Bahkan sampai saat ini, tanpa kamu ketahui aku masih saja menunggumu. Laki-laki yang mungkin sudah tidak menganggapku ada di dalam kehidupannya. Laki-laki yang tidak pernah peduli denganku saat ini. Kamu. Iya kamu, masih saja menjadi sosok yang ingin aku masukkan kedalam setiap cerita kehidupanku, bahkan ketika kau kini telah melupakanku.

Aku di sini masih menantimu. Masih memandangmu dari balik punggungmu. Memandangmu dari kejauhan barangkali saja kamu akan membalikkan badan dan kembali menatapku.

Advertisement

Teman-temanku mengatakan aku bodoh masih saja mengharapkanmu, sedangkan kamu sudah tidak peduli denganku. Mereka mengatakan bahwa aku harus jatuh cinta lagi agar aku dapat move on. Sejujurnya mereka tak pernah benar-benar paham mengenai perasaanku. Bahkan semenjak kau memilih pergi, rasanya hatiku telah mati untuk mencari pengganti dirimu dan memilih untuk sendiri sambil menunggu dirimu kembali.

Ya, jika dipikir-pikir, aku seakan gila dan bodoh. Menanti ketidakpastian. Tetap mengirimkan pesan padahal pada akhirnya, aku tahu jika dirimu tidak akan membalasnya. Memikirkanmu yang tidak pernah memikirkanku lagi. Kamu seperti kabut di jalan dengan semua ketidakjelasan yang ada di depan. Entah aku akan selamat melalui kabut itu atau celaka yang aku dapatkan. Sebelum kau kembali keperantauan, kau seakan memberikan harapan bahwa kau akan kembali lagi, kita akan bersama lagi. Namun, semua seperti hanya harapan semu yang aku bangun dan kau rubuhkan begitu saja. Ini seperti hukuman berkepanjangan yang kau berikan.

Ingin aku katakan rindu namun, aku hanya dapat memejamkan mata, membayangkan semua kisah yang pernah kita rajut bersama. Membayangkan sosokmu yang membuat aku merasakan kenyamanan kala itu. Aku tau bahwa kepedihan ini aku yang membuatnya. Bahkan saat ini pun separuh diriku telah membenci diriku, menyalahkan semua kejadian yang membuat kita seperti ini. Hukumlah aku, tapi jangan acuhkan aku.

Advertisement

Jika kau menyuruhku untuk melupakanmu. Ingin. Ingin sekali aku bisa melupakanmu, namun hati berkata tidak bisa. Aku sedang bertarung dengan logika yang menyuruhku untuk “cukup memikirkanmu” dan hati yang selalu merindukanmu.

Semoga kelak rinduku dan penantianku akan terbalas dengan hasil yang baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya