Pengaruh Covid 19 Terhadap Perekonomian Indonesia

Pengaruh Covid 19

Pembatasan kegiatan masyarakat (PSBM) dan peraturan penanganan virus corona lain menimbulkan permasalahan lain yang dihadapi oleh masyarakat khususnya di bidang perekonomian. Dampak dari penyebaran virus corona dan penanganannya di antaranya adalah masalah pengangguran, penurunan jumlah ekspor dan impor, hilangnya pendapatan pariwisata dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang lain.Selain dampak negatif tersebut, terdapat juga dampak positif terhadap beberapa sektor ekonomi, diantaranya adalah sektor e-commerce, e-learning dan juga perusahaan ekspedisi atau jasa kurir.

Advertisement

Pembatasan sosial berskala local (PSBL) yang dijalankan pemerintah pada awal bulan April lalu menyebabkan perusahaan dan beberapa bidang usaha harus mempekerjakan karyawan mereka dari rumah dan menggunakan media online. Namun tidak semua bidang usaha dapat dilakukan secara online. Contohnya adalah ojek online yang tidak dapat beroperasi pada masa awal PSBL. Selain tidak bisa menarik penumpang, mitra ojek online juga tidak bisa melakukan delivery makanan karena pusat perbelanjaan dan restoran ditutup untuk sementara.

Media online pun juga dirasa tidak dapat sepenuhnya menjadi pengganti bagi aktivitas normal karena tidak semua orang memiliki akses ke media online dan infrastruktur yang kurang memadai seperti jangkauan sinyal dan kecepetan internet dari penyedia layanan internet. Hal ini membuat banyak perusahaan memutuskan untuk memulangkan karyawan mereka karena tidak mampu menutup biaya operasional tanpa adanya proses produksi. Tidak hanya perusahaan kecil, perusahaan besar seperti PT Fast Food Indonesia Tbk (pemegang lisensi gerai KFC di Indonesia), Agoda, Traveloka, dan Ramayana pun terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja kepada karyawannya. Beberapa berita juga menyebutkan bahwa GoJek menutup permanen beberapa layanan mereka yaitu GoClean dan GoMassage yang termasuk ke dalam layanan GoLife pada 27 Juni 2020. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka atau TPT pada bulan Februari sebesar 4.99 persen dan jumlah pengangguran menyentuh angka 6.88 juta orang. Sayangnya, BPS hanya mengeluarkan data jumlah pengangguran setiap bulan Februari dan Agustus. Meskipun belum ada data terbaru mengenai jumlah pengangguran sampai bulan Juli ini, jumlah pengangguran dapat dipastikan naik.

Kenaikan jumlah pengangguran ini juga tidak dapat diatasi dengan mudah. Selain menyebabkan masalah pengangguran, kerugian yang dialami oleh perusahaan-perusahaan juga membuat turunnya jumlah lowongan kerja yang dibuka. Tidak adanya lowongan kerja membuat para pekerja yang baru saja di PHK tidak dapat mencari pekerjaan lain dan memaksa mereka untuk bekerja serabutan dan hidup seadanya dalam masa pandemi ini. Para pekerja yang beruntung dapat bertahan juga harus mengalami berbagai hambatan seperti moda transportasi yang dibatasi.

Setelah proses produksi terpaksa dihentikan, proses ekspor dan impor barang pun juga menjadi terhambat. Dihentikannya proses produksi mengakibatkan turunnya produk yang dapat di ekspor. Di sisi lain, pasokan kebutuhan sehari-hari seperti makanan semakin menurun dan sulit dijangkau oleh masyarakat yang sedang dilanda gelombang pengangguran. Untuk menutupi kebutuhan permintaan, pemerintah dituntut untuk mengimpor lebih banyak produk. Masalah ekspor dan impor tidak berhenti sampai disini. Ditutupnya sebagian akses ekspor dan impor ke Tiongkok sebagai asal virus corona membuat Indonesia kehilangan kehilangan salah satu eksportir sekaligus importir terbesar yang bahkan ketika corona masih memiliki nilai 17,04 persen dari total ekspor dan 28,13 persen dari total nilai impor.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE