Semakin banyak kita menonton televisi, maka semakin banyak pula hal hal yang kita lihat bertentangan dengan ilmu fisika. pernah kah kalian diajarkan disekolah atau ditempat kuliah. bahwa benda padat itu tidak bisa ditembus tanpa merusak benda aslinya? nah sekarang coba kalian lihat mentalist-mentalist dalam dunia magic, mereka bisa menembus benda padat dengan tangan mereka tanpa merusak keadaan benda tersebut. ini beru salah satunya, masih banyak lagi yang lainnya…

Angelina Jolie dalam film Wanted (2008) dapat menembakan peluru pistolnya menempuh lintasan melengkung, mirip lintasan peluru meriam yang berbentuk parabola secara vertikal, akan tetapi dalam hal ini lintasan peluru pistolnya melengkung secara horisontal. Apa yang salah di sana? Bagi yang telah belajar fisika tentu akan muncul banyak pertanyaan akan tetapi bagi yang tidak, hal ini cukup menarik sekedar sebagai hiburan.

Mungkin suatu saat film tersebut akan masuk dalam daftar yang dicakup oleh buku dengan judul Insultingly Stupid Movie Physics: Hollywood’s Best Mistakes, Goofs and Flat-Out Destructions of the Basic Laws of the Universe karangan Tom Rogers (Sourcebooks Hysteria, 2007), yang rasanya tidak perlu dijelaskan kira-kira apa isinya, yang telah cukup jelas tercermin dari judul buku tersebut.

Film Wanted tersebut adalah salah satu contoh sumber miskonsepsi dalam bidang fisika. Lalu apa sebenarnya miskonsepsi itu sendiri?

Miskonsepsi adalah suatu konsep yang dipercaya orang walaupun konsep tersebut salah (Wikipedia, 2008), baik berupa ide atau pemikiran yang salah (Wiktionary, 2008), ataupun hanya berwujud pendapat yang salah (Dictionary Die Net, 2008).

Advertisement

Miskonsepsi secara umum dapat dipandang sebagai bahaya laten karena dapat menghambat proses belajar akibat adanya logika yang salah dan timbulnya interferensi saat mempelajari konsep baru yang benar yang tidak cocok dengan konsep lama yang salah yang telah diterima dan mengendap dalam pemikiran (Muller dan Sharma, 2007).

Disebut bahaya laten karena keberadaannya secara umum tidak terdekteksi saat tidak mendapat tantangan konsep lain (Simanek, 2007). Secara umum miskonsepsi ini terdapat hampir pada setiap bidang sains, seperti fisika (Clement, 1987; Gilbert et. al, 1982; Mohapatra, 1988), biologi ( Marek et. al, 1994), kimia (Pendley dan Brets, 1994), dan astronomi (Comins, 1994; Wandersee, Mintzes, dan Novak, 1994).

Adanya miskonsepsi dalam berbagai bidang ini telah lama disadari dan telah menjadi inti riset-riset empiris sains pembelajaran selama 20 tahun terakhir ini (Gönen dan kocakaya, 2006) sehingga telah banyak muncul tulisan-tulisan ilmiah mengenainya (Brna, 2008).

Munculnya miskonsepsi yang paling banyak adalah bukan selama proses belajar mengajar melainkan sebelum proses belajar mengajar dimulai, yaitu pada konsep awal yang telah dibawa siswa sebelum ia memasuki proses tersebut atau yang disebut sebagai prekonsepsi (Celement, 1987).

Prekonsepsi ini bersumber dari pikiran siswa sendiri atas pemahamannya yang masih terbatas pada alam sekitarnya atau sumber-sumber lain yang dianggapnya lebih tahu akan tetapi tidak dapat dipertanggugjawabkan kebenarannya. Sumber-sumber prakonsepsi ini misalnya adalah film-film bertemakan teknologi, acara-acara fiksi-sains yang tidak tertata rapi, dan bahan-bahan bacaan.

Demi melihat ini, untuk mengatasi miskonsepsi yang ada haruslah sumber dari prekonsepsi tersebut digali dan dicermati. Dengan demikian konflik yang muncul dapat diminimalkan sekecil mungkin. Karena bagaimanapun juga pertentangan akan memakan waktu dan energi, yang ingin dihindari saat pelurusan konsep salah yang telah ada dan dipercaya.

Untuk bidang fisika, terdapat strategi sukses implementasi pendekatan konseptual untuk membenahi miskonsepsi yang ada, yaitu melalui langkah-langkah: a) kenali prekonsepsi yang ada, b) uji miskonsepsi siswa lewat demo atau pertanyaan, c) ajak siswa untuk menjelaskan konsep yang mereka pahami atau percaya, d) pertentangkan miskonsepsi yang mereka punya dengan konsep-konsep lain yang benar yang telah mereka percaya pula, e) bujuk siswa untuk mengubah miskonsepsi mereka, f) evaluasi pengertian baru siswa lewat pertanyaan konsep, dan g) dorong terjadinya diskusi agar siswa menerapkan konsep-konsep fisika dalam alasan mereka.

