Pandemi Covid-19 telah menghebohkan sebagian besar masyarakat di belahan dunia karena penyebaran virusnya yang semakin hari semakin meluas, tidak dapat dihindari, virus tersebut juga menyebar dengan cepat di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia atau yang disingkat dengan MUI tidak lama setelah merebaknya virus Covid-19 di Indonesia, telah mengeluarkan fatwa mengenai tata cara pelaksanaan ibadah selama masa wabah Covid-19 sebagai salah satu bentuk upaya melindungi umat agar terhindar dari bahaya virus tersebut. Namun, masih banyak masyarakat yang tidak menaatinya dan tetap menjalankan ibadahnya seperti biasa. Bahkan ada sebagian orang yang mengaitkan permasalahan ini ke dalam urusan teologi mengenai adanya takdir baik dan takdir buruk.
Orang-orang yang mengabaikan fatwa MUI biasanya bersikeras melakukan kegiatan keagamaan di masjid, seperti sholat berjamaah, shalat Jum’at berjamaah, ataupun sekadar pengajian majelis taklim. Hal tersebut cukup dipengaruhi oleh pandangan teologi Jabariyah. Apa sih Jabariyah itu? Jabariyah adalah salah satu aliran teologi yang beranggapan bahwa manusia terpaksa dan tidak punya kehendak dalam segala tindakan dan perbuatannya, segenap tindakan dan perbuatannya itu pada dasarnya sudah ditetapkan sedemikian rupa oleh Allah SWT sejak zaman azali. Sehingga dalam pandangan mereka tidak mungkin segala sesuatu terjadi di alam semesta sampai hari ini, kecuali telah direncanakan oleh-Nya.
Orang-orang dengan pemikiran Jabariyah cenderung menolak berbuat kebaikan dan abai terhadap peraturan yang ada dikarenakan mereka menganggap bahwa kejahatan merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Seperti yang terjadi dalam kondisi saat ini yaitu pandemi Covid-19, sikap masyarakat dengan pemikiran Jabariyah menjadi sebuah polemik.Â
Penafsiran secara harfiah terhadap ajaran agama tercermin dalam sikap mereka yang enggan mematuhi perintah untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah di masjid sementara waktu sebagai bentuk alasan bahwa mereka takut virus Corona menghalangi mereka untuk memenuhi seruan ibadah secara berjamaah di masjid.
Padahal ajaran Islam pun mengajarkan bagaimana mencari solusi apabila terdapat dua urusan yang saling berbenturan. Antara menghindari perkara yang merugikan dan mencari kemaslahatan, maka yang harus didahulukan adalah upaya menghindari perkara yang merugikan tersebut daripada mencari kemaslahatan.
Kelompok Jabariyah dalam menyikapi pandemi Covid-19 cenderung bersikap santai bahkan tidak peduli, sehingga peraturan dari pemerintah, MUI, dan ormas-ormas terkait ketentuan protokol kesehatan yang selalu dicanangkan, seperti memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas tidak akan mereka turuti dengan alasan tidak takut terhadap virus corona dan satu-satunya yang patut mereka takuti serta dipatuhi hanyalah Allah SWT.
Kelompok orang-orang yang dipengaruhi oleh paham teologi Jabariyah justru menunjukkan perilaku yang tidak menguntungkan dalam menanggulangi pandemi ini. Berkumpulnya orang-orang dalam perayaan acara keagamaan justru dapat menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Hal tersebut tentu menimbulkan kekhawatiran masyarakat akan meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia.Â
Wacana yang dikatakan kaum Jabariyah bahwa yang perlu ditakuti hanyalah Allah SWT dan tidak perlu takut kepada virus Corona karena virus Corona hanyalah salah satu makhluk Allah menunjukkan kenaifan mereka atas risiko tingginya tingkat kematian dan kesakitan dari pandemi Covid-19 ini jika tidak disertai upaya-upaya pencegahan secara masif.Â
Bahwasannya takut kepada Allah dan takut kepada makhluk Allah adalah dua hal yang berbeda. Takut kepada Allah hukumnya wajib bagi kita selaku hamba-Nya. Perasaan takut itu ditunjukkan dengan selalu beribadah kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan juga menjauhi larangan-Nya. Sedangkan takut kepada mahluk Allah merupakan hal yang wajar bagi manusia. Jika manusia dihadapkan dengan sesuatu yang membahayakan diri, secara naluriah tentunya kita akan berusaha untuk menjauhi dan menghindarinya demi keselamatan diri kita.Â
Bayangkan jika dirimu berhadapan dengan ular yang berbisa, apa yang akan kamu lakukan? Bukankah kamu akan berusaha menghindar agar tidak terkena bisa ular tersebut? Menghindar dari perkara yang merugikan bukan berarti kita lari dari takdir yang telah Allah tentukan, melainkan bentuk ikhtiar kita untuk menggapai keadaan yang lebih baik untuk diri kita. Allah telah memberikan potensi berupa akal pikiran dalam diri manusia agar dapat menentukan dan memilih mana perkara yang baik dan mana perkara yang buruk.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”