Aku tuliskan surat ini untukmu karena kerinduan yang amat sangat. Dan ketika perasaan itu melanda, aku berusaha mengobatinya dengan menuliskan sesuatu, seakan aku sedang berbicara denganmu bertatap muka, dan kedua bola matamu yang indah itu, senyuman itu dapat kurengkuh. Mungkin ini cara yang aneh, namun dengan demikian, aku bisa melihatmu. Dan aku selalu melihatmu, ketika kau tersenyum, ketika kau berbicara, saat kau tertawa, atau saat kau terdiam dan matamu menatap jauh dan aku tersesat ketika kucoba mengikutinya. Aku hanya bisa menatapmu dalam diam, menikmati keindahan yang tersaji di hadapanku. Sungguh, aku ingin menghentikan waktu.


Advertisement


Namun, waktu tak bisa diajak bekerja sama. Ia angkuh, egois, keras kepala. Berlalu begitu saja tanpa perduli bahwa seseorang sedang jatuh cinta. Bagi waktu, cinta bukan apa-apa. Hanya secuil dari bagian kehidupan yang amat besar. Jadi, kenapa ia harus peduli?


Tapi kau yang jauh di sana, telah membawa pergi sebagian dari diriku. Aku terjatuh begitu dalam sehingga ketika bayanganmu sirna, kerinduan yang tertinggal justru menyiksa.

Aku tahu, hidup akan terus berjalan. Hal-hal baru bermunculan. Dan semua yang telah kita lalui baik atau buruk akan terlupakan. Masa depan pasti ada. Namun, di dalam ruang hati yang sunyi, namamu terpahat di sana. Terlelap dalam keabadian.

Advertisement

Sementara kota kecil ini, dimana semuanya bermula, tak akan pernah lagi sama. Aku mencarimu. Aku bepergian. Berharap akan menemukanmu di suatu tempat. Hanya kekecewaan yang kujumpai, melambai-lambai, membisikkan bahwa kau ada di sana, di sini dan di segala tempat, hingga tubuhku bergetar hebat dan kepedihan menyesakan dada. Meski aku tahu dimana harus mencarimu tapi tak bisa aku lakukan.

Mungkin aku akan selalu merindukanmu. Merindukan keberadaanmu di setiap hembusan angin di sore hari, dalam rinai hujan, atau kala mentari terbenam dan senja menyapa. Aku selalu merindukanmu, dimanapun kau berada, apapun yang kau pikirkan tentangku, aku tahu kau ada di sana dan semoga kau juga merindukanku meski hanya secuil.


Sedihnya, meski kita menyusuri jalan yang sama dan duduk di ruangan yang sama, namun jalan kita berbeda. Setiap kali aku berusaha meraihmu, kau menghilang. Hal itu menghancurkan hatiku.


Apakah kita telah melakukan kesalahan yang seharusnya tak dilakukan? Atau memaksakan yang tak bisa dipaksakan? Bukankah cinta itu hak semua manusia, siapa saja, tanpa membedakan ras dan agama?

Mungkin saja aku yang bernasib sial. Terlambat. Menginginkan sesuatu yang tak mungkin diraih. Tapi hanya dengan mengingatmu, aku merasa kehidupan kembali tersenyum. Kau tahu, senyumannya tak mampu mengalahkan senyummu. Kuharap kau ada di sana. Dan kutuliskan surat ini untukmu, pemilik mata terindah dan senyuman termanis di planet ini. Kuharap kita akan berjumpa lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya