Pada suatu pagi Sabtu Dhuha yang terik, sekelompok mahasiswa sedang riweuh dengan acara yang akan diadakannya. Di tandai dengan perbedaan pendapat, kurangnya kordinasi dan sikap skeptis dari masing-masing individu membuat mereka kewalahan dengan agenda acaranya sendiri. Entah acara ini hanya sekadar penggugur kewajiban program kerja saja ataukah ajang unjuk gigi antar divisi, niat hati hanya pemiliknyalah yang mengetahui.

Kadang heran saja dengan salah satu sikap mahasiswa yang di anggap sosok organisatoris itu. Dianggapnya membantu divisi lain dalam satu komunitas merepotkan dirinya, apalagi hal itu memaksa dirinya untuk mengikhlaskan waktu dan tenaga. Apakah harus didaftarkan sebagai panitia terlebih dahulu baru membantu?

Advertisement

Mengenai hal itu saya jadi teringat dengan sebuah peristiwa. Di sebuah desa ada sebuah keluarga yang guyub rukun tentrem. Namun suatu ketika keluarga itu terkena musibah, pagi buta sang kepala keluarga terserang penyakit kronis, keluarganya bingung dengan apa yang akan mereka lakukan.

Diteleponlah beberapa kerabat tapi tak kunjung menjawab, dengan tergopoh sang Istri membawanya keluar rumah berharap membawanya dekat kejalan utama, walaupun pagi buta, biasanya ada tukang ojek atau tukang becak berharap agar membawanya ke UGD Rumah Sakit terdekat. Tak kurang beberapa meter dari rumahnya, tetangga yang sehabis pulang dari belanja kebutuhan pokok dipasar melihat peristiwa itu, dengan sigap ia memberi bantuan kepada kepala keluarga tersebut.

Dipanggillah tetangga-tetangga yang lain dan memberi pertolongan pertama kepada Kepala keluarga tersebut setelah itu membantu membawanya ke UGD Rumah Sakit terdekat. Apakah sang tetangga itu harus menjadi anggota keluarga itu dulu baru membantu?

Advertisement

Dengan niat paseduluran, Pak Sunjoyo berangkat dari Tasikmalaya ke acara kami di Bandung, kami undang beliau sebagai pemateri pelatihan kejurnalistikan. Beliau merupakan pemimpin redaksi sebuah majalah terkenal di daerahnya. Mungkin belum banyak orang mengenal sosoknya, tapi dikalangan komunitas kami beliau sangat piawai dalam hal kepenulisan, kesantriannya dan alumnus.

Pagi menjelang siang, senyum sang mentari mulai terbuka lebar. Hari yang cerah bagi kebanyakan mahasiswa karena di hari ini libur perkuliahan, apalagi dapat diisi dengan hal-hal menarik serta menambah keilmuannya.

Elsa adik tingkatku bernyayi-nyayi dipelataran kontrakannya, entah weekend ini karena baru dapat kiriman dari orangtuanya atau memang ia terbebas dari tugas kuliah yang menyebalkan. Digenggamannya terdapat sebuah smartphone bercover pink, dilihatnya sebuah poster di grup WA, matanya masih menimbang-nimbang apakah ia akan datang di pelatihan atau tidak.

Beberapa hari yang lalu kami sempat mengirim poster pelatihan yang di adakan komunitas kami di grup-grup WA. Pelatihan ini gratis bagi siapapun yang ingin belajar tentang kejurnalistikan dan dipungut biaya bagi yang ingin mendapatkan sertifikat pelatihannya. Pelatihan ini tentu sangat bermanfaat bagi semua kalangan, menurut kami skill menulis itu merupakan skill dasar yang harus dimiliki setiap individu apalagi untuk seorang mahasiswa yang sering membuat laporan-laporan penelitian baik berupa makalah maupun skripsi.

Di lokasi dengan sigapnya pak Sunjoyo telah datang tepat 45 menit sebelum acara dimulai. Kami gagap, tergopoh-gopoh, kami merasa belum terlalu siap dengan acara yang kami selenggarakan. Pak Sunjoyo hanya tersenyum, mungkin menurutku beliau mengerti dengan posisi kami, kami sedang belajar berorganisasi. Dengan sumringahnya Pak Sunjoyo berbincang-bincang dengan kami.

Peserta pelatihan mulai berdatangan, kertas presensi mulai terisi. Pelatihan kejurnalistikan yang di adakan di Aula Bambu mulai dipenuhi. Termasuk di sana kulihat ada Elsa adik tingkatku. Sayup-sayup angin pegunungan mengenai kami, walau sudah agak siang tapi seperti yang diperkirakan suhu di tempat ini tak membuat gerah, dengan khidmat acara dimulai.

Adzan Dzuhur berkumandang, acara pelatihan telah usai. Pak Sunjoyo bergegas sholat Dzuhur didekat lokasi dan pamit kepada kami, katanya ia akan langsung pulang ke Tasikmalaya kembali. Dengan meninggalkan ilmu dan senyum ia telah pergi. Aku masih bertanya-tanya dengan sosoknya itu, “Apakah ia di kasih amplop atau semacamnya untuk menjadi pemateri di acara ini?” Ketua pelaksana menjawab “Tidak, tidak sama sekali, kami hanya memberikan sertifikat pemateri dan sebungkus kue”.

Menurutku itu tidak sebanding dengan apa yang telah dikeluarkan Pak Sunjoyo, apalagi ongkos pulang pergi Tasikmalaya-Bandung dan kebutuhan lainnya. Manusia langkah yang jarang kutemui di zaman ini. Semoga niat ikhlasnya itu akan terbayarkan lebih oleh Sang Illahi. Sebagai mahasiswa dan sebagai manusia zaman now masihkah kita memiliki niat tersebut? Apakah sebuah hubungan hanya diukur sebagai hubungan untung rugi saja?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya