Melatih Rasa Kemanusiaan Agar Mengetahui Makna Kehidupan yang Sesungguhnya

Manusia diciptakan dengan rupa yang sangat sempurna, diberi bekal berupa akal, hati dan perasaan. Yang dari semua itu akan diterjemahkan menjadi sikap dan perbuatan, semua sifat yang dikurniai Tuhan kepada manusia pada asalnya adalah sifat yang bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia. Namun semuanya mesti diarahkan kepada tujuan utama diciptakannya manusia, yaitu menghambakan diri kepada Tuhan.

Maka manusia hendaknya keluar dari sifat-sifat manusiawinya yang bertentangan dengan wujud penghambaan Kepada Tuhan. Apa saja itu? Tiada lain adalah sifat-sifat tercela seperti bangga diri, sombong kepada orang lain, rakus terhadap harta benda tanpa memedulikan halal haramnya, dengki, iri, dendam, marah dan semisalnya. Sehingga manusia itu bisa menjadi seseorang yang mudah memenuhi panggilan Tuhan di dalam menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Sehingga pada akhirnya ia semakin dekat dengan Sang pencipta.



Manusia tidak diharuskan untuk mengeluarkan semua sifat-sifat kemanusiaannya, sehingga ia menjadi seorang malaikat. Akan tetapi yang harus manusia jauhi adalah sifat-sifat yang buruk, yang menempel pada diri manusia.  seorang manusia itu ada yang dermawan, ada yang pelit, ada yang sabar, ada yang pemarah, dan begitulah sifat manusia. Maka dalam hal ini manusia harus mengeluarkan sebagian sifat-sifatnya, bukan seluruhnya, yaitu sifat-sifat yang bertentangan dengan makna ubudiyyah  kepada  Tuhan.  



Kalau kita cermati, manusia disuruh belajar untuk membersihkan diri dari hal yang tidak baik. Sifat manusia ada yang baik dan ada yang buruk. Sifat yang buruk ini bisa menjadi baik jika digunakan sesuai penggunaan dan kapasitasnya, baik secara individu maupun bermasyarakat.

Misalnya sifat ego pada manusia, bayangkan jika seseorang tidak punya keberpihakan terhadap dirinya sendiri, niscaya ia tidak akan memperhatikan eksistensi dan kondisi dirinya, tidak akan tertarik memiliki harta dan membela kebenaran.

Bayangkan kalau tidak ada sedikit sifat pelit yang menguasainya, niscaya ia akan membelanjakan semua harta yang susah payah diperolehnya. Bayangkan juga orang yang tidak mempunyai kecintaan terhadap harta sama sekali, niscaya ia tidak akan mencari dan tidak akan memilikinya sedikit pun. Bila demikian, niscaya bumi akan segera musnah tidak makmur dan kehidupan akan sirna. 

Karenanya, semuanya harus diatur dan dididik agar tidak melewati batas yang semestinya. Sifat manusia itu seperti air. Andai air itu diambil seperlunya, orang bisa menikmatinya sebagai minuman segar.  Tetapi, andai air itu menjadi banjir bandang, maka air itu berubah, merusak rumah serta sekelilingnya. 

                

Seperti sifat marah, Andaikan orang yang terzalimi tidak mempunyai rasa marah untuk membela haknya, nicaya kezaliman akan membabi-buta dan hak-hak manusia akan semakin terabaikan, tidak bisa menjaga kehormatan dirinya, keluarga, rumah tangga, kehormatan agama.

Hanya orang yang cacat mental yang tidak punya sifat marah. Sifat marah ini harus dikontrol oleh akal dan aturan, maka marah ini akan menjadi satu sifat yang sangat  mulya yakni asy-syajaah (sifat pemberani).

Di sini terlihat jelas, ternyata pada dasarnya sifat-sifat jelek sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia, asal digunakan sesuai kegunaan dan porsinya. Akhirnya manusia itu bisa menjadi seseorang yang mudah memenuhi panggilan Tuhan didalam menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Sehingga pada akhirnya ia semakin dekat dengan Sang pencipta.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis