Memilikimu Memang Sesuatu yang Berharga. Tapi, Melepasmu Justru Membuatku Lebih Lega

Mungkin memang terlampau sulit. Tapi, aku sudah menyumpah pada diri sendiri bahwa kau adalah secuil bagian yang harusnya ku tulis; untuk kemudian ku lipat dan ku masukkan kotak kecil. Untuk selanjutnya aku tenggelamkan bersama raut-raut kenangan. Sederhana.

Advertisement

Hai, kau….

Sudahkah berhitung hari ini? Berapa detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan yang terlewati? Ku harap kau tak lupa, seperti kebiasaanmu. Ini sudah 4 bulan sejak saat itu. Tak ingatkah? Ah, wajar saja. Kau mungkin sibuk dengan romansa baru bersamanya.

Aku tak ingin meminta izin. Ini hakku untuk menulis apapun padamu. Mungkin katamu ini ‘haram’ karena kita tak lagi ada hubungan. Sudahlah, untuk hari ini saja, anggap saja ‘sah'. Aku ingin bercerita.

Advertisement

Kau tahu, empat bulan itu aku telah banyak menimbang? Perihal hati, rasa, dan arah. Ya, kau penyebabnya. Terima kasih sebelumnya.

Kau tahu, empat bulan itu aku cukup banyak berubah? Aku cukup banyak menelaah. Tentang baik buruk kita berpisah. Kini, ketika aku sudah paham, aku tak ingin lagi menangis ataupun memakimu, seperti dulu itu. Aku, dengan senyum tipis yang dulu kau bilang manis itu, ingin menuturkan beberapa tanya. Tentang tahukah kau bahwa gadis yang dulu terlihat manja itu kini menjadi mandiri? Bahwa gadis yang dulu katamu tak peduli itu sekarang menjadi lebih baik? Bahwa gadis yang pendiam itu sekarang menjadi banyak bicara? Bahwa gadis yang selalu kau banding-bandingkan itu sekarang menjadi lebih cantik?

Advertisement

Untuk apa-apa yang ingin ku lontarkan padamu, cukuplah ku goreskan di sini saja. Karena kini aku tak mau lagi menjadi apa-apa yang berhubungan denganmu. Karena aku, seperti kata orang-orang itu, sudah berubah seiring dengan sakit hati yang kau torehkan.

Dan untuk apa-apa yang ingin ku ceritakan padamu, biarlah kau tahu dari sini saja. Bahwa aku masih manusia. Aku masih bisa bernapas setelah kau sempat membuat aku sesak. Aku masih bisa membuka mata setelah kau sempat membuatnya bengkak. Pun aku masih bisa berbicara setelah kau sempat membuat suaraku serak. Kau tahu, Tuhan terlalu baik padaku!

Dan untuk apa-apa yang ingin ku katakan padamu, biar aku perjelas di sini saja. Aku, seperti kata mereka sekarang, sudah banyak berubah. Luar dan dalam. Kau tak percaya? Terserah! Itu hakmu. Aku hanya ingin cerita.

Empat bulan dengan kekosongan itu seperti menjadikanku mayat hidup. Aku bernapas, aku berjalan, aku berlari, aku berbicara, aku tersenyum, aku menangis, aku tidur, aku makan, aku minum, aku pun tak lupa juga masih sempat-sempatnya mengenangmu. Jujur, jika kau ingin tahu kabarku saat itu. Tentu aku akan dengan senang hati mengatakan, aku mengalami masa metamorfosa; seperti kupu-kupu. Aku menjadi kepompong dahulu, untuk kemudian aku berubah sedikit demi sedikit menjadi sesuatu yang indah. Apakah itu sulit? SULIT! Kau tak 'kan tahu bagaimana rasanya. Itu lebih membuatku lelah daripada menjalani hubungan kita yang hampir empat tahun dulu itu. Kau tak 'kan tahu rasanya, karena kau –ku yakin- sampai kini tak juga berubah.

Namun, dengan rasa sakit hati yang masih tersisa itu, aku perlahan menguatkan diri sendiri. Aku mencoba bangkit dan menata diri. Menjadi apa yang dulu tak pernah ku perlihatkan; menjadi apa yang dulu katamu harusnya harus ku punya; menjadi apa yang diinginkan; menjadi apa yang aku suka. Menjadi apa yang menurut banyak orang, katanya ‘menawan.’

Dan bagiku, semua itu adalah fase bangkit dari patah hati yang memang harus ku jalani. Aku menyebutnya fase memantaskan diri. Jika kau bilang, “Itu karenaku.” Oh, jelas tidak! Kau hanyalah alasan ke-sekian untukku menjadi orang yang lebih pantas. Lalu, jika kau bertanya, “Siapa yang membuatmu menjadi seperti sekarang?” Aku akan sebutkan dengan lantang, “Lelaki yang pantas bagiku.”

