Setelah beribu-ribu keraguan, banyak dugaan yang mengarah padamu, jutaan pertanyaan bahkan miliaran waktu yang kuhabiskan hanya untuk menerka apa rasa ini kau rasa, dan sebelum harapan padamu semakin menggila, pada akhirnya aku memilih karena sebelumnya aku ada di antara keadaan yang sulit. Logika dan emosi yang tak berjalan beriringan saat kamu terus melakukan apa yang kuanggap istimewa tetapi biasa untuk kamu. Pada akhirnya aku memilih, pergi.

Memilih pergi. Membalut rasa dengan doa yang walau hingga kini tiada henti kubisikkan selalu pada tanah yang kuharap saat kulakukan itu tepat bersamaan ketika angin lewat, hingga dia mau dengan senang hati membawanya ke langit. Mencari malaikat yang baik di mana ketika saatnya tepat dengan izin-Nya untuk mewujudkan harapan.

Advertisement

Aku diujung batas. Batas di antara penantian dan kekuatan menyimpan lagi asa. Semakin aku lari dan mencari pelarian, dengan jahat justru rasa ini tak tertahankan. Entah waktu atau nasib yang mempermainkanku. Semakin aku tersenyum, malah semakin ada yang menusuk hati, perlahan masuk seinci.

Seperti dikeramain tetapi buta arah. Saat diiyakan buta arah, aku punya peta. Tapi entah kenapa aku sulit mencari jalan tanpa mau membaca peta. Saat itu adalah saat di mana aku tahu jawaban, tapi menolak merefleksikan dalam kenyataan.

Aku memang bodoh. Berkali-kali memperjuangkan apa yang tidak perlu untuk diusahakan, berkali-kali mencari pemahaman sendiri seolah belum berani mengiyakan bahwa nyata kadang tak sesuai harapan, karena untuk sekarang jawabannya hampa.

Advertisement

Menyerah. Aku menyerah. Cukup dan usai sudah. Mari kita akhiri semuanya. Terlambat memang iya, tapi itu lebih baik untuk hati yang lebih tenangkan? Berkali- kali aku ingin kabur, lari dan mencari pelarian terbaik yang hingga saat ini aku belum menemukannya. Tapi kini ku tahu, alasan terbaik mengapa pelarianku tersembunyi dengan baik, itu karena logika dan emosiku yang tak seirama. Berharap kamu mengerti tetapi sisi lain diriku sudah lelah mengerti diri sendiri.

Rumit. Aku tahu dan sangat kusesalkan karena akulah penyebabnya. Membiarkan rasa ini tumbuh menjalar dan mengokohkan akarnya sehingga akan sangat pedih jika terkoyak. Kini kutahu, menebas adalah yang terbaik. Sebab aku sendiri ragu, jika ini tak ditebas, apakah rasa yang tak pernah tersampaikan ini akan membuahkan sesuatu atau menjadi benalu untuk yang lain?

Jika seandainya rasa ini tak kutebas dan menjadi buah, aku pun tak tahu, apa buah itu bermanfaat atau tidak, atau jangan-jangan buah itu seperti buah simalakama yang semua orang pun taHu dan tak ingin memakannya. Aku memang pengecut! Aku tahu itu. Tapi keputusanku sudah bulat, rasa ini harus selesai, meski tak tersampaikan padamu, setidaknya kusudah sampaikan pada yang memilikimu, kalau aku jatuh cinta.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya