini telah berperan besar dalam keberhasilan karya-karya Maulana secara global.

Pesan untuk Anak Muda Indonesia

Maulana memiliki saran untuk anak muda Indonesia. Secara akademis, anak muda Indonesia memiliki kompetensi tinggi dibandingkan dengan negara asing. Banyak dari mereka yang berhasil memenangkan olimpiade matematika, dan IPA. Akan tetapi, mengapa Indonesia masih kalah saing dari negara asing?

Maulana menjawab dengan mengutip pernyataan Steve Jobs; “stay hungry, stay thirsty.” Apa artinya? Perjuangan anak muda Indonesia tidak berhenti di hari kelulusan kuliah. Tidak pantas jika hanya gelar sarjana yang menjadi acuan. Justru dengan memenuhkan diri kita dengan ilmu, pengalaman, dan rasa belum puas, anak muda Indonesia akan mampu berbuat lebih banyak untuk bangsanya sendiri.

Mungkin kata "memenuhkan diri" sudah tidak pantas diucapkan oleh lidah-lidah masyarakat Indonesia, karena ilmu dan pengalaman seseorang tidak ada habisnya. Seseorang tidak pantas merasa cukup pintar. Selain itu, pintar tanpa nasionalisme adalah suatu hal yang sia-sia. Jika "kepintaran" seseorang adalah sebuah pedang, "pengabdian terhadap bangsa" adalah cara sepantasnya menggunakan pedang tersebut.

Pengabdian inilah yang berhasil dilakukan oleh Maulana sejak kecil, dimulai dari mengabdi kepada orang tua. Diperkuat dengan prinsip "menjadi yang terbaik dalam bidangnya", beliau berhasil menembus ide-idenya di kancah internasional. Tidak terlepas dari keseimbangan hidupnya, yang saling terikat antara kesenian dan keilmuan. Itulah perjalanan sang “penakluk dunia dengan hobinya”, Maulana Murdan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya