Indonesia, negara kepulauan yang memiliki beragam kebudayaan serta adat istiadat. Setiap provinsi yang ada memiliki ciri khas budaya dan adat istiadat masing-masing yang tentunya sangat beragam. Keberagaman inilah yang menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki Indonesia sampai bisa terkenal di kancah internasional serta menarik para turis untuk berwisata. Salah satu kebudayaan yang di sorot adalah Nyepi dari Pulau Dewata atau yang lebih sering di kenal sebagai Bali.

Hari Raya Nyepi atau yang biasa hanya disebut sebagai Nyepi ini merupakan warisan tradisi leluhur kita. Nyepi merupakan perayaan tahun baru untuk umat Hindu yang di mana juga merupakan hari pembersihan diri lahir dan batin. Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun baru saka yang dimulai sejak 78 masehi setelah pertikaian panjang antar suku-suku bangsa yang dimenangi oleh suku saka. Sehingga tahun baru saka memiliki arti sebagai hari kebangkitan dan hari pembaharuan.

Advertisement

Tepat pada Hari Raya Nyepi, terdapat 4 peraturan yang harus di taati oleh umat Hindu. Keempat peraturan tersebut meliputi, tidak boleh menyalakan api dalam bentuk apapun termasuk api dalam diri, tidak boleh bekerja baik di dalam rumah atau di luar, tidak boleh bepergian keluar rumah, dan tidak boleh bersenang-senang atau menghibur diri seperti main ​gadget​.

Esensi yang terdapat pada pelaksanaan Nyepi ialah untuk berintrospeksi diri dari kehidupan masa lalu sehingga dapat menyimpulkan sebuah resolusi baru guna menciptakan kehidupan yang lebih baik. Maka, semua aktifitas pun dihentikan serta terdapat pecalang atau polisi adat yang selalu mengawasi untuk menjaga kelancaran pelaksanaan Nyepi.

Saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan Hari Raya Nyepi tahun 2017 lalu. Awal nya saya merasa ragu untuk melakukan perjalanan tersebut karena yang terlintas di benak saja hanyalah ‘apa yang mau dilihat, kan tidak boleh kemana-mana’. Dugaan saya pun meleset! Salah besar jika anda punya pemikiran seperti itu, memang dari arti dari kata Nyepi saja adalah sunyi atau senyap. Namun siapa sangka, terdapat prosesi adat dan pagerlaran seni yang hanya bisa di lihat setahun sekali dan tanpa dipungut biaya.

Advertisement

Tepatnya di daerah Ubud, saya pertama kali menyaksikan pawai Ogoh-ogoh yang sangat megah dan meriah. Ogoh-ogoh tersebut merupakan patung raksasa setinggi kurang lebih 5 meter yang memiliki wujud yang beragam mulai dari gajah, naga dan masih banyak lainnya. Di pawai tersebut, Ogoh-ogoh berukuran cukup besar ini di arak oleh para pemuda-pemudi keliling desa dengan maksud dan tujuan untuk membersihkan jiwa dan lingkungan.

Dan hal yang cukup menarik terlihat pada saat Ogoh-ogoh ingin kabel listrik, dimana kabel tersebut merupakan kendala terbesar yang akan dihadapi oleh para pengarak Ogoh-ogoh. Setiap ingin melintasi kabel tersebut, terdapat dua orang yang bertugas memegang tongkat panjang yang akan mendorong kabel listrik lebih ke atas agar Ogoh-ogoh dapat melintas.

Sangat menegangkan bukan? Untung saja pengaraknya pada jago! Dan pemberhentian terakhir adalah di lapangan Ubud di mana Ogoh-ogoh tersebut akan di bakar habis dengan arti, membakar sifat buruk manusia. Jika prosesi pawai dan pembakaran dilaksanakan, maka tandanya besok adalah Hari Raya Nyepi.

Perayaan belum selesai sampai situ, saya pun kemudian menyaksikan sebuah pagelaran seni yang menceritakan kisah tentang Rama dan Shinta. Pada saat itu, semua akses jalan raya ditutup dan telah disulap menjadi panggung yang cukup megah. Jalanan pun sudah ramai seperti lautan manusia dan kebetulan sekali, kalau bicara soal keramaian Pulau Dewata adalah juara nya karena selalu menjadi destinasi utama bagi para turis asing maupun lokal. Walaupun berdesak-desakan, percayalah, pagelaran seni tersebut akan membuat segala ‘perjuanganmu’ terbayarkan!

Setelah serangkaian prosesi adat dan pagelaran kesenian, hal yang paling menakjubkan lainnya adalah saat malam Nyepi. Malam itu merupakan malam yang sunyi dan tenang di Pulau Dewata, suasana seperti ini tentunya hanya dapat di nikmati satu tahun sekali. Tamu hotel diperbolehkan untuk keluar ke halaman hotel untuk menikmati kesunyian dan langit Bali yang bersih dari polusi cahaya. Saya sangat takjub akan keindahan langit pada malam itu, penuh dengan bintang yang bersinar namun sayang tidak dapat diabadikan dalam bentuk foto.

Pada siang harinya, aktifitas hanya bisa dilakukan di dalam hotel. Dan biasanya memang setiap hotel sudah memiliki berbagai macam aktifitas yang sudah disiapkan seperti nobar ​atau nonton bareng, ​kids club​, diperbolehkan untuk berenang dan masih banyak lagi. Mengingat bahwa kita sebagai turis harus menghargai mereka yang merayakan Nyepi, tamu hotel pun terus diawasi oleh pecalang yang berlalu-lalang di daerah hotel.

Kami hanya diperbolehkan untuk beraktifitas di luar sampai matahari terbenam. Saat itu sekitar pukul 19.30, kamar hotel saya di ketuk oleh salah dua orang ​staff yang meminta tolong agar tirai di jendela kamar saya di tutup dengan rapat sehingga tidak ada cahaya lampu yang keluar. Karena ternyata sudah ada pecalang yang menegur di luar jendela kamar saya.

Sungguh pengalaman ​limited edition,​ hanya datang satu tahun sekali untuk merasakan kemeriahan prosesi adat yang diikuti dengan kesunyian di Bali. Karena biasanya Bali dikenal sebagai salah satu tempat yang tidak pernah ‘tidur’. Harus saya akui bahwa keputusan yang saya ambil untuk pergi ke Bali pada saat Nyepi adalah keputusan yang tidak akan pernah saya sesali.

Ngomong-ngomong tentang pergi ke Bali pada saat Nyepi, ada ​tips ​nih bagi kalian yang berminat diantara lain adalah; mendarat di Bali satu atau dua hari sebelum Nyepi agar tidak terjebak di Bandara, menginap di hotel karena tentunya akan mendapatkan akses listrik dan makanan yang terjamin, mempersiapkan segala kebutuhan seperti ​snack dan perlengkapan lainnya karena semua toko akan tutup, dan ketahui aturan-aturannya sehingga tahu bagaimana harus bersikap serta memberi rasa hormat pada umat yang sedang melaksanakan Nyepi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya