Setelah sadar akan kesalahan masa laluku denganmu, aku tetap tak bisa berhenti mencintamu. Dalam diam masih tercipta rasa yang tak kunjung sirna. Sekian kata yang ku ucap masih tak buatmu bergeming dan berpaling menatap. Hingga akhirnya kuubah caraku mencinta dengan lebih banyak bicara dengan Sang Pencipta. Pemilik sejatimu dan hatimu.

Cinta kita artikan dengan makna yang salah. Sejatinya cinta ialah anugerah, datang tanpa arah, pergi tak tahu arah. Cinta tanpa ikatan seperti bomerang bagi kita. Terbang tinggi membelah angin dan kembali ke dengan kencang dan menyakitkan. Yang kukira itu adalah cinta ternyata hanyalah nafsu belaka. Yang kukira akan menjadi obat bagi sedih kita, ternyata sebab baginya timbul buat merana. Nyatanya tak ada yang salah dengan cinta. Hanya aku dan kau yang tak siap dengannya.

Advertisement


Kalaupun benar cinta itu mulia, maka haruslah didapatkan dengan cara yang mulia pula.


Sekarang aku tak bisa berdiri di hadapanmu. Dengan segala yang ada pada diriku, tak kuyakin kau akan siap menjalani hubungan itu lagi. Pun demikian denganmu, tak sepatah kata maupun pandangan mata yang tertuju padaku. Kalau memang ini jadi jalan untuk menemukan cinta yang sebenarnya, maka biarlah ini jadi guru bagi kita.

Yang dulunya dengan sombong memacu cinta dalam jalan yang salah tanpa ada hubungan resmi yang mengikatnya. Kembali lagi, ku hanya bisa mencintamu, lagi, dalam diam. Meski mungkin bisa tersampaikan lewat senyapku yang terlewat dalam angin yang menerpamu dalam jalan langkah kakimu.

Advertisement

Rinduku yang tak berucap di depanmu, hanya ku sampaikan ke langit agar kelak ia turun tepat dihati kecilmu. Do’aku tak lebih dari sehatmu dan senyummu yang mulai jarang tampil ke permukaan. Harapku hanya kebaikan darimu untuk dirimu dan hidupmu. Sekarang memang seperti inilah caraku mencintaimu.

Dalam diamku, masih mengagumimu tak berkesudahan. Dalam diamku, hanya doa yang paling mujarab untuk kuberikan. Dalam diamku, masih sama tentangmu, tentang masa depan yang ingin kuwujudkan.


Diamku yang tak nampak ekpresi dalam cinta bukan berarti tak ada yang namanya cinta. Diamku hanya menjaga agar cinta itu tak menempatkan diri pada tempat yang salah, lagi.


Kuharap engkau pun demikian. Kita masih muda, tak hanya cinta yang perlu untuk diperjuangkan. Masih banyak hal yang perlu untuk dilakukan. Masih ada orang orang yang lebih penting untuk kita bahagiakan. Kuharap engkau pun demikian. Saat diriku hanyut dalam do’a malam, kuharap engkau pun ikut bersandar kepada Sang Pemilik Malam.

Karena mencinta dalam sedalam dalamnya pada seorang yang belum halal hanya menimbulkan kecemburuan bagiNya, sang pemilik cinta dari segala cinta. Yang mencabut sumber bahagia dari kita yang tadinya lupa akan-Nya, sehingga akhirnya berpaling lagi kepada-Nya.

Dia mungkin rindu dengan ucapan cinta dari kita, kata cinta pada setiap langkah kaki kita, maupun hati yang mengingat akan Dia. Karena mencinta karenaNya merupakan cinta yang mulia. Yang malah lupa untuk kusadari dan kutinggalkan hanya untuk kesenangan semu yang membohongi.


Masih sama dalam benakku, disini aku berdiri, memandang dengan sorot mata yang sama, dalam harap yang tak ada putusnya, akan dirimu dan diriku dalam satu ikatan yang menyatu.


Ketika aku mulai memutuskan untuk percaya dan mulai menempa diri. Kuharap engkaupun begitu. Biarlah cerita kita disimpan dalam bait doa dan menggema di atas sana. Hingga akhirnya tangan Agung-Nya memberikan kesempatan untuk bersama. Dalam diri yang lebih siap dari sebelumnya. Karena kelak aku akan bertanggung jawab akan hidupmu, keluarga kita, dunia dan akhiratmu. Maka kuharap engkaupun juga menempa diri sedari dini. Karena engkaulah kelak yang menjadi ibu dari anak anakku dan bidadari dalam rumahku.

Dari pria, yang entah kamu, aku, ia atau mereka yang siap menyambut cinta yang mulia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya