Aku sudah sering terluka oleh cinta, entah berapa kali. Sampai-sampai aku sudah lupa rasanya terluka atau aku memang sudah terbiasa terluka. Entahlah, luka itu kadang lebih sakit dari kerikil-kerikil tajam di gunung sahara dan bahkan kadang aku harus rela menerimanya seperti daun yang gugur.

Kadang aku bertanya dalam hatiku. Kenapa Tuhan selalu mempertemukan aku dengan orang yang tidak tepat? Aku tidak menyalahkan-Nya, pun aku tidak menyalahkanmu yang sudah memasuki ruang hatiku tanpa izin. Kamu yang datang tak kuduga, di saat hati ini sedang kosong. Kamu berhasil membuatku jatuh cinta dengan segala pesonamu. Tapi kenapa kamu pergi begitu cepat?

Advertisement


Kata mereka para pujangga, cinta itu lahir dari perbedaan yang akhirnya hidup dan tumbuh bersama untuk saling mengisi perbedaan satu sama lain.


Tapi ini tentang perbedaan iman di antara kita. Aku bersujud kepada Tuhanku dan memohon semua keinginanku melalui doa-doa yang kupanjatkan di atas sejadahku. Dan kamu pun melipat tangan untuk berdoa kepada Tuhanmu di iringi dengan nyanyian rohani. Bukankah kita berdoa pada tuhan masing-masing dengan tujuan yang sama.


Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (Q.S. al-Kafirun: 6).


Advertisement

Entahlah, kadang perbedaan itu memang indah dan kadang juga sungguh menyakitkan. Hanya saja aku percaya apapun yang terjadi didalam takdir hidupku, pasti semuanya mempunyai porsi yang bisa mendewasakanku. Aku harap kamu juga begitu.

Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita, walaupun kita tidak bisa bersama. Aku tetap bahagia, karena Tuhan telah mengizinkanku indahnya mencintai dalam perbedaan meski akhirnya tidak untuk di persatukan

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya