Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata ‘merdeka’? Mungkin sebagian besar darimu setuju bahwa merdeka adalah bebas dari segala belenggu, sehingga dapat merasakan kebebasan dalam menikmati hak hidup dengan sebaik-baiknya.

Namun, sangat disayangkan karena walaupun negara kita dikatakan telah ‘merdeka’, nyatanya hingga saat ini masih banyak orang yang tidak merasakan kemerdekaan. Salah satunya yakni mengalami fat shaming.

Advertisement

Tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam keseharian sebagian besar masyarakat kita, terdapat kebiasaan yang disebut fat shaming, yaitu memberikan komentar tak pantas, tak diinginkan, atau tak diminta terhadap orang-orang dengan berat badan (yang bisanya) lebih besar (gemuk). Orang dengan badan gemuk dianggap tidak menarik bahkan tidak patut dicintai. Mereka juga kerap dicap sebagai orang yang rakus, tidak cantik, akan susah punya anak, bahkan kelainan.

Fat shaming sering dianggap wajar, tidak perlu dianggap serius, bahkan sering dianggap lelucon. Entah itu karena peduli, bercanda, iri, atau hanya basa-basi, sesungguhnya tidak ada alasan apapun yang membenarkanya, karena bisa saja berdampak buruk bagi orang yang dijadikan sasarannya. Bukannya terhibur dan termotivasi, sang objek lelucon, bisa saja merasa dipermalukan dan dihina.

Fenomena fat shaming mengartikulasikan bahwa publik seolah mengklaim tubuh kita sebagai objek milik bersama, yang bebas dihujani komentar. Dengan demikian, untuk menghindari sederet hujatan dari masyarakat, kita kerap melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi standar penampilan dan kecantikan ideal yang dibuat oleh publik, walaupun sebenarnya, dengan usaha sekeras apapun, kita memang tidak akan pernah bisa ‘memuaskan’ mereka.

Advertisement

Dari sisi korban, sulit rasanya untuk mengabaikan hujatan-hujatan menyakitkan yang sering dilontarkan. Untuk menghindari fat shaming, banyak orang yang melakukan hal-hal berbahaya, seperti melakukan diet paksa, mogok makan, mengonsumsi obat kimia berbahaya, dan lain-lain.

Hal tersebut dialami oleh banyak orang di dunia, salah satunya penyanyi Demi Lovato yang mengalami fat shaming sejak usia tujuh tahun karena tubuhnya yang gempal. Karena hal tersebut, ia kemudian mengalami eating disorder, tindakan menyakiti diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri, kemudian baru bisa pulih setelah menjalani rehabilitasi sejak Januari 2011.

Apakah kamu juga korban fat shaming? Indikasi fat shaming bisa diidentifikasi dari hal-hal yang sering kita temukan bahkan lakukan dalam keseharian. Secara tidak sadar, fat shaming menimbulkan body image yaitu anggapan seseorang terhadap tubuhnya sendiri yang seringkali tidak sesuai kenyataan.

Keluhan-keluhan seperti: "Duh, aku gendutan", atau "Pipiku makin chubby ya?", seringkali dilontarkan karena kepercayaan diri yang terus terkikis, padahal jika ditimbang, berat badan sama sekali tidak bertambah. Lebih jauh lagi, kita juga bisa mengidap body dysmorphic disorder, yakni penyakit mental kronis di mana sang penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya.

Ada pepatah yang mengatakan: "Lisan lebih tajam dari pada pedang". Itulah sebabnya, fat shaming bisa menjadi hal yang sangat berbahaya. Luka akibat fat shaming tidak mudah diobati karena meraksuk ke dalam pikiran dan jiwa sang korban. Jika mengalaminya secara berulang, sesorang bisa depresi hingga melakukan bunuh diri.

Selain itu, fat shaming sebagai verbal bullying (lisan atau tulisan), merupakan jenis bullying yang paling sering terjadi, dan biasanya mengawali jenis bullying lainnya, seperti kekerasan fisik.

Kita harus sadar bahwa secara genetik, metabolisme tubuh seseorang akan berbeda-beda. Selama sehat dan tidak bermasalah, kenapa harus dipermasalahkan? Lalu, kenapa kita harus melakukan sesuatu yang bukan berlandaskan pada keinginan pribadi? Apakah gemuk adalah suatu hal yang buruk?

Gemuk bukan berarti buruk. Hal tersebut salah satunya diamini oleh penyanyi Tulus melalui lagunya yang berjudul ‘Gajah’. Lagu yang dirilis tahun 2014 tersebut melejit, dengan membawa cerita masa kecilnya yang sering diejek sebagai ‘gajah’ karena bertubuh tinggi besar. Pengalaman tersebut menorehkan luka di dalam dirinya, hingga kemudian ia bisa mengobatinya dengan melihat sisi positif dari ejekan tersebut.

Tulus berpikir bahwa tubuh gajah yang besar, bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan dan disesali, justru harus disadari bahwa gajah memiliki berbagai macam sisi positif, diantaranya kuat, pintar, solid, setia, dan berumur panjang.

Tidak mudah mengubah kebiasaan buruk masyarakat, tidak mudah mengobati dan mengembalikan kepercayaan diri para korban. Namun, tidak ada kata terlambat untuk menciptakan kehidupan yang lebih terbuka, dimana setiap orang bisa hidup dengan menjadi dirinya sendiri.

Apalah arti Bhineka Tunggal Ika jika dunia dibuat seragam. Kamu tidak salah, kamu tidak aneh, kamu itu unik. Unik itu istimewa, unik itu kekuatan kita. Malahan, keunikan kita mungkin saja menginspirasi orang lain. Saatnya percaya diri, jangan ‘bersembunyi’ lagi. Merdeka!

If You Are Always Trying To Be Normal, You Will Never Know How Amazing You Can Be.

–Maya Angelo

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya