Pagi kala itu masih sama. Masih menawarkan berjuta kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru atau sekadar mewujudkan angan lama untuk menjadi kenyataan. Namun perkara kesempatan itu adalah urusan hati yang menentukan, kau ingin melewatinya, mencobanya atau menahannya. Ya, aku percaya tentang kalimat “kesempatan mungkin datang dua kali”. Tapi kalimat itu disertai kata mungkin, artinya kamu bisa menemui kesempatan serupa, kesempatan lain atau kehilangan keduanya.

Lupakan tentang pembahasan kesempatan. Nyatanya, aku lebih sering bertanya pada hatiku ketimbang pada otak ini. Dan kesempatan yang kulewatkan atau aku ambil, sebagian besar atas diskusi antara aku dan hatiku. Semoga hatiku akan jauh lebih bijak dari setiap kata-kata bijak yang terlintas dalam benakku saat aku berhasil bangkit dari keterpurukan.

Advertisement

Siang kala itu-pun juga masih sama. Aku ingin sekali memikirkan tentangmu. Melalui berjuta puisi yang ingin kutulis namun sayangnya hanya satu yang tercipta. Lewat puisi ”Jangan menatapku dengan lekat, bila tak berani mendekat,” semoga puisi tersebut tidak bececeran, keluar tanpa pamit dari buku kerjaku yang kusisipkan beberapa kegalauan di dalamnya. Namun maaf, dalam siang itu aku tidak bisa memikirkanmu lebih lama. Nyatanya, perutku masih menjadi yang utama. Aku harus mengisi amunisi karena mengagumimu-pun aku butuh usaha.

Sore adalah senja. Dan senja bewarna jingga. Walau tidak semua senja bewarna jingga, kadang kelabu, membiru, atau perpaduan ketiganya dan mungkin kamu memiliki pendapat lainnya. Tapi senja selalu menjadi favoritku. Bukan karena tentang jingga, kelabu atau membiru. Bukan juga tentang kehangatannya. Tapi lewat suasana senja, aku bisa merangkai kalimat indah tanpa perlu menggoreskan tinta di atas kertasku. Karena kebetulan saat ini aku tidak sedang memegang kertas.

Maka lewat “senja” aku bisa merangkai bahwa langit senja menggoreskan tinta jingga keemasaan dan suasana hangat sehangat senyummu yang sangat kunanti bagai aku menanti Jumat sore di senin pagi. Dan biarkan aku tetap menyukai senja walau nyatanya diam-diam aku sering berandai tentang dirimu saat senja.

Advertisement

Aku dan malamku. Tak sepenuhnya tentang kami berdua. Nyatanya aku juga ditemani detak jarum jam yang berbunyi tapi jarang sekali aku hiraukan. Aku menantimu setelah seharian aku hanya berandai tentang dirimu. Ya, aku menantimu lewat puisi “RINDU” yang belum kubuat namun bisa sepenuhnya kurasa. Jika puisi tak bisa sepenuhnya menghiburku, dalam malam aku masih bisa terhibur dengan rasa rindu yang belum bisa aku sampaikan dengan tegas.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya