Mungkin seperti aku merasakan turunnya salju ditengah taman bunga berbarengan dengan munculnya pelangi yang indah serta pemandangan laut didepanku, atau seperti aku menjadi ratu disebuah istana dan didampingi pangeran berkuda. Mungkin juga seperti aku berada di sebuah istana es krim dan makanan yang super enak yang aku bisa memakannya sepuasku.

Aku rasa masih belum bisa untuk menggambarkan bahagiaku hari ini. Ya, lekat di ingatanku tadi pagi aku duduk manis dan tertunduk malu disamping ibuku, begitu jelas juga ku lihat raut muka haru diwajah kedua ibu bapakmu. Sedang kamu tepat di depanku menjabat tangan ayahku, meski tampak getir kamu berhasil melafazkan janji itu dengan baik, "sah" begitu kata penghulu dan saksi. Seketika itu duniaku berubah, ada rasa lega dalam hatiku, ini akhir dari penantianku selama ini. Aku telah menjadi istri orang

Advertisement

Jarum jam menunjuk angka 08.00 malam, acara di rumah usai sudah, hiruk pikuk pesta tinggal sisa. Aku di kamar sekarang, harap cemas menunggumu membuka pintu dan masuk ke kamar. Ya, kita tadi sudah sepakat ini adalah isya pertamaku di imami kamu, karena tadi kita disibukkan oleh kerabat-kerabat yang datang, kita akhirnya hanya bisa zuhur dan maghrib sendiri-sendiri.

Pelan terdengar suara derit pintu dibuka

“Assalamualaikum” sapamu pelan, kemudian masuk dan duduk disampingku diatas tempat tidur.

Advertisement

Kali ini kau tersenyum, sedang aku tak mampu menahan buliran bulat bening dari mata ku.

“Lelaki nggak punya hati, nggak punya perasaan, kamu pikir enak menunggu selama ini? Kamu pikir tidak lelah terus menduga-duga orang yang salah?”, umpatku dengan wajah menantang dan air mata yang terus mengalir.

“Ada apa ini?” tanyamu, tampak wajahmu begitu cemas, kau tak tau harus bersikap, maju mundur ingin merangkulku tapi urung

“Kau pikir tidak sakit harus jatuh cinta dan patah hati sia-sia pada orang yang salah? Kamu pikir kepalaku tidak sakit dengan pertanyaan kapan nikah? mana calon?” Aku bahkan sesegukan kali ini, kau yang mulai tau arah pembicaraanku tampak mulai lega dan tersenyum, kau terus menatap kemataku tanpa menyelaku kali ini, kau mendengarku dengan baik.

“Kamu pikir tidak lelah apa? Harus merindu orang yang salah, berharap pada orang tak tepat? Apa kamu tidak pernah peka setiap saya doakan? Apa kamu tidak pernah tau ketika saya merindu?”

Kali ini kau mengusap kepala ku dengan senyuman yang membuat suaraku yang sempat meninggi perlahan menjadi pelan

“Aku selalu mendoakanmu, menunggumu, bahkan memutuskan untuk tidak pacaran dengan siapapun untukmu? Aku pernah mencoba membuka hati berkali-kali berharap menemukanmu”

Kali ini kau menghapus air mataku “Sudah lega?” tanyamu sambil menarikku kepalukanmu.

“Aku itu bukan tidak peka, hanya saja menemukan permata ditengah lautan itu tak mudah, lelahmu menunggu hampir sama seperti lelah ku mencari mu, kadang aku salah duga seperti mu, jatuh cinta keorang yang salah, tapi ku yakin tuhan itu menuntun langkahku untuk dekat denganmu disetiap detik berlalu” sekarang kau mulai tertawa “ku kira apa?, akankah ini jadi malam terakhirku juga pikirku, ada-ada saja!” katamu kemudian.

“Aku janji akan meluapkan emosiku pada suamiku nanti. Menunggumu menyebalkan” kataku yang membuatmu semakin tertawa.

“Ayuk isya dulu” katamu sambil menuntunku bangkit dan kita wudhu bersama.

Cukup dua bulan waktu kita untuk saling mengenal. Aku ingat betul saat kita bertemu disebuah seminar tentang kepemimpinan, kau adalah teman dari sahabatku ketika sekolah. Saat itu aku ingat memakai baju biru dengan garis horizontal dan jilbab warna senada. Kau bilang kesahabatku, kamu tertarik pada ku, dan kita memulai taaruf.

Sebuah cerita tentang seorang teman.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya