Mencari Rupiah Di Tengah Perbukitan Sampah

Kisah hidup Sarinem yang harus mencari rupiah di antara sampah.

Tak terlihat raut lelah pada wajahnya. Yang ada hanyalah senyum tulusnya yang ia nampakkan selama mengobrol dengan beberapa rekan kerjanya. Dengan topi caping yang ia kenakan bekerja untuk menghalau panasnya terik matahari siang hari dan sepatu boot untuk melindungi kakinya saat mencari barang bekas di tingginya gundukan sampah. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Ia sangat semangat menjalani pekerjaan itu walaupun banyak orang memandang pekerjaan itu sebelah mata. Baginya, apapun pekerjaannya tetep harus dijalani dengan ikhlas dan niat. Bahkan ia paham, bahwa tak semua orang mau dan siap untuk menjalani pekerjaan yang ia jalani saat ini.

Advertisement

Tepat pukul 08.00 pagi ia sudah mulai bergegas untuk mendaki gundukan sampah dan menantang teriknya matahari siang hari nanti demi mencari nafkah untuk keluarganya. Sore hari menjelang magrib, barulah ia bersiap pulang dan menyelesaikan pekerjaan yang ada. Sarinem, seorang wanita kuat sekaligus ibu dari 3 orang anak ini merupakan salah satu pemulung di tempat pembuangan akhir sampah di daerah piyungan, Yogyakarta. Usianya kini sudah 46 tahun dan ia sudah menjalani pekerjaan sebagai pemulung sudah cukup lama.

Setiap pagi, ia selalu datang ke tempat pembuangan sampah akhir dan mencari barang-barang bekas yang sekiranya dapat ia jual kembali dan mencari penghasilan pada hari itu juga. Bermodal keranjang kayu yang ia gendong dipundaknya ia dengan teliti mencari botol bekas, kertas bekas, paku, dan masih banyak lagi. Setelah ia rasa cukup, ia membawa hasil memulungnya ke pengepul. Pengepul hasil memulung itu terletak dibawah gunungan bukit sampah, tempat ia mencari barang bekas. Para pengepul biasanya menampung segala jenis sampah yang dapat didaur ulang kembali nantinya. Sarinem terlihat menuruni tumpukan gunungan sampah bersama dengan pemulung sampah lainnya di daerah piyungan tersebut. Tidak pernah habis setiap harinya sampah yang berada disini. “Tiap hari sampah-sampah dari luar diantar kesini, ditimbang lalu baru diboleh masuk tempat pembuangan sampah akhir sini,” tutur sarinem.

Sarinem tinggal disekitaran lingkungan tempat pembuangan sampah akhir. Kehidupannya tidaklah mudah, ia harus bekerja keras setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dengan bergantung pada tempat pembungan sampah di sekitaran rumahnya. Sulitnya mencari pekerjaan dan faktor umur yang sudah tidak muda lagi, mengharuskan sarinem mau tidak mau menjalani pekerjaan sebagai pemulung. Dengan hal tersebut ia mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga walaupun dengan  nominal yang tidak pasti setiap harinya. “Mau berapa pun hasilnya harus tetep disyukuri yang penting keluarga di rumah masih bisa makan sudah Alhamdulillah,” ucap Sarinem.

Advertisement

Karena merasa mampu melakukan pekerjaan itu, maka Sarinem memutuskan untuk menjadi pemulung disekitaran tempat tinggalnya tersebut. Ditambah dengan dekatnya akses rumah Sarinem ke tempat bekerjanya menjadikan ia setiap harinya menjalani pekerjaan ini hingga saat ini. Jam kerja yang fleksibel dan tidak terikat jadwal juga menjadikan ia lebih leluasa dalam menjalani pekerjaan ini.

Dari sampah yang bisa ia kumpulkan dan jual, seperti botol, kardus, dalam sehari Sarinem hanya memperoleh uang sekitar Rp 30.000 dan bahkan tidak pasti, tergantung rezeki yang ia bisa dapat pada hari itu. Sangatlah kurang apabila kita bandingan dengan biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan bahan pokok untuk makan setiap harinya. “Harus irit dan seadanya buat sehari-harinya, paling penting bisa buat makan hari itu juga,”-jawab Sarinem ketika ditanya mengenai jumlah pendapatan yang didapatkan setiap harinya.

Segala peluh yang membasahi sekujur tubuhnya tak pernah menghentikan langkah Sarinem untuk terus mengais sampah dari perbukitan gundukan sampah yang tinggi itu. “Susahnya pasti banyak, cuaca yang kadang panas kadang hujan dan gak bisa ditebak jadi hambatan juga,”-ucap Sarinem ketika mencoba menjelaskan suka duka yang ia jalani selama mengeluti pekerjaan sebagai pemulung. 

Sarinem juga bercerita hal menarik yang terkadang ditemui di tempat pembuangan sampah akhir, tempat ia bekerja. “Kadang ada yang nemu barang atau nemu yang aneh-aneh itu ada, Kalau untung ya ada yang dapat uang, emas dan pernah ada juga yang nemu mayat bayi,”-lanjut Sarinem menceritakan kisahnya saat bekerja.

Sarinem mengatakan bahwa warga-warga yang bermukim di daerah pembuangan sampah akhir ini terdiri dari banyak keluarga, dan mereka menggantungkan pekerjaanya dari bekerja sebagai pemulung. Bahkan tidak hanya orang tua saja, ada juga anak-anak kecil hingga remaja yang juga ikut bekerja sebagai pemulung untuk membantu orang tua mereka.

Dua puluh enam tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk Sarinem menjalani kehidupan dengan bekerja sebagai pemulung. Masa sulit yang dialami olehnya menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk senantiasa bersyukur. Dan mau apapun pekerjaanya asal halal dan dikerjakan dengan ikhlas sepenuh hati akan berkah dan selalu senang menjalaninya. Ia percaya bahwa roda selalu berputar, termasuk roda kehidupannya. Tidak selamanya ia berada di bawah, kelak suatu saat nanti ia pasti merasakan bahagia.

Sarinem yang pada saat diwawancara mengenakan kaos berwarna biru yang telah kusam sehabis bekerja ini menutup wawancara dengan mengatakan, “Yang penting dalam hidup kudu banyak bersyukur dan bersyukur selalu untuk apa yang udah diberi hari ini dan kudu selalu berusaha juga. Tanpa bersyukur dan berusaha kita nantinya cuma bisa ngeluh dan stress saja adanya. Kuncinya kudu selalu bersyukur.”

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE