Tangan saya terasa gatal untuk tidak menumpahkan apa yang menggumpal dipikiran. Pikiran saya seperti ingin memuntahkan sebuah ide atau mungkin bisa dibilang sebuah penantian. Ini soal kasak-kusuk reunian di dunia musik. Saya jadi tertarik ingin membahas soal reunian salah satu band yang selalu ditunggu masyarakat dunia.

Kemarin, para emo dunia tersentak dengan keputusan Gerard Way cs untuk manggung lagi. Apalagi ditambah pengumuman jadwal manggung MCR baru-baru ini, mereka akan manggung di Jepang dan Australia, hmm, kenapa gak mampir Indonesia sih Bang Ray Toro cs. Tapi saya tidak ingin membahas euforia para majelis emo dunia menyambut maharaja emo My Chemical Romance. Saya ingin membahas soal penantian majelis rock n roll yang juga ingin melihat junjungan mereka manggung bareng lagi. Ya, kapan Oasis balikaann……

Advertisement

Isu panas soal balikannya Oasis selalu bergulir setiap waktu. Entah yang mana yang benar, nyatanya semua fans Oasis masih harus gigit jari dan tentunya harus bersabar untuk melihat dua kakak beradik Liam dan Noel damai. Oasis sendiri perlu kalian ketahui adalah band asal Inggris yang terbentuk pada tahun 1991.

Dibentuk oleh Liam Gallagher bersama  Paul Arthurs (gitar), Paul McGuigan (bass), dan Tony McCarroll (drum). Lho , Noel mana? Nyatanya Noel adalah anggota terakhir yang akhirnya bergabung setelah diajak sang adik, Liam. Oasis awalnya punya nama The Rain. Tapi setelah Liam mikir-mikir, dia akhirnya milih nama Oasis karena melihat poster Inspirals Carpets yang tengah manggung di The Oasis Leisure Centre, lalu jadilah nama Oasis.

Oasis bagi saya sebenarnya tidak spesial-spesial amat. Melihatnya di MTV pertama kali saat menyanyikan lagu Don’t Look Back in Anger, pada pendengaran pertama saya langsung suka lagu tersebut. Tahun 2007, saya mulai mengulik-ngulik band yang katanya sempat punya persaingan ketat dengan Blur ini. Walau tidak mengikuti secar intensif perkembangannya, namun saya tentu mengikuti sejarah akar konflik yang menyebabkan Oasis bubar.

Advertisement

Walaupun band favorit sepanjang masa saya adalah Avenged Sevenfold, Oasis tetap menjadi band side hearing saya yang selalu saya update infonya. Oasis jugalah yang membuat saya sangat menyukai kalimat revolusi dan tidur. Oasis menginspirasi diri saya ketika SMP untuk setidaknya paham bahwa dengan tidur ternyata perubahan bisa dimulai. Simpel dan mengena, So I start a revolution from my bed~

Bicara playlist Oasis, saya punya 5 playlist Oasis yang menjadi lagu wajib saya. Don’t Look Back in Anger, alasannya karena itu tadi, revolusi bisa dimulai dari tidur. Dan saya suka. Live Forever, liriknya menggambarkan keabadian. Saya bisa berkaca dari sini bahwa sebenarnya tidak ada keabadian di dunia. Bisa sebagai ajang muhasabah.

Selanjutnya ada Whatever yang saya suka musik, lirik dan maksud dari lagunya. Bodo amat, lah. The Masterplan, kesan filosofis dalam lagu ini ditambah kalimat, cause everything that's been has passed. Antitesis dari lagu Live Forever. Stop Crying Your Heart, saya suka lagu ini karena ketika mendalami liriknya, rasa insecure saya hilang. Intinya ni lagu akan ngasih kamu semangat gitu. Get up (get up), Come on (come on), Why're you scared? (I'm not scared).

Sebenarnya masih banyak lagi, tapi kelima lagu itu sudah seperti makanan sehari-hari telinga saya ketika mendengarkan lagu Oasis. Lantas sebagai penikmat yang sebenarnya tidak fanatik-fanatik amat, apakah saya rindu Oasis reunian? Jawaban saya, ya. Saya tentu ingin melihat Liam dan Noel saling rangkul di panggung yang faktanya sulit sekali mereka berdua lakukan ketika dahulu hendak bubar. Saya ingin melihat Liam manggung bareng Oasis pakai jas hujan dan nyanyi bareng sama si Noel.

Saya yakin kalian-kalian yang fans fanatiknya Oasis pasti setiap waktu selalu menantikan kabar reuninya Oasis. Sejak pecah kongsi tahun 2009, Oasis memang terlihat masih sangat sulit untuk dipersatukan. Apalagi perang dingin antara dua pentolan Oasis yang bersaudara ini seolah tak lekang oleh waktu. Noel dan Liam ini macam kucing dan tikus yang tak pernah akur. Kata Liam sih mereka gak pernah akur sejak usia 14 tahun.

Saya pun tidak mengerti kenapa hubungan persaudaraan mereka hanya diisi pertengkaran. Tidakkah mereka seharusnya melihat bagaimana Ian Kasela dan Moldy di Radja. Begitu akurnya mereka. Mungkin agak kejauhan, oke, Noel dan Liam ini setidaknya bisa mencontoh yang dekat-dekat. Shannon Leto dan Jared Leto misalnya. Thirty Second to Mars nyatanya saat ini menjadi sebuah grup band berasaskan persaudaraan sedarah. Tentu itu harus dikaji oleh Noel dan Liam.

Masih kurang? Saya kasih referensi paling update, nih. Noel dan Liam harus liat Gerard Way dan Mikey Way, mereka bisa kembali kumpul-kumpul bareng MCR, bos. Garis persamaan darah sebenarnya bisa menjadi pendorong yang kuat untuk bersatu kembali. Toh Axl Rose dan Slash yang tak sedarah pun bisa maaf-maafan kok.

Ketika semua fans Oasis selalu menanti kabar reunian junjungan rock n roll mereka. Saya justru ingin melihat betapa gaduhnya dunia suatu saat ketika akhirnya Oasis mengumumkan bahwa mereka akan manggung bareng lagi dengan personil lengkap. Oh ya, saya lupa, saya juga ingin melihat bagaimana semua orang kembali menyanyi  bersama ketika mendengar lirik :

Sooo Sally can wait, she knows it's too late as we're walking on by

Her soul slides away, but don't look back in anger I heard you say

Masih ditunggu, nih bang Liam dan Noel~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya