Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan, Karena Pandemi atau Kesadaran Sendiri?

menjaga kebersihan

Selama pandemi, diharapkan segala upaya yang diberlakukan dengan pemberlakuan protokol kesehatan dan juga social distancing seperti memberhentikan kegiatan masyarakat diubah menjadi work from home dan pembelajaran online yang dapat mengurangi dan memutuskan penyebaran covid-19. Terlebih lagi di Indonesia telah menghimbau adanya Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) di tiap wilayah yang diduga telah terinfeksi serta karantina mandiri bagi individu yang mudah terdampak virus. Selama beberapa bulan diberlakukannya peraturan ini hingga diberlakukan masa new normal untuk memulihkan beberapa kegiatan yang berdampak besar, tetapi sangat disayangkan justru ada yang memperburuk keadaan karena kegiatan masyarakat yang tidak terkendali.

Advertisement

Saat ini PSBB jilid II kembali dilaksanakan dan tidak hanya itu beberapa daerah juga memperketat patroli kebersihan. Setelah memasuki masa new normal masyarakat kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Namun, tetap diberlakukan protokol kesehatan dan juga sanksi yang berlaku sesuai yang diatur. Terlihat apa yang dilakukan masyarakat saat ini terkontrol bukan dari kesadaraan. Jika diandaikan tidak ada pandemi apakah seluruh masyarakat akan menjalankan atau menjadikan kebersihan itu sebagai kewajiban bukan menunggu kesadaran setelah terjadi hal besar. Seperti ilmu yang disepelekan sehingga masyarakat saat ini kembali diatur dalam sebuah perturan demi kebaikan. Tidak hanya itu, dengan begini secara kesehatan mental pun terganggu dengan pemberitaan yang beredar. Siapa sangka keluarga atau orang terdekat kita yang terdampak virus ini.

Kebersihan merupakan kondisi lingkungan tanpa polusi dengan suasana yang menenangkan. Kebersihan seharusnya dijadikan sebuah kewajiban, bukan kesadaran. Mengingat pentingnya kebersihan dalam hidup manusia untuk mendapatkan kenyamanan dan hidup sehat. Hidup sehat tidak selalu mengenai pola makan, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup. Kebersihan juga termasuk di dalamnya dan teramat penting untuk menjaga kebersihan. Kebersihan bukan tentang siapa yang diuntungkan atau untuk siapa nantinya, karena sudah seharusnya manusia tau hal terpenting bagi hidup mereka. Pada akhirnya, yang akan menikmati bukan diri sendiri saja, melainkan anak cucu kita nanti.

Pada masyarakat Indonesia, dapat dikatakan bahwa kesadaran akan kebersihan sangatlah rendah. Tidak hanya itu, polusi dan limbah justru meningkat. Kesadaran kebersihan adalah niatan atau komitmen awal untuk melakukan hal baik terhadap diri sendiri dan lingkungan. Namun, rendahnya kesadaran mengakibatkan beragam polusi seperti polusi udara. Polusi udara yang seringkali ditemui di jalanan padat kendaraan dan kota-kota besar yang berdampak bagi pernapasan dan juga indera pengelihatan. Oleh karenanya, saat berkendara dihimbau untuk menggunakan masker dan menutup kaca helm agar melindungi mata dari debu.

Advertisement

Kebersihan pastinya akan berkaitan terhadap lingkungan, apa yang kita temui di luar, apa yang kita makan, dan apa yang kita sentuh. Segala kegiatan maupun di mana kita berada pastinya di sekitar kita akan virus dan bakteri yang tanpa disadari menempel di tubuh kita. Kebersihan tidak hanya tampka di luar saja, melainkan kebersihan diri juga sama pentingnya dan yang dapat kita lakukan adalah mencuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas. Dengan begitu, kita dapat memastikan bahwa kita menjaga kebersihan diri dengan baik dan terbebas dari faktor penyakit.

Saat ini, kesadaran manusia sedang diguncang dengan adanya pandemi yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Media juga menampilkan kondisi terkini yang semakin buruk dan membuat masyarakat khawatir. Perkembangan pada media dan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat hingga membawa trend baru dalam dunia. Dengan adanya, pemberitaan tersebut masyarakat dengan mudahnya untuk diatur dan terpengaruh terhadap berita-berita yang disampaikan. Pengaruh yang tampak tidak hanya pada pendapat masyarakat, melainkan perilaku dan juga gaya hidup.

Selama pandemi, masyarakat harus karantina mandiri, menjaga kebersihan lingkungan, cuci tangan dan menggunakan handsanitizier. Media menggiring pendapat manusia dengan kekhawatiran yang berlebih, hal tersebut dilakukan mengingat betapa sulitnya mengatur masyarakat meski dengan ikatan hukum. Oleh karenanya, masyarakat disadarkan melalui media agar memperhatikan kembali kebersihan diri dan lingkungan. Kesadaran akan kebersihan, kini menjadi rutinitas masyarakat saat menjalani new normal. Meski demikian, masyarakat mulai ramai-ramai kembali pada kegiatan harian mereka yang terhalang sebelumnya dan pastinya menggunakan protokol kesehatan yang berlaku.

Melihat kembali ke dalam masyarakat, tampak jelas kesadaran akan kebersihan, meski terlihat seperti hal yang mudah untuk dilakukan dan penting bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Namun, masih banyak orang yang menyepelekan dan budaya seperti ini terus berlanjut sampai saat ini. Dan saat pandemi telah dinyatakan sebagai kondisi di mana virus yang menyerang pernapasan tampak berbahaya dan merenggut banyak nyawa. Setiap harinya media meliput angka kasus dan juga yang meninggal dunia, tapi tidak pernah berfikir dampak apa yang akan terjadi meski sebenarnya mereka ingin membantu dalam penanggulangan pandemi.

Budaya yang sudah ada sejak terdahulu tampak sulit dihilangkan, tapi kekhawatiran berlebihan dapat mengakibatkan depresi. Padahal sangat jelas kita sebagai sesama warga negara harusnya lebih berhati-hati dalam menentukan dan menyaring kembali berita yang diperoleh. Budaya warga negara sudah seharusnya dirubah ke arah pikiran yang lebih positif dan tidak keras kepala. Jika saja budaya masyarakat segera dirubah, maka media tidak akan lagi meliput sesuatu hal yang menyakitkan.

Pada akhirnya, tekanan kesadaran ini berdampak baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Tidak ada lagi polusi, masyarakat tertib menjaga kebersihan, solidaritas masyarakat meningkat, dan sadar akan pentingnya kebersihan. Menurut himbauan pemerintah untuk kesadaran diri sendiri karantina di rumah secara mandiri, memasang rambu-rambu kebersihan,  menggunakan masker, memastikan kebersihan tempat, dan juga cuci tangan. Pada masa new normal toko-toko dan bangunan lainnya dihimbau untuk menyediakan tempat cuci tangan. Selain itu, kesadaran untuk membudayakan membaca dan juga berpikir sangat didukung. Karena banyak orang yang masih merasakan takut berlebih yang mengakibatkan depresi/stress, hingga imunitas tubuh menurun.

Pada akhirnya masyarakat diajak untuk kembali kepada pengajaran sejak dulu untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan yang nantinya akan memberikan timbal balik yang setimpal. Dan juga untuk kebaikan bersama untuk saat ini maupun masa yang akan datang. Himbauan lainnya, perlu tetap berpikir positif dan tenang dalam berpikir dan bertindak agar tidak terbawa arus pemberitaan yang semakin hari belum membaik ini dan fokus pada diri sendiri. Jangan takut, tetap waspada dan peka terhadap situasi dan kondisi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE