Menjadi Guru Harapan Tersirat Orang Tuaku

Namaku Arinda Lela Dwi Astutik. Keluarga, lingkungan, dan teman-temanku biasa memanggilku Rinda. Aku adalah gadis kecil yang dilahirkan dari keluarga sederhana. Bapakku seorang petani dan ibu seorang wiraswasta juga ibu rumah tangga. 

Tinggalku di sebuah desa di mana tempatnya yang jauh dari hiruk pikuk kota. Ya, Kedungpanji. Aku tinggal di Desa Kedungpanji, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan. Banyak orang menganggap desaku adalah desa pelosok, pedalaman, jalan rusak bagai ranjau yang bertebaran, tetapi masih banyak sawah nan luas membentang hektaran. 

Padahal, di desa ini aku dididik dari kecil dengan kesederhanaan dan lingkungan yang masih berbau dengan adat-istiadat jawanya. Nilai-nilai religius pun sangat aku terima karena kedungpanji adalah salah satu desa dengan pesantren terbanyak di kotaku. 

Aku juga diajari untuk ramah dan selalu menyapa orang sebagai bentuk kecil dari menghargai sesama. Sedari kecil, Ibu sering menyuruhku untuk pergi mengantarkan kopi hangat dan gorengan ke sawah untuk Bapak. 

Aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku memiliki Abang yang sudah lulus SMK 4 tahun yang lalu, dan sekarang sudah bekerja. Dari kecil aku selalu bermain dengannya dan teman-teman kampung yang masih banyak lagi. 

Kami bermain hujan, membuat perahu kertas yang waktu itu kami lepaskan ke aliran air hujan, dan menyusuri persawahan yang airnya masih jernih kala itu. Memang waktu yang paling menggembirakan itu ketika masih kecil ya. 

Kata Ibu, saat aku memasuki usia 1 tahun, ketika teman-teman seusiaku sudah mau makan nasi halus atau sun sebagai tambahan energi selain asi, tetapi sayangnya aku tidak suka dengan itu.

Setiap Ibu berusaha menyuapiku nasi merah halus, aku selalu menyemburnya. Akhirnya, Ibu menyiasati untuk memberiku amunisi roti untuk bayi, makan buah-buahan, dan meminum susu saja.

Sebelum memasuki TK, Bapak sudah membelikanku sebuah papan tulis yang pada saat itu masih menggunakan kapur tulis warna-warni, agar aku semakin giat dalam belajar menulis.

Setiap selesai sholat maghrib, mulailah ku sentuh papan tulis itu dengan kapur pelangiku dan mencoba mencoret-coret bebas tanpa disuruh sekali pun. 

Dari situ, aku mulai mencoba belajar menulis angka dan huruf sebisaku. Disisi lain, Ibulah yang mengajariku berhitung, membaca, menghafal surat-surat pendek, dan bernyanyi. Layaknya anak kecil pada umumnya yang sangat tertarik dengan warna-warni, sehingga kala itu aku banyak menghabiskan waktu di depan papan tulis. Dari saat itulah, setiap orang bertanya apa cita-citaku, selalu kujawab ingin jadi guru. 

Entah bagaimana seorang anak kecil usia 3 tahun sudah punya bayangan seperti itu untuk masa depannya. Karena menurutku, guru adalah profesi yang sangat mulia. Guru sangat menentukan kelangsungan pola pikir dan hidup bangsa. Guru digugu dan ditiru ini menandakan bahwa sosok guru dijadikan suri tauladan bagi murid-muridnya. 

Setelah lulus Sekolah Dasar aku meneruskan ke MTsN dekat rumahku. Meskipun desaku di kenal pedalaman, akan tetapi di desa ini telah banyak sarana dan prasarana penunjang, instansi, dan pesantren yang cukup banyak. 

Semasa MTs ini, aku memiliki banyak pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan bisa sampai di posisi itu. Aku masuk kelas unggulan di madrasahku dan aku diamanahi untuk menjadi perwakilan MTs pada ajang olimpiade KSM (Kompetisi Sains Madrasah) di tingkat kabupaten. 

Dan alhamdulillahnya, saat itu aku berhasil lolos ke tingkat provinsi. Mendengar berita itu aku tentunya sangat senang dan bersyukur atas apa yang telah Allah SWT. Berikan untukku, aku memeluk ibu dan berterimakasih atas dukungan dan doanya dan tidak lupa juga aku mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing KSMku yang telah rela meluangkan banyak waktunya hanya untuk membimbingku. 

Lalu, aku bersama teman-teman kontingen Magetan dikirim ke tingkat provinsi pada 25 Juli 2018. Kompetisi ini digelar di Kota Jombang dan kami menginap selama 2 hari di Hotel Swiss Jombang. Ini benar-benar pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang sejarah hidupku.

Setelah aku lulus dari MTsN, aku melanjutkan studi ke jenjang SMA dimana yang katanya masa-masa paling indah itu terkemas di SMA, tetapi malah ditindas wabah corona. Karena telah memasuki kelas XII, sebagai penentu akan dibawa kemana arah masa depan, aku memutuskan untuk mengikuti program bimbel selama setahun dalam mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi. 

Tak peduli hujan dan panas, kendaraanku selalu ku gas. Salah satu hal yang menyemangatiku hingga saat ini yaitu harapan dari Bapak dan Ibuku. Aku harus bisa merubah pola pikir dan nasib keluarga. 

Meskipun aku berasal dari desa pelosok dan dari latar belakang keluarga yang biasa, besar harapanku untuk dapat melanjutkan studi ke kota besar dan berjuang di sana. Dengan begitu, walaupun lelah seharian sekolah, lalu sorenya masuk les sampai malam, tidak akan membuatku mengeluh dan sedikit pun menyerah.

Sampai tiba saatnya pengumuman pertama seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri yaitu SNMPTN, hari-hariku dipenuhi rasa takut dan cemas jika hasil mengkhianati usaha, aku takut dengan ekspektasi yang kubuat sendiri. Aku takut mengecewakan harapan terpendam dari orang tua, meskipun Bapak dan Ibu sama sekali tidak pernah menuntutku untuk menjadi ini itu. Karena aku jugalah yang menjadi harapan terakhir keluarga.

Hingga aku memberanikan diri untuk membuka pengumuman sendirian di kamar, dan akhirnya, ternyata Tuhan menjawab doaku untuk bisa berkuliah di luar kota dan menakdirkannya untuk lulus seleksi di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, jurusan Pendidikan Kimia. 

Aku sangat bersyukur dan langsung bergegas menyusul lalu memeluk Ibu yang sedang mencabuti rumput di sawah kala itu. Ibu pun sangat senang karena doanya selama ini telah diijabah oleh Allah dan memberiku nasihat agar tetap rendah hati dan selalu bersyukur atas kuasa Sang Pencipta. 

Dewasa ini, aku berharap kepada diri sendiri untuk lebih bertanggungjawab dengan apa yang aku mulai jalani dan impikan. Meskipun berasal dari desa yang katanya pedalaman, tetapi mimpiku harus terealisasikan.

 Walaupun Bapak dan Ibu seorang petani biasa, tapi mereka ingin anaknya menjadi sarjana. Aku yakin mimpi yang dibarengi dengan doa, usaha, dan restu orang tua akan membuahkan hasil yang sempurna.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Pendidikan Kimia UNS