Kemudian saya teringat akan tulisan saya terdahulu yang juga di-publish di sini. Intinya tentang kejatuhan hati yang porak poranda. Sungguh, saat itu dunia seakan tak berharga lagi dan hanya satu tumpuan, yaitu keajaiban Tuhan. Perlahan setelah mengingat segala masa-masa dulu ketika aplikasi chatting jauh lebih banyak dipergunakan untuk menanyakan kabar dan bertukar tawa, saya mulai menyadari betapa bodohnya diri ini kala itu. Secara umum memang para lelaki langsung bermutasi menjadi manusia tak berakal ketika sedang jatuh hati.

 

Advertisement

            Kebodohan dan kegoblokan itu berdasar pada kelakuan yang saya gunakan ketika berinterakasi dengan “dia”. Mungkin beberapa dari kita atau mungkin ternyata Anda sendiri juga pernah menggunakan jenis interaksi ini.

 

Interaksi yang mengandalkan sebuah narasi religi untung menggaet dan mempertahankan hubungan. Dengan harapan bahwa hubungan yang dijalani akan di-ridai oleh Tuhan dan malaikat-malaikatnya. Mulai dari saling mengingatkan kewajiban atau sekedar panggil-panggilan nama kesayangan dengan menaturalisasikan diksi Indonesia ke Arab (Abi, umi, uhibbuka fillah, dkk). Astaga Ukhti Akhi, sungguh hal tersebut begitu memalukan.

Advertisement

 

            Menjadikan kedok agama sebagai jualan diri. Meski benar agama menjadi tolak ukur bagi beberapa orang untuk menilai baik tidaknya pasangannya, tetapi menjadikannya sebagai topeng penarik perhatian juga menjadi masalah tersendiri. Khususnya dari sudut pandang saya yang mengalami hal tersebut dan menjadi oknum di dalamnya (kalau ada pandangan lain silahkan, kita saling berbagi saja) bahwa menjadikan religi sebagai bahan jualan justru menjadikan diri kita menipu kepada Tuhan.

 

            Religi yang sebenarnya sifatnya pribadi antara hamba dan Tuhan. Ketika hal tersebut dijadikan sebuah materi presentasi kepada pasangan hanya untuk mendapatkan label “orang beragama” dengan niatan menjaga ketertarikan anta sesama, maka dilain sisi makna dari ajaran religi yang dipresentasikan menjadi tak berarti lagi. Mengingatkan untuk tak lupa salat kemudian dalam salatnya hanya memikirkan pasangannya sembari menunggu gerakan terakhir salat, lalu kembali lagi kepada aktvitas saling memuja diantara kedua pasangan. Tak semua memang, tapi tetap saja hal itu menjadi jauh dari makna sesungguhnya. Bentuknya tak hanya berupa itu saja, masih banyak lagi akal-akalan lainnya. Jadinya, bukan menomorsatukan agama, tetapi hanya sebagai alat saja, nomor satunya ia tetap si dia.

 

            Tak cukup hanya sampai di situ. Kebahagiaan tentu tidaklah abadi, akhirnya juga akan menjadi sebuah tangisan. Setelah merasakan surgawi jatuh hati, terjadilah hal yang tak disangka untuk pertama kali, hatinya jatuh. Hancur, pecah dan berserakan. Disinilah menjadi fase titik balik untuk saya. Sebuah masa terdalam yang seolah dunia ini tak berarti lagi dan tak ada nilainya lagi. Alhasil, ketika semua manusia menolak untuk percaya, pada akhirnya kepercayaan hanya kepada Tuhan semata.

 

Pengharapan itu banyak sekali terkirim ke langit, doa-doa untuk menyatukan kembali tanah yang terbelah selalu terbatin. Kenyataan yang tak bisa diterima. Harus diubah, meminta kepada yang Kuasa hanya itu satu satunya cara. Tapi sepertinya Tuhan akan berkata, “Lo aja dulu menduakan Gue, cuma mention-mention doang gak ada dm-dm-an, baru sekarang lo mau minta keadilan? lo aja udah gak adil”

 

            Kalau dibilang bahwa agama dan nilai religi juga penting untuk setiap orang memilih pasangannya, ya saya sangat setuju akan hal tersebut. Namun kita juga mesti sadar bahwa banyak orang sekarang yang mengaku beragama dan bersimbolkan religi tetapi kelakuannya tidak terpuji. Salah satunya saya yang dulu menggunakan dalih agama untuk mempertahankan hubungan yang sebenarnya dan seharusnya agama itulah menjadi dasarnya lebih dulu.

 

Agama berada dalam wilayah privasi setiap individu, nilai-nilai kebaikannya akan terlihat ketika ia membawa diri dalam interaksi kepada sesama. Tak perlu untuk gembar-gembor mengingatkan atau share-share hal tata cara salat lima waktu, itu toh sudah kewajiban, semua juga sudah paham. Kalau untuk saling mengingatkan agar tetap berada di jalan Tuhan boleh-boleh saja. Tapi yang diingat adalah biar dianya lebih dekat dengan Tuhan bukan dengan kamu. Masalah dia mau dekat atau menjauh itu urusan dia. Doa ajalah ke Tuhan.

 

            Rasanya mengingat kembali hal tersebut adalah sebuah hal yang memalukan. Terlebih tulisan saya yang seolah menjadi warga paling teraniaya yang memelas rasa iba Tuhan semakin menjadikan kejahiliyahan saya lengkap. Memoles diri dengan warna keagaman untuk menarik perhatian adalah hal yang kurang tepat, seharusnya kita tahu hal itu.

 

            Sehabis memaki diri sendiri, sebaiknya kita melihat sisi positifnya juga. Apalagi sekarang masyarakat kita lebih suka melihat hal yang negatif dan sangat lihai menghitung jumlah kaki semut di ujung pulau. Jika bisa mengaturnya dengan baik, bisa jadi mem-branding diri dengan nilai religi justru akan meningkatkan iman dan ketakwaan anda. Sudah barang tentu menjadi menantu idaman setiap orang tua. Merasa terpacu untuk melakukan perbuatan ritual keagamaan lebih dulu sebelum diucapkan ke orang lain kadang timbul. Rasanya juga malu hanya sebatas kata-kata saja tanpa ada bukti nyata. Meskipun niat masih sedikit perlu untuk disempurnakan, semoga saja nanti lurus beneran.

 

            Hemat saya, menjadikan religi sebagai barang promosi diri dalam menarik perhatian masihlah kurang tepat. Bagaimana saya akan yakin setia kepada pasangan kelak jika ajaran Tuhan saja dipermainkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya