Dulu Kita Menulis Berlembar-lembar Diary, Kini Sibuk Berbagi Status di Media Sosial Tiap Hari

Diary vs media sosial

Suatu momen dulu kala, ketika Peterpan (sekarang Noah) masih hits dengan lagunya Bintang di Surga, seorang anak sekolahan sedang asyik menulis pada selembar kertas. Kertasnya bukan kertas polos khas buku berisikan kata inggris motivasi di bagian bawah, melainkan kertas berwarna dengan corak indah di dalamnya. Dikumpulkan pada sebuah binder dan menjadi tempat keluh kesah anak tersebut.

Advertisement

Keluh kesah yang tertulis pada kertas unik itu kurang lebih sebagai berikut: “Dear diary, hari ini sangatlah mengesalkan. Tono belum mengembalikkan buku tugasku. Penjual cilok di depang gerbang juga tidak ada. Tetapi untungnya hari ini aku mendapatkan kertas tugas dari Mawar untuk diperiksa”. Kadang kisah hidup itu kembali ditulis keesokan harinya dengan cerita yang berbeda. Hingga kertas tersebut terisi semua dengan perjalanan hidup sang anak. Untuk dibaca kembali rasanya agak sulit, tetapi lainnya hal jika itu sudah lebih dari sepuluh tahun lamannya.

Perlahan namun pasti, sang anak kini sudah mengenggam ponsel pada setiap kesempatan hidupnya. Kertas itu berubah menjadi kumpulan bit data dengan fungsi yang sama, memfasilitasi orang yang ingin menulis hidupnya. Lain zaman, lain pula masalahnya. Anak itu sadar bahwa menceritakan kehidupan tak lagi relevan pada sebuah kertas bergambarkan tokoh kartun. Sekarang, kamu dapat menuliskannya di sebuah halaman khusus. Bisa ditambahkan corak warna sendiri dan gambar yang mendukung. Alhasil, kamu menelurkan sebuah karya.

Saat sebuah ponsel menyala, membuka aplikasi media sosial, kemudian menuliskan kisah hidup di sana, sang anak tak perlu takut akan namanya privasi. Privasi hanyalah sebuah anjuran agar orang lain menekan tombol “follow” pada akun media sosial anda. Setelah masalah privasi sudah selesai, saatnya untuk fokus ke topik utama, yaitu diri anda, sang anak. Pengalaman yang dirasakan sangat jauh berbeda dibanding menulis di kertas warna-warni. Kini, saatnya menuliskan perjalanan hidupmu seharian penuh ini ke dalam sebuah data yang dapat dilihat semua mata. Tak perlu khawatir masalah privasi, semua orang berhak berpendapat, termasuk diri anda yang kini pendapat itu berbentuk kisah hidup pribadi.

Sebuah notifikasi kini muncul di media sosial teman-teman sang anak. Melihat tanda tersebut, mereka girang bukan kepalang tetapi hanya di dalam diri tak perlu di ekspresikan secara terbuka. Saatnya untuk mengetahui kisah hidup orang lain. Terlihat sebuah tulisan putih berlatar hitam yang cukup panjang dapat dibaca sekali dalam semenit. Tulisan itu berbunyi sebagai berikut: “Hari ini sangatlah mengesalkan. 

Temanku, yang berambut keriting itu, belum juga mengembalikkan buku kuliahku. Kemudian ditambah dengan penjual cilok yang hari ini tidak bertugas di depan gerbang kampus. Tetapi beruntungnya diriku, karena untuk pertama kali dia membalas pesanku. Sudah tidak contreng biru lagi”.

Advertisement

Kemudian, kisah hidup yang berbeda ditulis dengan cara yang sama dengan tempat yang juga sama. Melihatnya kembali tak perlu repot-repot. Setelah selesai diunggah, bahkan kamu tak ada hasrat lagi untuk melihat isi dari tulisan hidupmu itu, tetapi lebih fokus pada siapa yang telah melihatnya. Seberapa banyak orang yang melihatnya ataupun apakah terbaca oleh orang yang harap melihatnya.

Pergeseran kondisi yang dialami oleh sang anak kini tak bisa dihindari. Semua orang kini berhak atas apa yang ia berikan di media sosial. Termasuk keluh kesah hidupnya, senang derita hidupnya, glamor glorifikasi hidupnya. Semua itu sudah menjadi lumrah.

Sama halnya dengan anak-anak pada era kaset VCD Peterpan yang mengunci rapat kisah hidupnya pada lembaran kertas. Ada sebuah bijak mengatakan, jika suatu solusi hadir karena sebuah kondisi, jika kondisi itu berubah maka solusi itu juga ikut berubah meskipun objeknya sama.


Satu hal yang pasti ketika kertas tersebut sudah terganti, bercerita terutama tentang hidup pribadi adalah sebuah kenikmatan yang hakiki.


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang yang menatap langit yang sama denganmu

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE