Pertama kali, aku melihatnya tepat di bawah sinar matahari yang teduh seperti ini. Dengan rambutnya yang terikat di lekukan lehernya. Beberapa rambut terjuntai lepas di sebelah kanan dan kiri keningnya, jatuh menyapu pinggir-pinggir kacamatanya. Jari-jari tangannya memegang sebuah buku. Matanya tertuju serius membaca tulisan-tulisan yang tertuang di buku tersebut.

Beberapa kali angin menerpa rambutnya. Saat itu juga, tangannya kembali membenarkan rambut ke sela belakang telinganya. Sesaat, ia menarik sweater panjang yang menutupi punggung tangannya. Semburat jinggat itu sesekali masuk meruak di bawah rindang pepohonan tempat ia duduk sekarang. Namun, ia tidak pernah mempermasalahkan kilauan sinar matahari sore itu. Aku sering melihatnya menghabiskan sore di taman ini di sela-sela waktu jogging.

Jika tidak ada lemburan kantor, aku suka memandangnya seperti hari itu. Ia tidak pernah menoleh ke arahku. Bahkan di saat aku berdiri memandangnya sambil meminum botol air minumanku. Matanya begitu sibuk membaca buku. Aku ingat saat pertama kali aku menyapanya. Melihat senyumnya dari dekat, melihat matanya di balik kacamata yang ia kenakan.

Saat ini, dia terlihat mendekati seorang penjual sosis dan kerupuk opak. Melihatnya bergerak, aku pun ikut mendekati penjual sosis dan kerupuk opak. Aku menyapanya. sengaja. Detik itu adalah detik di mana ia menjadi permataku. Gadisku yang sangat kuno. Kuno yang membuatku merasa baru untuk jaman sekarang. Ia senang menggenakan gaun sederhana dengan cardigannya. Gaunnya selalu bercorak walau kadang polos. Motifnya bunga, garis, polkadot. Dengan bandanya sekali-kali. Manis.

Ia sering menggenakan sepatu flat. Jika bisa, ia akan menggenakannya di semua acara. Ia memilih terlihat kecil di sebelahku agar bisa kupeluk. Dibanding terlihat jenjang menggunakan sepatu hak tingginya katanya. Ah, kamu. Gelakku. Rambutnya ikal yang tidak akan pernah ia luruskan, terurai membingkai wajahnya walaupun aku pernah menggodanya kenapa tidak mencoba untuk meluruskannya.

Advertisement

Dan kacamatanya walaupun lagi aku pernah menawarkannya menggunakan lensa kontak. Dengan gayanya, ia akan menggangkat wajahnya, mendekat dan tersenyum. Melontarkan semua pernyataannya ku yang membuatku jatuh cinta padanya. Karena dia menarik apa adanya.

Ia sering menyuratiku, menyisipkan kata-kata manis di saku kemejaku. Ia ahli dalam mengusir penatku sehabis perhelatan panjang dalam urusan kantorku. Ia ahli mengukir kejutan-kejutan kecil untukku, ahli dalam membuatku rindu. Seperti memasang foto kami berdua dengan bingkai kardus buatan tangannya di kamarku. Kadang, kami sibuk dalam urusan kami masing-masing walau kami dalam satu ruang tamu.

Dengan sopannya ia akan menawariku, teh atau jus, instrumental atau lagu biasa. Ia akan selalu bernyanyi dan mengajakku berdansa saat kami berdua. Setelah pulang pesta, saat kami berkebun, saat kami memasak makan malam, saat aku mengantarnya pulang di depan pintu rumahnya, saat kami terguyur oleh hujan sekalipun.

Ia tak suka keramaian. Ia sungguh jengah. Mending kutarik ia menyusuri lautan dan pantai. Menyeberangi jalan dengan sepeda. Mengajaknya berlari dideru raungan kemacetan. Ia lebih memilih menghabiskan malam dengan memburu DVD, menghabiskan popcorn, dan tertidur di bahuku. Daripada candle light dinner, ia lebih suka menyusuri jajanan sore, makan es krim, dan menggandeng tanganku.

Ia suka jogging, yoga di tepi pantai pagi-pagi buta. Menyambut matahari, katanya. Ia lebih memilih aktivitasnya, menemani ibunya belanja, dan menjadi vokalis untuk gitar ayahnya. Menghabiskan waktu bersenda gurau dengan kakak dan sahabatnya. Sibuk dengan urusan kantornya. Mengajari anak-anak bernyanyi, melihat-lipat kertas origami, menjahit kain-kain flanel. Ia terlebih memilihku, waktuku.

Kuhadiahi ia dengan panggilan Nona, dan ia akan lekas tersenyum menghambur ke pelukanku. Kuhadiahi ia dengan mengantarnya setangkai bunga, hampir setiap hari. Dan ia akan mencecarku dengan sayangnya. Kuhadiahi ia dengan mengajaknya ke tempat yang belum pernah ia tahu. Seperti sebuah bukit bintang, landasan helipad tempat ia bisa menikmati angin laut dan memandang puas bulan jingga di atas sana. Mengajaknya menyusuri hutan dengan taman bunga yang indah.

Sampai selalu kudengar "Bagaimana kau tahu tempat-tempat seperti ini?" ucapnya heran bercampur bahagia. Kuhadiahi ia keluargaku, tempat ia berbagi kasih dengan ibu dan ayahku. Lalu kuhadiahi ia diriku, waktuku. Seperti ini. Menghabiskan sore bersamaku.