Apakah Anda masih ingat dengan wartel (warung telepon)? Sebuah bilik yang kerap dijumpai disejumlah tempat umum dan objek wisata. Ternyata, tak hanya di Indonesia saja. Atau pernahkah Anda melihat bilik telepon merah khas Britania Raya? Tempat untuk berkomunikasi dan menghubungi orang lain jarak jauh via telepon. Britania’s Red Box begitulah sebutannya. Wartel ala Britania Raya ini memiliki fungsi yang sama seperti layaknya wartel Indonesia pada era 90-an. Bilik telepon merah bergaya retro sudah lama menjadi landmark negara Inggris dan diduga sebagai cikal bakalnya wartel di Indonesia.

Tercatat pada tahun 2002 Bilik telepon merah Britania tersebar sebanyak 92.000 di seluruh wilayah Britania Raya. Namun, dengan meluasnya telepon genggam membuat telepon-telepon umum itu kini tidak banyak dipakai. Sekarang hanya ada 42.000 yang tersisa, dengan 7000 di antaranya digemari wisatawan dan dari jumlah itu hanya 9.400 yang merupakan model tradisonal berwarna merah. Itu berarti sisanya berada dalam kondisi memprihatinkan atau dialihfungsikan.

Advertisement

Operator telekomunikasi Inggris, BT mengaku bahwa sebagian besar gerai teleponnya kehilangan uang dan rugi besar. Sebesar 33.000 panggilan yang dilakukan setiap harinya, kini menurun 90% dalam 10 tahun. Menghadapi hal tersebut, mereka berencana akan menghapus 20.000 bilik telepon merah pada tahun 2022 dan mencari alternatif lain.


"Kami mencari alternatif baru untuk telepon umum," kata Mark Johnson, Kepala Operasi Telepon Umum BT, seperti dikutip dari AFP.


Hal lain yang membuat kerugian pihak telekomunikasi BT adalah mempertahankan harga sewa tempat untuk tiap bilik telepon sebesar £5 atau sekitar US$6,7 juta per tahun. Banyak dari bilik-bilik telepon itu yang sudah rusak, karatan, atau bahkan catnya retak-retak karena ditelantarkan di bawah sinar matahari, hujan, angin dan salju tanpa diperhatikan selama tiga tahun. Barisan bilik telepon merah yang sudah dipensiunkan dan disimpan itu sedang menunggu nasibnya.

Advertisement

Kreasi untuk Bilik Merah

Menghadapi kepunahan yang muncul karena adanya smartphone canggih di era digital, bilik telepon klasik ini tidak mau ketinggalan. Mereka kembali mengundang rasa sayang dengan polesan konservasi unik. Tentunya, sebagian dari landmark Inggris tersebut banyak yang beralih fungsi.

Sejumlah bilik telepon merah itu diubah menjadi berbagai macam tempat yang unik. Mereka disulap menjadi kafe, toko, perpustakaan, galeri seni dan pusat informasi, hingga penyedia layanan alat pacu jantung atau defibrillator. Bahkan ada di antara mereka yang diubah menjadi ruang minum kopi.

Setiap hari, puluhan pekerja kantor di Britania raya menyerbu Bloomsburry Square (sebuah kebun di Holborn, Camden, London) untuk makan siang ataupun hanya memesan minum. Di sana, mereka disuguhkan pemandangan boks/bilik telepon yang telah diubah menjadi kafe kecil. Alih fungsi bilik tersebut sangat bermanfaat dan mengundang para pejalan kaki untuk kembali menggunakannya. Para penyelamat mengubah fungsi bilik tersebut karena kerap menjumpai alat komunikasi itu diabaikan begitu saja tanpa perawatan.

Hingga pada akhirnya bilik telepon model klasik warna merah ini dinyatakan sebagai desain Inggris terbaik sepanjang masa, mengalahkan bus tingkat dua Routemaster dan bendera Inggris Union yang masing-masing berada di tempat kedua dan ketiga. Di Lewisham Way, Inggris selatan, sebuah boks telepon berubah menjadi perpustakaan.

Pengingat Masa Lampau Bilik Merah

Pada tahun 1935, bilik telepon umum merah K6 dirancang oleh arsitek Inggris Giles Gilbert Scott untuk memperingati jubilee perak Raja George V, menandai 25 tahun masa pemerintahannya. Ribuan boks dibangun di setiap kota, menggantikan sebagian besar boks yang telah ada sebelumnya.


K6–bersama bus merah bertingkat–telah menjadi ikon London dan Britania Raya, meskipun pada awalnya desain ini kurang disukai publik. Warna merah menimbulkan kesulitan di beberapa daerah tertentu, dan banyak permintaan terhadap bilik telepon dengan warna yang tidak terang.


Oleh karena itu, Post Office mengganti warnanya menjadi abu-abu, dengan bingkai kaca berwarna merah. Ironisnya, beberapa daerah yang awalnya menolak bilik telepon merah saat ini, justru mengecat merah bilik-bilik telepon mereka. Red Box di Inggris yang diubah jadi Lovefone oleh Fouad Choaibi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya