Rasanya Jadi Pencinta Dangdut di Tengah Mereka yang Suka K-Pop atau Genre Musik Lainnya

pencinta dangdut

Di antara semua genre musik, sepertinya dangdut agak dikesampingkan dari daftar favorit orang-orang kebanyakan. Kesan (maaf) ‘kampungan’ masih meliputi bagi siapa saja yang menyukai jenis musik yang satu ini. Dangdut yang biasanya dipakai untuk acara hajatan, justru agak dihindari dari daftar MP3 atau Spotify orang-orang (maaf, saya bukan pelanggan Spotify. Apakah di Spotify juga ada lagu dangdut?).

Advertisement

Oleh karena itu, saya sebagai pecinta musik dangdut, sering mendengarkan musik favorit saya ini secara sembunyi-sembunyi. Apalagi saya adalah generasi milenial yang notabene lingkaran pertemanannya menyukai jenis musik yang lebih modern seperti rock, jazz, bahkan K-Pop.

Sudah tentu kadang saya minder jika ada teman-teman saya yang mengetahui bahwa saya lebih menyukai musik dangdut. Saya merasa tidak bisa atau bahkan merasa tidak cocok bergaul dengan mereka yang selera musiknya sangat kekinian dan sangat berbeda dengan saya. Apalagi di antara mereka yang sangat menyukai drama Korea beserta musik khas negeri gingseng tersebut. Saya merasa tidak nyambung jika berkumpul dan ngobrol dengan mereka. Mau ditaruh dimana muka saya jika mereka tahu saya ini dangduters sejati? Padahal saya menyadari bahwa selera musik masing-masing orang jelas berbeda, kan?

Saya tidak menutup diri untuk genre musik lain. Saya justru menyukai beberapa lagu di luar dangdut seperti rock, metal, bahkan lagu-lagu Blackpink (by the way, Blackpink satu-satunya girlband Korea yang saya tahu lagu-lagunya). Tetapi untuk jenis musik dangdut, punya tempat tersendiri di hati saya. Dia spesial. Tidak tergantikan. Apalagi jika yang saya dengar adalah lagu dangdut yang diproduksi pada tahun 70-80an, the natural dangdut

Advertisement

Dangdut yang masih alami, belum tersentuh atau di-mix dengan genre musik lain. Saya bisa mendengarkannya seharian tanpa henti sampai tetangga saya mengira ada hajatan di rumah saya. Jika saya sedang mendengarkan lagu dangdut tahun 70-80an tersebut, teman-teman sering bertanya ke saya, “Kamu anak kelahiran tahun berapa sih, kok bisa tahu lagu gituan?”

Saya menyadari saya bukanlah orang yang up to date terhadap segala hal, apalagi musik. Saya lebih menyukai musik yang jadul, khususnya dangdut. Ketika teman saya memutar lagu terbaru, saya pernah menanyakan itu lagu siapa. Teman saya menjawab, “Ini lagunya Tulus, judulnya Sepatu.” Dengan wajah bodoh saya bertanya lagi, “Siapa itu Tulus?” Dan dijawab dengan nge-gas oleh teman saya, “Lah lo nggak tau Tulus? Kemana aja?”

Advertisement

Padahal saya milenial tetapi menyukai sesuatu yang terlihat old. Entahlah, mungkin karena sejak bayi saya sudah dijejali lagu-lagu dangdut di VCD player oleh ibu saya (sorry I blame you, Mom).

Melihat fenomena di sekitar saya dan teman-teman saya yang mayoritas tidak menyukai dangdut ini, membuat saya mencoba untuk bereksplorasi dengan jenis musik lainnya. Pertama, saya mendengarkan beberapa lagu yang sedang nge-trend, sedang booming dan banyak didengar oleh teman-teman saya yang kekinian. Awalnya saya menikmati tapi lama kelamaan terdengar membosankan seperti janji mantan. Ujung-ujungnya, saya kembali mendengarkan musik favorit saya. Kamu. Eh, dangdut.

Langkah kedua yang saya lakukan adalah menghapus list MP3 di ponsel saya yang kebanyakan lagu dangdut dan menggantinya dengan lagu-lagu yang kekinian. Itu saya lakukan agar saya terlihat kekinian. Saya menambahkan beberapa lagu jazz, rock, dan K-Pop. Tidak ada dangdut sama sekali. Tapi justru sahabat saya yang sudah mengetahui tabiat dan jiwa dangduters saya yang sudah mendarah daging, mengeluh atas tindakan saya tersebut. “Kenapa justru lo menghilangkan ciri khas diri lo? Ini bukan lo banget.” Dan saat itu saya seperti kehilangan jati diri saya yang sebenarnya.

Dari situ saya menyadari, selera orang itu lahir dari hati dan bukan karena paksaan, seperti cinta. Ia tidak bisa disuruh atau diperintah harus menyukai apa atau siapa. Tidak bisa juga harus disamaratakan alias diseragamkan dengan orang lain. Justru perbedaan musik yang ada akan memberi warna yang indah di antara penggemar musik lainnya. So, jangan pernah merasa malu dengan selera musikmu yang mungkin kebanyakan orang tidak suka. Apalagi dangdut is the music of our country :D

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Masih berusaha untuk menulis ditengah kesibukan mengurus anak

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE