Mengikis Pandemi Rasisme di Masyarakat, Agar Nantinya Kita Bersatu dalam Segala Perbedaan

Kita sadari bahwa pandemi rasisme sudah melanda dunia sejak zaman dahulu sampai detik ini

Di tahun 2020 ini dunia telah dilanda pandemi Covid-19, tetapi jauh sebelum masalah tersebut terjadi, telah terdapat pandemi yang belum dapat kita basmi, yaitu pandemi rasisme. Sikap rasisme dapat terjadi di mana saja, baik itu di kantor, sekolah, lingkungan sekitar, dan pemerintahan. Sikap rasisme telah menimbulkan banyak konflik di dunia. Seperti kita ketahui, belum lama ini dunia dihebohkan konflik dengan latar belakang ras yang dialami George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika yang meninggal setelah polisi berkulit putih menginjak lehernya dengan lutut. Selain itu, Indonesia juga memiliki sejarah kelam terkait dengan sikap rasisme, yaitu di antaranya Sentimen Etnis yang Berujung Penjarahan pada tahun 1998, Konflik Agama di Ambon, Tragedi Sampit (Suku Dayak vs Suku Madura), Pemerintah vs Kelompok Separatis seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), Penyerangan Kelompok Syi'ah di Sampang, dan lain lain. Dapat kita sadari bahwa pandemi ini perlu kita basmi karena telah menimbulkan banyak konflik dari waktu ke waktu. Pada dasarnya, ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan, salah satunya yaitu menanamkan sikap toleransi sejak dini.

Penanaman sikap toleransi penting untuk dilakukan sejak dini. Upaya pemberantasan sikap rasisme melalui metode ini bisa dibilang adalah cara yang paling dasar. Alasannya, seseorang bisa menjadi rasis jika dipengaruhi oleh pola pembentukan karakter yang kurang baik sejak kecil. Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebutkan, 79,5 persen siswa mempertimbangkan agama dalam memilih teman. Selain itu, 1 dari 4 anak di-bully karena agamanya. Fenomena sikap intoleransi tersebut memberikan bukti bahwa sikap intoleransi sudah mulai terjadi sejak seseorang masih anak-anak. Penanaman sikap toleransi sejak dini dapat dilakukan dengan bantuan pihak sekolah. Guru dapat menumbuhkan sikap toleransi pada murid-murid melalui kegiatan rutin seperti berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing, berbicara dengan sopan santun, membiasakan siswa untuk piket bersama sebelum pulang sekolah, dan lain lain. Melalui kegiatan rutin ini, siswa dibiasakan untuk belajar bersikap toleransi terhadap warga sekolah. Lama-kelamaan sikap toleransi yang dipelajari melalui kegiatan rutin akan membentuk kestabilan dalam diri siswa dan akhirnya akan tertanam dalam diri siswa.

Menjauhkan lingkungan sekitar dari ideologi rasisme. Sikap rasisme dapat timbul karena pengaruh yang muncul dari lingungan sekitar. Seorang anak dapat melakukan sikap intoleransi jika orang terdekat (orang tua) melakukan hal serupa. Seperti pada umumnya, perilaku seorang anak merupakan cerminan dari perilaku orang dewasa didekatnya yang kemudian ditiru. Faktanya, orang tua merupakan salah satu faktor penyebab rasisme yang paling sering terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Contoh yang mungkin telah sering kita jumpai, yaitu ketika orang tua tidak merestui hubungan yang dimiliki anaknya karena pasangannya berasal dari ras yang berbeda. Penting bagi kita untuk menjaga lingkungan sekitar dari pengaruh rasisme agar pandemi ini dapat segera dibasmi.

Menanamkan kesetaraan antar ras dan agama. Suatu individu atau kelompok yang memandang rendah kelompok lain dapat menghasilkan prasangka bahwa ia lebih baik dari orang atau kelompok lain. Ketika prasangka “lebih baik” itu disadari, maka secara alamiah mereka akan memiliki pandangan bahwa mereka berhak untuk memimpin atau mendominasi kelompok lain. Menurut Alice Eagly dan Amanda Diekman, pakar psikolog dari Amerika Serikat, prasangka merupakan sikap yang sangat kontekstual. Konteks yang dimaksud adalah kesesuaian antara stereotip dan harapan peran sosial dari objek sosial tertentu. Jika ditemukan ketidaksesuaian, maka munculah sikap negatif, atau diskriminasi. Pada Agustus tahun 2019 lalu, Indonesia dihebohkan dengan konflik yang disebabkan oleh sikap diskriminasi yang dilakukan kepada masyarakat Papua yang tinggal di Malang dan Surabaya, Jawa Timur. Hal tersebut terjadi karena ras Melayu merasa lebih dominan dibandingkan ras Melanesia. Dominasi ras Melayu di Indonesia inilah menyebabkan orang ras melayu yang berkulit warna terang sawo matang melihat orang ras Melanesia yang berkulit gelap rambut keriting sebagai manusia paling rendah, paling bodoh dan paling tertinggal dari aspek kemajuan moderenisasi. Dilihat dari contoh kasus ini, penanaman konsep kesetaraan antar ras dan agama sangat diperlukan untuk mengurangi sikap diskriminasi terhadap suatu individu atau kelompok tertentu.

Dapat kita sadari bahwa pandemi rasisme sudah melanda dunia sejak zaman dahulu sampai detik ini dan memberikan banyak dampak negatif. Wabah tersebut masih sering kita temui di lingkungan sekitar kita. Pandemi rasisme tidak memandang baik itu negara maju maupun negara berkembang, seluruh negara di dunia ini dapat terkena dampaknya. Penyebab rasisme pun beragam, bisa disebabkan oleh perbedaan warna kulit, disebabkan oleh suku yang berbeda, disebabkan oleh perbedaan agama, dan masih banyak lagi. Upaya-upaya yang terlampir di atas diharapkan dapat mengurangi sikap rasisme yang berkembang di masyarakat. Diharapkan juga agar setiap masyarakat dapat sadar dan berkontribusi menyuarakan sikap anti-rasisme demi terciptanya kedamaian di dunia.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini