Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Kemudian sesekali aku melempar senyum pada diriku yang ada disana. Entah apa benar yang berada disana atau sebenarnya yang nyata tak ada disini. Berminggu-minggu aku menjalani malam seperti siang dan pagi berubah menjadi malam. Teriakku "Apa susahnya Engkau melelapkanku?".

Gerutu dan gerutu terapal jelas dimulutku. Aku sangat kelelahan dengan waktu yang terbalik ini. Waktu yang membuat kesehatanku menurun. Waktu yang mendebarkan jantungku semakin cepat hingga tak ada satupun kegiatan hidup yang berguna yang bisa aku lakukan.

Mengapa aku sesulit ini terlelap. Ketika tiap bunyi dengkuran yang terdengar begitu membuat iri. Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Sepertinya dulu aku tidak begini. Seakan aku kuatir terhadap hari esok dan merasa bisa merubah satu jam perjalananku.

Aku mencemaskan rambutku yang lepek dan berminyak di tengah-tengah lingkungan sekitarku. Aku takut terhadap pandangan orang yang mengajakku berpergian dengan biaya besar, dan mengkhawatirkan kisah cintaku yang hanya hangat di awal perjumpaan.

"Apa Tuhan benar ada disana?" tanyaku.

Advertisement

Melihat rentetan kegagalanku dan rintihan rasa kecewaku. Mengetahui kekosongan hatiku yang berkelana bagaikan hantu, dan bertanya kembali apa sebaik-baiknya hidup telah aku lakukan?

Aku marah padaMU, meneriakkanMU keterlaluan dalam doaku. Kepada siapa kemudahan dan pertolongan akan aku minta, jika tidak datang daripadaMU. Hingga kesedihan menimbulkan ragu, dan ragu yang membangun acuh.

Ya aku mengacuhkanMU.Sampai aku tahu bahwa aku telah tersesat jauh.

Aku masuk ke dalam belantara kesalahan dan kekeliruan. Kehebatanku terhadap kegagalan yang Kau rancangkan membuat hatiku mengeras dan bersandar pada sisian lenganku. Tanpa diketahui kekosonganku semakin menjadi dan tak terperi. Aku bagaikan kematian dalam wujud kehidupan.

Kesendirian dalam semarak hingar bingar. Kepahitan yang sulit mengingat rasa manis. Aku seperti mencari sesuatu yang kufikir membuatku bisa merasa seperti orang-orang. Gembira dan bersukaria. Hingga yang kudapatkan hanyalah kumpulan pertanyaan.

Apa yang sudah aku perbuat?

Mengapa hatiku tak pernah puas?

Apa sebenarnya yang aku mau?

Yang tak tahu entah bagaimana Engkau mengetuk hatiku. Sayup suara damai nan lembut itu bersuara hangat di semesta. Memintaku berfikir apa yang telah terjadi selama ini. Siapa yang sebenarnya harus dipersalahkan dan siapa yang harusnya lantang berkata kecewa.

Tubuhku kaku. Air mataku merembes dengan begitu derasnya, sampai seluruh wajahku basah secara bersama. Aku malu Tuhan mempertanyakan KuasaMU? Aku malu Tuhan menghardikmu tanpa berfikir. Hingga lututku jatuh di dasar dengan kepala menunduk serta mengangguk dosa.

Kekosongan yang aku cari di dunia tak bertepi diisi dengan limpahan cinta dan pengampunan. Aku dipanggil untuk melepaskan beban kepahitanku dan menggantinya dengan tiket pulang yang tak pernah aku bayangkan.

Engkau Tuhan adalah tempat dimana kata maaf tak pernah hilang dalam rapalan doa.

Engkau Tuhan adalah bukti dimana aku jelas diinginkan.

Bercahaya hingga menyentuh sisi terdalamku. Padamu Tuhan aku pulang..