Pernahkan kau jatuh cinta sebegitu lamanya? Namun semesta seperti memberikan tanda bahwa sebaiknya kalian tidak bersama. Ini kisahku. Seorang wanita yang mencintai lelaki 8 tahun lamanya. Kisah yang berujung pada pahit kenyataan bahwa dia tidak memiliki rasa yang sama.

Lelaki itu adalah temanku semasa SMA. Aku mencintainya sejak di bangku kelas XI. Jika ditanya apa hal pertama yang membuatku jatuh cinta, sepertinya aku tidak kesulitan untuk menjawabnya. Secara fisik dia biasa saja. Namun dia memiliki akhlak yang baik yang menarik banyak orang untuk berteman padanya. Dia juga diberi banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan leadershipnya. Menjadi ketua kelas, pemimpin dewan ambalan, dan ketua organisasi keagamaan di sekolah adalah saksinya.

Advertisement

Meskipun semasa SMA aku mencintainya, tapi aku tidak ingin melihatnya. Aku blockir akun sosial media dan nomor hp nya. Aku tidak ingin fokus jatuh cinta. Aku ingin fokus belajar menghadapi ujian masuk PTN. Namun mau menghindar bagaimanapun, kita tetap berada di sekolah yang sama. Tiada hari tanpa kami tidak bertemu. 

Selepas lulus SMA, aku berdoa pada Tuhan agar dimudahkan menghilangkan benih cinta. Waktu berlalu. Kami hampir tidak pernah bertemu. Meskipun kami diterima di kampus yang sama, namun jarak fakultas dan intensitas berinteraksi yang jauh berkurang dapat memperbesar peluang untuk menghapus rasa yang pernah ada.

Ya. Dalam perjalanan waktuku, aku pernah berpaling dan mengagumi sosok yang lain. Namun sebentar kemudian rasaku selalu kembali padanya. Terlebih jika secara tidak sengaja kami bertemu di perpustakaan atau bertemu di acara kealumnian SMA. Degup jantungku berdebar lagi, membuncahkan rasa yang telah terdormansi. Dan keadaan seperti ini selalu terulang. Membuat lingkaran setan yang seharusnya segera aku putuskan.

Advertisement

Waktu bergulir. Selepas wisuda aku bekerja di luar kota. Akupun berharap untuk bisa melupakannya. Namun kenyataannya tidak. Rasa itu tetaplah sama. Suatu hari aku merenung, mempertanyakan apa yang terbaik untuk hati ini. Apa obat untuk mengakhiri penderitaan ini. Akhirnya kuputuskan, untukku membuang ego, memberanikan diri mengungkapkan rasa yang terpendam terlalu lama. Terlebih lagi aku wanita. Menyatakan rasa kepada lelaki adalah hal yang tabu menurut kebiasaan dan norma .

Mencintainya adalah siksa bagiku. Karena aku berprinsip tidak ingin mencintai seseorang yang bukan suamiku. Tapi memiliki perasaan ini pun sebenarnya aku tak mau. Aku tidak pernah meminta Tuhan untuk memberikannya. Namun kenyataannya, rasa ini begitu betah di hati. Terpendam hingga waktu tidak menyadari bahwa sudah terlalu lama aku menyiksa diri.

4 Februari kami berjanji untuk bertemu. Aku menyatakan rasa berharap selesailah siksa yang sudah sewindu kurasa. Jika dia memiliki perasaan yang sama, biarlah lunas segala derita. Namun jika tidak, biarlah aku berhenti menoleh ke arahnya, dan menyambut masa depan baru tanpa mempertanyakan tentang hatinya.

Namun di malam itu, dia tidak memberikan muara jawaban, yang semakin membuatku sakit-sakitan. Dia menyuruhku menunggu hingga bulan Juli hanya untuk memberi jawaban ya/tidak. Dua minggu berjalan, aku masih tidak bisa sedetikpun untuk tidak mempertanyakan bagaimana perasaannya terhadapku. Pikiranku macam-macam, hingga datang pertanyaan yang melukai jiwa "Apakah sebegitu hina dan buruknya aku? Apakah aku tidak patut dan layak untuk dicintai?"

Akhirnya kukirim pesan singkat yang intinya menyuruhnya segera memberi jawaban agar tidak lebih lama lagi aku terluka sembari menyuburkan harapan. Dia membalas untukku menunggu 1 minggu lagi karena dia ingin mempertimbangkan dengan matang. Memilih pasangan hidup tidaklah main-main katanya.

Tidakkah dia kira, wanita itu lembut hatinya. Menyuruhnya menunggu sama saja sedang  perlahan-lahan membunuhnya. Aku juga tidak menyangka, beban hati yang menyesakkan dada selama tiga minggu ini berpengaruh ke kesehatan juga. Selama tiga hari aku mimisan dan siklus bulananpun dua minggu lebih cepat dari biasanya.

23 Februari. Akhirnya dia memberikan jawaban. Terhadapku, dia tidak memiliki rasa yang sama. Hati yang kecewa pasti ada. Namun rasa lega yang kutunggu akhirnya kurasa. Jawaban hati yang bertahun-tahun kupertanyakan kini sudah bermuara. Tak perlu lagi ku menunggunya, selesai sudah ruang di hati ini untuknya. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya