Ní hao! Aulia Syifa Aninditha menginjakkan kakinya pertama kali di Cina untuk menjalankan Dare to Dream Project yang berfokus pada Sustainable Development Goal dari United Nation No. 4, yaitu Quality Education. Cina adalah negara terbesar di Asia dan memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Cina juga merupakan salah satu negara kuno dan peradaban Cina merupakan salah satu peradaban tertua di dunia yang menandakan kuatnya nilai budaya di negara itu sendiri.

Tepat tanggal 14 Januari 2017, Aulia tiba di Beijing dan dijemput oleh perwakilan AIESEC bernama Maggie. Cina merupakan negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi paling besar sehingga kebanyakan dari mereka tidak familiar dengan Bahasa Inggris karena mereka merasa tidak membutuhkannya. Aulia mengalami berbagai macam culture shock di Cina, mulai dari suhu yang dingin, tidak familiarnya Bahasa Inggris, cara makan yang menggunakan sumpit, dan mengganti air minum setelah makan dengan sup atau bubur, hiruk-pikuk kehidupan yang ritmenya sangat cepat seperti jalan, makan, dan bicara.

Aulia dan Maggie sedang berada di antrian gerbang kereta di Beijing Railway Station menuju kota dilaksanakannya acara, yaitu di Hengshui. Ketika seseorang meneriakan sesuatu dengan bahasa Cina sambil menunjuk-nunjuk ke arah mereka, yang artinya “Hei, dia kan Islam! Kok kamu sama dia sih?” Maggie balas meneriaki pria itu yang berhasil membuat Aulia kaget dan terharu di hari pertama “Loh emang kenapa?” Tentunya hal ini membuat Aulia takut untuk menghabiskan 6 minggu di China. Namun, semakin banyak waktu yang ia habiskan di Cina, Aulia semakin banyak bertemu dengan komunitas Islam dan masjid- masjid kecil.

Muslim di Cina sendiri sangat beragam seperti sepuluh kelompok etnis minoritas Muslim yang berbeda. Kelompok etnis Muslim yang paling dominan di Cina adalah orang-orang Hui yang terkonsentrasi di north-west Cina di provinsi seperti Ningxia, Gansu, Qinghai dan Xinjiang. Meskipun Aulia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat ini, ia sempat berbaur dengan orang-orang muslim yang tinggal di Beijing.

Sebelum menjalankan Global Volunteer ini, Aulia tidak pernah pergi ke luar negeri sendirian, melakukan presentasi dan pidato dengan Bahasa Inggris serta berbicara formal di depan banyak orang. “Walaupun aku mengalami banyak kesulitan, antusiasme dari murid-murid dan seluruh orang di project ini membuatku menyadari bahwa keluar dari zona adalah hal yang harus dilakukan dan aku bisa melakukan hal yang tidak pernah kukira aku bisa melakukannya.” ungkapnya.

Advertisement

Hal yang paling Aulia senangi dari negara Cina adalah mereka sangat bangga terhadap budaya dan sejarah negara mereka. Dari generasi tua sampai muda, semua orang ikut merayakan setiap festival penting tiap tahunnya. Salah satunya adalah Festival Kue Bulan. Konon katanya pada saat festival ini (Tanggal 15 Bulan 8 penanggalan China), bulan terlihat sangat bulat dan indah. Orang Cina merayakan festival ini untuk menandai akhir masa panen. Pada Festival ini, orang Cina juga memakan “Kue Bulan”, yang sudah sangat terkenal. Cara merayakannya dengan menggantungkan lentera di langit-langit dan menerbangkannya di malam hari. Sehingga langit malam itu menjadi sangat indah dan bercahaya.

Di project ini, Aulia lebih merasa bangga pada negara sendiri karena secara tidak langsung ia mewakili negara Indonesia dan senang rasanya bisa memperkenalkan budaya negara Indonesia di sana. Di China pula, Aulia menyadari bahwa bahasa bukanlah hal yang utama dalam komunikasi. Walaupun kebanyakan orang di Cina tidak familiar dengan Bahasa Inggris, dia tetap bisa berkomunikasi dan memiliki teman baru selama proyek ini berlangsung. Karena selama kedua pihak mengerti satu sama lain, itulah arti komunikasi yang sebenarnya.