Bagi kami para pejuang rantau, perantauan bukan hanya mengajarkan kerinduan namun juga kemandirian.


"Merawat rindu dengan segala keterbatasan, membiarkan ia memenuhi seluruh rongga hati, hingga menyesakkan tanpa tau lagi udara mana yang harus di hirup".


Advertisement

Jarak memang terlalu jauh memberi rentang, KM nya pun bahkan terlalu jauh untuk di hitung, banyak gunung yang dilewati untuk sampai ke tempat ini. Iya, sekarang kita hidup berbeda pulau, udara yang kita hirup pun sudah berbeda, meski kita masih di tudung langit yang sama tetap saja kita tak saling bertatap muka lagi. Mencoba peruntungan di Ibu Kota yang kata mereka lebih kejam dari ibu tiri, mencoba merantau dan berpisah dari keluarga yang sebelumnya tak pernah ada jarak.


Berada di perantauan memgajarkan banyak pelajaran,kemandirian, kesabaran dan juga ketegaran.


Meskipun kadang banyak kebohongan yang kami lakukan disini agar senyum keluarga di tanah kelahiran tidak hilang. Disini, di tanah perantauan kami mencoba peruntungan yang berharap lebih baik. Memang, semua yang ada dipikiran sebelum merantau tak pernah sama dengan nyata yang kami jalani setelah merantau, berharap dapat kerja yang bagus dan sesuai dengan keinginan. Namun semua tidak terjadi seperti yang di bayangkan, perjuangan disini sangatlah ekstra, bersaing dengan ribuan pengangguran lainnya yang berasal dari seluruh kota di Indonesia, berangkat subuh naik KRL dan sampai rumah setelah isya, antrian panjang ketika registrasi di tempat penerimaan karyawan, berdesakan dan saling dorong.

Advertisement


Entah semua memang tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiran. Jika boleh jujur, " aku ingin pulang" aku ingin kembali ke tanah kelahiran ku.


Namun itu pikiran pengecut bukan? walaupun tak mudah disini tetap saja aku tak ingin menjadi pecundang yang hanya berangan angan tanpa mewujudkan angan itu, mewujudkan mimpi di mata terbuka, bukan hanya mewujudkan mimpi dengan mata tertutup ketika melelapkan tubuh. Perjuangan di Ibu Kota memang tidak mudah, harus bersaing dengan ribuan orang yang datang, dengan lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan angka pengangguran, namun bagaimana pun kami tak akan pulang hanya karna persaingan yang lebih berat disini.

Kadang memang, di celah hujan di tengah petir kami ingin menyatu agar tak ada yang tau air mata bercucur deras dari ruang mata, membasahi dinding pipi dengan begitu deras, namun tetap saja tak ingin terlihat oleh siapapun bahkan jika bisa tangis kami tak ingin diketahui oleh alam sekalipun, karena hanya akan membuat malu.

Bagaimana mungkin ,hati yang keras ketika akan berangkat menginjak tanah rantau menjadi rapuh dan lembek sesampai disini hanya karna perjuangan yang belum seberapa. Perjuangan itu memang belum seberapa dengan perjuangan orang orang disekeliling ku, yang berusaha mencari sesuap nasi di tengah terik matahari, dan yang paling membuat ku malu pada diri sendiri mereka masih tetap bersyukur meski hanya untuk hari itu saja.


Tekadku, lihat saja bagaimana aku akan bertarung, bagaimana hasilnya nanti entah kalah oleh ibu kota atau menang melawannnya lihat saja nanti.


Lihat saja, kau akan kalah karena kerasnya hati kami, dan kami tak akan kalah hanya karna kau lebih kejam dari ibu tiri, Memang kerinduan akan rumah di tanah kelahiran akan menggunung, karena setiap hari kami menabung rindu, meski hanya untuk hal-hal kecil di tempat kelahiran, tapi tunggu saja bagaimanapun rindu itu akan segera tumpah, tumpah dengan tangis yang pecah karena berujung temu atau tumpah karena tak berujung temu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya