Sungguh tak ada yang paham rumitnya isi kepalaku ini. Watakku aneh dan kerap membingungkan. Begitu kata orang-orang yang mengenalku. Apalagi bagi dia yang belum setahun menjadi sahabat kamarku. Sembilan bulan tepatnya, saat aku menginjak semester tiga kuliah di salah satu universitas negeri kota apel ini.

Persahabatan yang terjadi lantaran alasan klise tapi fungsional, sama-sama tak kuat bayar kalau harus ngekos sekamar sendiri. Sahabat yang adik kelas, tapi kadang berlagak sok dewasa, mungkin karena dia anak cikal. Sedang aku bungsu dari sekian bersaudara. Sahabat yang akhirnya tak kuat lagi dengan keganjilan tabiatku, memilih angkat kaki setelah sebelumnya beradu mulut sengit, lantang berjam-jam penuh dengan kata makian.

“Pola pikirmu rumit, sok pinter, merasa paling jago. Bersihkan otakmu pake obat serangga!”

Keributan kami mengundang tetangga kosan persis di sebelah ikut berteriak keras menyindir geram, yang di tengah pura-pura tak peduli, sebelahnya lagi malah menyetel musik metal keras sekali. Teman-teman kosan menyangka ada yang akan mati, jika saja salah satu tidak segera pergi.

Sebenarnya mereka mafhum dengan kelakukan kami. Ini bukan kali pertama. Setelah pertengkaran, terka mereka, salah satu akan merutuki, salah satu akan saling mencari, ke pojok kampus, ruang kuliah, kantin, warnet, tempat ibadah atau kosan teman-teman lainnya. Persis orang tak waras.

Advertisement

Tapi kali ini tidak. Setelah perselisihan itu, aku melanjutkan hidup seperti tak pernah terjadi apa-apa. Berangkat ke Fakultas Ilmu Budaya, kuliah historiografi atau filologi, merendam diri di Perpustakaan Fakultas, atau sesekali menunggu ada yang mengajak makan mie di Kantin PSBJ. Setiba di kosan, aku menyeduh kopi hitam duduk membolak-balik Kompas Minggu yang telah usang, atau membaca Tagore untuk ke sekian kalinya.

Jelang adzan isya, aku segera mengunci kamar mematikan lampu, tergolek di atas kasur tanpa baju.

Saat tidak ada kuliah, aku pergi pagi-pagi jalan kaki ke pasar membeli buah-buahan. Ini sekedar mengikuti saran Sahabat yang sebenarnya semua orang juga tahu bahwa banyak-banyak mengkonsumsi buah, jauh lebih baik karena kadar gulanya lebih bersahabat daripada nasi. Kadang aku membeli jeruk nipis untuk direndam dan diminum setiap kali bangun pagi. Ini juga salah satu tips yang biasa saja, cuma memang kebetulan Sahabat itu yang bilang.

Bila tersisa bilahan jeruk nipis bisa dilulurkan ke muka untuk mencegah jerawat, begitu kata Sahabat waktu itu. Padahal ibuku di kampung telah mengatakan itu semenjak aku usia akil baligh. Aku meringis menahan perih. Segera air jeruk nipis yang membasahi wajah kukeringkan dengan ujung kaos.

"Hmm…komedo di wajah telah banyak lagi,” kataku dalam hati sambil memegang cermin. Dulu Sahabat suka iseng memaksa mencabutinya, hingga aku menjerit-jerit menahan sakit, dan menampar pipinya.

Tapi kali ini ada yang tidak biasa, dari pasar aku membeli sebotol obat serangga. Sejak Sahabat pergi, kamar kosan berubah seperti gerobak kaki lima yang lama tak digunakan, selain pakaian kotor yang berserakan, sepatu, kaos kaki, plastik londri, sendok bekas mengaduk kopi, kertas bahan kuliah, buku, koran, kini semut api leluasa berkeliaran di mana saja. Untuk rapi-rapi kosan, aku memang terkenal sangat malas. Ini juga yang sering membuat Sahabat kesal. Aww… aku menjerit kesakitan.

Iring-iringan semut api tak sengaja kuinjak. Mereka diam-diam melawan, menukik tajam menimbulkan rasa perih dan panas di tumit dan paha. Ternyata mereka telah bergerilya di sekitar perut dan dada, bahu bahkan lipatan ketiak. Aku mengibas-kibaskan tangan, menyapu semut-semut dengan geram. Kulepas baju, kugunakan untuk mengibaskannya. Semut-semut tak menyerah begitu saja, di area selangkangan, mereka menusuk lebih sadis.

Kulucuti semua yang kukenakan, hingga semut-semut yang menempel luruh atau kugilas menjadi daki. Tapi semut di lantai dan dinding masih bebas berkeliaran. Aku dendam. Kuraih penyemprot obat serangga yang mirip bazooka, kuarahkan pada gerombolan semut sialan. Semut-semut berhamburan. Aku yang terlanjur kesal membabi buta menghujani semua ruangan, dinding, lemari, bahkan celah angin-angin semua kusemproti dengan titik-titik cairan obat serangga.

Aroma di kamar yang hanya berukuran satu setengah kali dua meter pun berubah seketika. Setelah hampir dua puluh menit, aku berhenti memerangi semut-semut itu. Aku yang kelelahan membanting badan ke atas kasur, membiarkannya tubuhku yang telanjang membujur membentuk sikap sempurna. Semut-semut yang bandel makin mengganas merambati dinding, mereka mendekati kasur, merapat ke kaki, bulu-bulu diterabasanya, lalu paha, merubuti area pribadi, perut, dada, mulut dan telinga.

Aku pasrah saja. Tiba-tiba mataku panas. Terngiang kembali kalimat Sahabat sebelum akhirnya ia pergi. Kuraih cairan obat serangga dengan tangan gemetar. Andai Sahabat itu ada di sini, tentu mudah saja baginya mangatasi ulah semut-semut ini.

Tiga hari kemudian, penghuni kosan gempar. Mereka mendobrak pintu kamar dan menemukan tubuhku terbujur kaku. Aroma busuk mulai menyengat. Suara jeritan riuh membuat bising telingaku. Mataku mencari-cari sosok seseorang, meneliti satu-satu wajah yang datang.

Tidakkah berita ini sampai ke Sahabat yang dulu biasa memeluk setiap kuceritakan tentang letihnya hidup, tentang masa kecilku yang hanya menjadi bahan olokan, hingga kini membentuk watakku yang menurut orang-orang tidak biasa. Mataku terus mencari. Tak rela rasanya saat kurasakan orang beramai-ramai mengangkat tubuhku. Kutahu di antara mereka tak ada Sahabat itu. Sahabat adalah lukisan yang keindahannya tak begitu kentara kala dilihat dari dekat.