Menyenangkan dan Membuat Tersenyum Sesama itu Memang Tidak Mudah, Percaya Saja Bahwa Niat Baik Selalu Ada Jalannya

Tidak usah pedulikan kata orang, yang terpenting niat kita untuk berbuat kebaikan kepada sesama


Amemangun Karyenak Tyasing Sasama 


Advertisement

Artinya 'berbuat untuk menyenangkan hati sesama atau manusia', merupakan satu kalimat penggalan dari bait pupuh Sinom Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV yang cukup berarti dan mengena di hati saya. Kalimat ini saya temukan ketika kuliah Sastra Jawa di salah satu Universitas Negeri ternama di Indonesia. Pertama kali saya membaca Serat Wedhatama adalah untuk keperluan tugas Susastra. Sebenarnya banyak kalimat-kalimat yang dapat dijadikan pembelajaran hidup, mengingat Serat Wedhatama itu sendiri memang memuat banyak pitutur-pitutur dan ajaran-ajaran berbudi luhur dalam kehidupan dengan Tuhan dan sesama manusia.


Jangan Sampai Kuliah Mengganggu Hobimu


Semasa kuliah, kalimat ini saya jadikan pegangan ketika melaksanakan kegiatan dan menjadi salah satu faktor yang membentuk karakter serta kepribadian saya. Misalnya, beberapa teman di kampus meminta pertolongan saya untuk membantu dalam pelaksanaan sebuah acara, baik itu di level jurusan, fakultas, atau universitas, dengan senang hati saya membantu mereka, ya..dengan anggapan ini bisa jadi pengalaman saya, dapat menambah pertemanan, dan yang terpenting bisa membuat senang banyak orang.

Advertisement

Terkadang sifat saya ini sering dimanfaatkan oleh teman-teman saya, jika ada keperluan yang bersifat birokrasi, mengerjakan tugas, organisasi, saya sebisa mungkin akan melaksanakannya. Meskipun, mungkin sebagian orang mengatakan bahwa saya ini hanya dijadikan pesuruh saja atau terkesan dikorbankan, namun menurut saya ini merupakan kesempatan bagi saya untuk menyenangkan orang dan terlebih menjadi pengalaman hidup yang mungkin kelak bisa saya ceritakan kembali kepada orang-orang terdekat saya, minimal untuk istri dan keturunan saya.

Pernah suatu ketika, saya sebenarnya ada masalah pribadi yang membuat saya malas untuk berkuliah dan berurusan segala macam organisasi kampus. Namun, tetap saja di hati ini terkadang muncul 'bagaimana kalau acaranya gagal', 'bagaimana kalau acaranya tidak jadi jalan', gimana kalau dll..dll pikiran itu sedikit mengganggu saya. Lalu saya kembali mengingat dan mencoba untuk menguatkan diri sendiri 'ah..gini doang, bisa lah, yuk pecahin masalahnya satu-satu.. pasti aja jalan..pasti bisa..niat kita kan membantu orang.. Gusti Allah mesti paring dalan' begitulah kira-kira yang saya gumamkan ketika menghadapi hal tersebut.

Advertisement


Duit itu nggak ada temannya


Berlanjut ke dunia kerja, ternyata memang pengalaman-pengalaman semasa kuliah tersebut membantu saya dalam menghadapi betapa kejam dan kerasnya dunia kerja. Pengalaman tidak mengenakkan itu menghampiri saya ketika baru masuk ke dunia kerja. Niat hati membantu menyelesaikan tugas teman, ternyata hal tersebut malah berbuntut saya dimusuhi oleh beberapa teman kerja yang memang mereka adalah satu geng tongkrongan. Di tempat kerja tersebut memang selain gaji pokok, kita mendapatkan insentif setiap bulannya. Namun demikian, saya tidak mengetahui dasar perhitungan besarnya insentif itu diambil.

Seperti biasa, ketika jam 10 malam keatas, pekerjaan mulai banyak datang dan tugas kita hanyalah melakukan approval serta upload video. File mulai banyak yang datang, teman shift malam juga sudah datang, waktunya saya mengerjakan tugas tersebut dengan maksud agar shift malam tidak terlalu banyak pekerjaan dan bagian tugas saya bisa selesai lebih cepat. Pekerjaan yang ada saya kerjakan dengan akun saya, dan teman saya memilih untuk pergi dari ruangan dan mengajak nongkrong teman shift malam yang baru datang tersebut.

Nah, di sinilah awal kejadian tidak mengenakkan itu dimulai, keesokan harinya ketika saya melakukan approval dan upload selalu digagalkan, file yang seharusnya itu tugas saya tertulis telah di-upload oleh teman saya, padahal saat itu si pemilik akun tidak ada di ruangan, dan yang ada memang temen-temen satu tongkrongannya.


Banyakin Nongkrong, Kerja Sedikit, tapi Bonus Tetep Banyak


Di sini saya mulai curiga dan bersabar, sampai waktu mau pulang dan pekerjaan yang menjadi tugas saya belum selesai karena gagal, disitu saya mulai kesal dan menegur teman saya. Disitu ketegangan terjadi dan saya merasa telah dicurangi bukan oleh satu orang saja, tetapi satu geng mereka.

Saya dituduh terlalu maruk dalam mengerjakan tugas, padahal menurut saya itu memang tugas yang seharusnya saya kerjakan dan memang hak saya mengerjakan itu ketika berada di ruangan. Saya sempat tidak terima dengan klaim sepihak tersebut, dan bertanya-tanya, 'memang salah saya dimana?' Ternyata upload dan approval merupakan indikator dasar besarnya insentif yang diterima oleh setiap karyawan di divisi saya, dan salah satu teman saya beranggapan saya terlalu maruk dalam mengerjakan tugas sehingga insentif teman saya lebih sedikit daripada saya.

Dalam hati 'oh..ini yang menyebabkan saya dikucilkan dan dikerjai saat kerja,' padahal menurut saya pekerjaan yang datang itu memang seharusnya langsung dikerjakan, dan hak saya mengerjakan tugas itu dengan akun saya sendiri sedangkan dia dan teman satu tongkrongannya asik memilih untuk ngopi dan ngerokok saat pekerjaan tersebut datang.

Menyenangkan hati manusia memanglah tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Kadang perbuatan baik kita dipandang sebelah mata atau dianggap jelek dan tidak sesuai dengan harapan orang lain. Tetapi itu tidak masalah, yang terpenting apa yang saya niat dan lakukan semata-mata memang berbuat untuk menyenangkan orang lain meskipun hanya segelintir yang merasakan dan mengapresiasinya, hal tersebut cukup buat saya.(RAP)

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

suka baca dan belajar menulis

CLOSE