Kau tahu, kenapa? Aku telah berpikir, sejak saat itu, sejak 4 bulan lalu. Bahwa mungkin alasan kenapa ada sakit hati yang harus ku rasakan adalah karena aku tak pantas bagimu. Pun kau tak pantas bagiku. Atau mungkin dengan secara tak sengaja, kita sudah menyalahi takdir Tuhan. Jelas? Kita bukan takdir yang sudah ditulis di buku Tuhan sana.

Karenanya, aku mencoba menjadi pantas. Aku mencoba berbenah. Sikap, hati, pikiran, cara hidup, fisik, dan arah. Aku seperti berganti peran. Dari apa yang buruk menjadi lebih baik. Bukan karena kau! Sekali lagi, harus kau tahu. Bukan karena kau! Metamorfosaku karena lelakiku kelak. Demi lelakiku kelak. Dan itu jelas, dia, lelaki yang ku sebut pantas.

Aku tak ingin mengulang kesalahan dengan menengok ke belakang dan membiarkan masa lalu mengikutiku. Biarlah, aku tak akan lagi mengingatnya. Aku berharap kau juga begitu. Aku telah belajar dari sakit hati yang kau tuliskan. Dan kuharap, kau pun sama, juga belajar dan mencoba menjadi pantas. Bukan menjadi pantas untuk dirimu sendiri, tapi untuk wanitamu kelak. Wanita yang bisa dengan bangga kau cinta.

Jadi, jika suatu hari nanti kau telah membaca ini. Setelahnya kau bertemu aku, atau kita sengaja mempertemukan diri dengan alasan apapun, anggaplah begitu. Kau akan lihat aku yang berbeda dari aku yang dulu sempat jadi milikmu. Dari aku yang dulu sempat kau acuhkan, sempat kau banding-bandingkan, dan sempat kau duakan.

Kau akan lihat aku yang mungkin nanti duduk di hadapanmu sebagai sosok yang bisa saja lupa akan semua bahagia atau duka yang telah kau cipta. Kau akan lihat aku, 10 atau 20 atau 30 tahun lagi, menyapamu di salah satu tempat awal dulu kita bertemu dan berkata, “Terima kasih kau pernah menorehkan sakit hati. Dari sini, aku belajar bagaimana memperbaiki diri.”

Dan saat itu, kau akan tahu aku yang sudah bersama orang yang pantas. Untuk kemudian aku akan dengan senang hati bercerita mengenai bagaimana kami bertemu, menghabiskan masa kenalan, melewati fase-fase suka-duka. Untuk kemudian, aku juga akan melihatmu tersenyum mengiyakan semua ceritaku, dengan wanitamu di sisimu. Untuk kemudian, semua kenangan kita pada akhirnya menjadi pembelajaran bagi kau, aku, kita untuk sama-sama menjadi sosok yang lebih baik.

Hai, kau….

Aku ingin berpamitan pada masa lalu. Aku ingin menyapa dan mengikuti masa depan. Mengenangmu telah memberiku pelajaran berharga. Untuk berubah, menjadi apa yang katamu ‘lebih baik.’ Namun lebih dari itu, bagiku melupakanmu pun memberiku pelajaran yang lebih penting. Untuk melangkah, dan menjadi apa yang kataku ‘lebih berharga.’

Dan tulisan ini, aku berharap bisa kau temukan terdampar dalam kotak kaca di pantai yang katamu sangat kau suka. Semoga dengan ini kau bisa tahu, bahwa dari sakit hati itu, aku telah benar-benar berubah. Dan semoga, waktu berbaik hati untuk suatu hari mempertemukan kita lagi; tentu dengan pasangan sejati yang memang sudah sesuai dengan buku takdir masing-masing.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Hidup tanpa kata-kata adalah kemustahilan. Kata-kata tak hidup adalah kehampaan.

16 Comments

  1. Yogi berkata:

    ya pasangan sejati..wanita-wanita baru yg terpilih dan wanita terpilih itu selalu berfikir bahwa telunjuk jari nya pantas diarahkan untuknya terlebih dahulu sebelum diarahkan ke depan sesuka nya.

  2. Fita Fatimah berkata:

    aku suka kata-katanya, atau mungkin karena ceritanya hampir sama. ah sudahlah, yg jelas aku merasa lebih yakin untuk melangkah dan memperbaiki diri, karena bersamanya tidak membuatku lebih baik.

  3. Chietra Audina berkata:

    Artikel yang entah sama dengan cerita pribadiku entah hanya kebetulan, atau entah apalahh itu..
    Yang jelas termotivasi untuk melangkah kedepan dan hidup sebagaimana layaknya yang dijalani seperti biasa. Dan melepaskannya memang keputusan yang baik.

  4. Kisah ini sama dengan apa yang pernah aku rasakan..