Dan hal yang perlu ditekankah adalah bahwa konsep-konsep yang ada haruslah konsisten. Dengan landasan ini siswa dapat dengan sendirinya memeriksa kumpulan konsep yang telah mereka percaya dan bisa memilah-milahnya mana yang sinergis dan mana yang tidak. Di sini peran pengajar amat penting untuk mengarahkan pertumbuhan konsep-konsep yang sinergis dan konsisten.

Miskonsepsi dalam bidang fisika dapat diubah melalui pertanyaan, eksperimen (dengan catatan bahwa hukum alam selalu benar), dan situasi hipotetis tanpa didasari hukum fisika yang kemudian akan diuji melalui eksperimen atau demonstrasi.

Sedapat mungkin proses pembuktian tidak menggunakan perangkat matematika yang rumit, yang kadang belum didapat oleh siswa. Jangan memaksakan siswa untuk menerima konsep yang lebih dasar akan tetapi dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi.

Ini akan membuat siswa terlalu cepat matang, dan apabila abstraksinya belum cukup, pemaksaan konsep yang lebih abstrak akan melahirkan miskonsepsi baru yang pada saat itu belum disadari. Artinya miskonsepsi lama akan menjadi benar, akan tetapi muncul miskonsepsi baru yang tidak disadari.

Terkait dengan hal tersebut para pengajar, dalam hal ini guru dan dosen, perlu menyadari adanya hal ini sehingga proses belajar mengajar yang berlangsung dapat mengakomodasi adanya miskonsepsi. Khusus untuk di Indonesia belumlah cukup banyak riset mengenai hal ini, akan tetapi sudah mulai muncul.

Saat ini telah dikembangkan pula riset tindakan dalam kelas yang dilakukan oleh guru sendiri, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran proses belajar mengajar terkait dengan pembenahan miskonsepsi dalam fisika (Suparno, 2005).

Untuk itu pula FMIPA ITB melalui dua buah pelatihan, yaitu Pelatihan Guru-guru SMU (Medco Foundation) pada 2-6 Juli 2008 dan Lokakarya Pembina Olimpiade Sains pada 16-17 Juli 2008, yang diselenggaran di Basic Science Center A, menitipkan materi-materi terkait miskonsepsi ini. Dengan maksud agar wacana ini dapat disadari eksistensinya oleh guru sebagai ujung tombak pengajaran dan pendidikan di Indonesia.

Sebagai penutup, marilah kita kembali ke peluru pistol Angelina Jolie yang dapat melengkung secara horisontal dalam film Wanted, yang mengawali tulisan ini. Sebuah benda yang jumlah gaya-gayanya nol hanya akan dapat bergerak lurus beraturan atau diam. Dalam hal ini, peluru pistol bergerak melengkung, maka sesuai dengan hukum pertama Newton tersebut harus ada gaya yang menyebabkan peluru berbelok.

Pada peluru meriam yang melengkung ke bawah, gaya berat peluru tersebutlah yang menyebabkan ia melengkung. Lalu pada peluru yang ditembakkan oleh Angelina Jolie gaya apakah? Bila adegan tersebut diulang perlahan, dapat dilihat bahwa sang sutradara ingin menekankan bahwa lengkungan jalur peluru yang terjadi disebabkan oleh cara menembakkannya yang memiringkan serta sedikit mengayunkan pistol sedemikian rupa sehingga mempengaruhi arah jalannya peluru.

Terdapat kesalahan konsep di sini, yaitu bahwa pengaruh tersebut hanya berlaku pada awal peluru ditembakkan dan keluar dari moncong pistol. Saat peluru sudah terbang bebas di udara, gaya yang diberikan oleh tangan yang menggenggam pistol sudah tidak lagi berlaku. Jadi peluru harusnya terbang lurus, karena tidak ada gaya yang berfungsi untuk membelokkan peluru.

Jadi seperti di tuliskan dalam sebuah halaman web (http://www.intuitor.com/moviephysics/), bila kita peduli dan kuatir akan penyebaran prekonsepsi fisika yang salah, mungkin perlu diusulkan adanya rating film-film terkait dengan konsep-konsep fisika yang digunakan.

Mau tidak mau, konsep-konsep tersebut akan membekas pada yang menontonnya, dan pada suatu saat akan menjadi bahaya laten apabila konsep yang disajikan jelas-jelas keliru. Jadi tidak hanya kekerasan dan seks yang perlu disensor dalam sebuah film, pada saatnya mungkin konsep-konsep sains yang ada perlu juga diperhatikan bahayanya.