Memasuki semester pertama dalam bangku perkuliahan merupakan momen yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Di sini berbagai latar belakang tujuan menyelinap dalam pikiran para mahasiswa baru. Tak terkecuali saya sendiri yang sudah memasuki semester lima dan tergolong mahasiwa lama. Sempat merasakan bagaimana menjadi mahasiswa baru, menerima cara pengajaran yang baru, dan juga lingkungan yang baru, saya mengalami berbagai pengalaman. Dan mungkin ini nantinya juga akan dirasakan bagi kalian yang berstatus mahasiswa baru. Dan mungkin akan jadi nostalgia bagi para mahasiswa lama yang masih berjuang tak kenal lelahnya.

Seperti kebanyakan remaja umumnya, dapat berkuliah memang suatu hal yang membanggakan. Terlebih yang latar belakang sekolahnya sekolah menengah atas dimana kebanyakan yang diajarkan adalah teori teori macam teori gravitasi, rumus segitiga sama sisi hingga perhitungan luas area yang terarsir di berbagai sisi. Prakteknya pun tak setiap saat, kadang ketika dibutuhkan saja. Praktikum laboratorium tentang reaksi kimia maupun kejadian hukum fisika. Karena kebanyakan diajarkan teori, pendidikan lanjutan yang tak jauh beda juga diambil. Bahkan hampir semua teman sekelas bahkan satu sekolah yang melanjutkan ke jenjang kuliah, meski tak semua tentunya.

Bagi mahasiswa baru yang mulai bermetamorfosa dari siswa hingga akhirnya bergelar ‘maha’ didepannya, kadang ada kebanggaan tersendiri dengan gelar yang telah disandang. Ya, awalnya seakan derajat hidup meningkat dengan pesat ketika menjadi mahasiswa, yang digadang-gadang merupakan tonggak perubahan, pencetus inovasi dan kaya akan kreativitas lintas imaji. Perantauan yang saya jalani pun sebagai mahasiswa , menjadi pengalaman yang seru. Selain ada kebebasan dari pengamatan orang tua, menjalani hidup tanpa mereka pun menjadi tantangan yang menyenangkan. Tentu saja jangan di salahgunakan kesempatan ini kawan.

Ketika kalian menjadi mahasiswa baru dan menjadi penduduk sementara di daerah jauh nan disana, kita menjadi golongan orang yang merasa bebas atau bahkan bisa memilih tak mau lepas dari uluran tangan orang tua. Hingga ada yang lupa pulang untuk bertemu keluarga saking asyiknya atau ada yang tak pernah absen pulang ke kampung tiap pekannya.

Masuk kedalam kelas perkuliahan auranya pun berbeda. Bila mungkin di sekolah anak satu daerah dapat berbicara semaunya dengan nada logatnya. Di sini, di kelas perkuliahan ada berbagai macam kumpulan manusia dari berbagai deerah yang berbeda. Akhirnya mau tak mau Bahasa Indonesia menjadi sarana utama komunikasi di alam perkuliahan sana. Terus berlanjut sampai datangnya dosen yang ditunggu tunggu, ketika datang jangan buat kesimpulan terlalu cepat tentang mereka. Datang dengan ramah dan terbuka tidak menandakan bahwa dosen juga sama ramahnya ketika membahas akademik (nilai, tanda tangan maupun tanda acc), tapi juga jangan kelewatan suudzon.

Advertisement

Ketika masa sekolah di sibukkan dengan PR yang bejibun dan jadwal padat dari satu pelajaran ke satu pelajaran lainnya. Masa perkuliahan lebih bebas, mungkin ada yang tak masuk kuliah seharian penuh karena memang nggak ada jadwalnya pun juga ada yang berjuang kerasnya melewati hari karena jadwal harinya penuh dengan mata kuliah. Sehingga masa santai bisa dikatakan lebih banyak ketimbang ketika sekolah (diatas kertas kelihatannya demikian). Namun waktu kian berlalu, rambut yang dulu tipis kian menebal dan kumis ikut memanjang. Berbagai tugas yang diberikan dosen terus berdatangan. Tak lupa, berbagai laporan juga tak ingin kalah dalam menambah kesusahan. Akhirnya, masa santai, libur berubah menjadi masa lembur. Deadline laporan yang kadang kurang dari seminggu menjadi momok bagi mahasiswa baru. Nilai dan harga diri dipertaruhkan disini.

Sejalan dengan masalah di kampus yang terus-terusan. Kelangsungan hidup juga dipertaruhkan. Bagi mahasiswa jauh daerah asalnya, ngekost, ngontrak atau mungkin atau rejeki lebih beli apartemen sendiri (hunian nyaman dan terintegrasi, what?) mengurusi berbagai masalah pribadi juga tak kalah penting. Ada kalanya rajin-rajinnya adapula masanya ketika malas-malasnya. Kamar berantakan, tisu berserakan (mungkin), menggunungnya cucian, hingga masalah makanan selalu menjadi isu yang hangat diperbicangan bagi anak perantauan.

Mungkin ada yang rajin rajinnya masak sendiri, nyuci sendiri, kamar bersih tertata rapi, baju pun diseterika seminggu sekali. Kalau memang sifatnya sudah masternya rajin, tapi kalau nggak terbiasa biasanya hanya bertahan tak lama. Akhirnya warung-warung yang menyediakan makanan yang banyak apalagi yang memiliki sistem ambil sendiri, menjadi idaman setiap mahasiswa lintas angkatan, apalagi ketika krisis keungan akhir bulan.

Lambat laun ada karakter yang terbentuk, ada karakter yang berubah adapula karakter yang bertahan. Beberapa perubahan yang dialami mesti diterima. Ketika lingkungan memang menuntut untuk bertahan maka mau tak mau kita harus bertahun, entah nanti ujungnya berubah baik atau sebaliknya tergantung bagaimana cara kita menerimanya.Menjadi mahasiswa tak hanya status yang berganti. Pemikiran, gaya hidup, tingkah laku pun harus mengikuti.


Hingga akhirnya status mahasiswa baru berubah menjadi mahasiswa lama, bukan sembarang kata, ini menggambarkan perjuangan bagi kita yang mulai menata masa depan dan mulai menjadi dewasa. Mau mahasiswa baru atau lama, mahasiswa bukanlah lagi siswa yang kebanyakkan menuntut untuk dimanja. Sekarang saatnya dari yang selalu menerima, mulai belajar bagaimana memberi.