Mengulik Fenomena Flexing yang Makin Marak Saat ini. Wajar atau Justru Merugikan?

Akhir-akhir ini sangat ramai diperbincangkan masyararkat mengenai beberapa orang yang memamerkan barang miliknya di media massa secara berlebihan. Hal ini semakin ramai diperbincangkan ketika muncul berita tertangkapnya beberapa crazy rich palsu yang sering muncul di media sosial.

Apa itu perilaku flexing? Perilaku flexing sering digambarkan oleh masyarakat sebagai perilaku memamerkan yang dilakukan secara berlebihan. Pada zaman ini, teknologi sudah sangat berkembang sehingga perilaku untuk memamerkan benda/barang yang dimiliki menjadi sangat mudah untuk dilakukan. Banyak orang melakukan tindakan tersebut melalui media sosial, misal Instagram.

Banyak orang yang berlomba untuk memamerkan barang yang dimilikinya melalui Story Instagram, Reels, ataupun Instagram Feeds. Selain Instagram, di sosial media lain, yaitu TikTok juga banyak ditemukan orang yang melakukan flexing. Perilaku Flexing tentu saja dilakukan karena memiliki alasan tertentu. Lalu alasan seperti apa yang membuat seseorang melakukan flexing?

Seseorang yang melakukan tindakan flexing bisa disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, seseorang melakukan flexing karena hanya ingin mengikuti tren. Fenomena yang ditemukan dalam TikTok menunjukan seberapa kuat nya kata fyp (for your page) dan hal ini juga berlaku di Instagram. Fenomena flexing sempat muncul ke dalam TikTok, mulai dari memamerkan minyak goreng, makanan dalam jumlah yang sangat banyak, barang-barang seperti gadget dan sepatu yang mahal, hingga properti yang juga sangat mahal seperti mobil dan rumah.

Jika dianalisis menggunakan teori psikologi, perilaku mengikuti tren ini bisa dijelaskan melalui teori conformity. Conformity merupakan perilaku seseorang untuk mengikuti tindakan orang lain karena adanya tekanan kelompok (Myers, 2010). Pada teori ini menunjukan bahwa tren yang ada dapat membuat seseorang mengikuti perilaku flexing. Kedua, seseorang melakukan flexing karena ingin mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat yang menonton konten tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan like, comment, dan viewer yang banyak sehingga seseorang melakukan flexing berulang kali.

Biasanya perilaku ini ditemukan pada selebgram. Banyak selebgram menampilkan kehidupannya yang mewah secara berlebihan di media sosial, hal ini merupakan usaha mereka untuk mendapatkan banyaknya Like, Comment, dan View. Perilaku yang dilakukan berkaitan dengan exposure yang sifatnya meguntungkan akun sosial media mereka.

Exposure yang baik akan mendukung para selebgram untuk mendapatkan endorsement. Perhatian yang didapatkan seseorang ketika melakukan perilaku flexing dapat dijelaskan dengan teori psikologi yaitu Operant Conditioning. Konsep umum dalam teori operant conditioning milik Skinner (sitat dalam Weiten, 2012) adalah setiap perilaku yang disertai dengan penguatan/reinforcement akan cenderung diulangi.

Dalam hal ini seseorang yang mendapatkan respon dari orang lain, seperti meningkatnya jumlah Viewers, Likes, dan Comments dapat menjadi penguat perilaku flexing. Semakin banyak orang yang menonton dan memberikan respon, maka akan semakin kuat dan semakin diulang perilaku tersebut.

Alasan ketiga, yaitu karena orang tersebut ingin mendapatkan pembuktian dari orang lain. Seseorang yang melakukan perilaku flexing biasanya cenderung menampilkan hal yang menurut dia baik didepan orang. Misalkan seseorang ingin terlihat kaya didedepan orang banyak, maka ia akan cenderung memakai pakaian atau barang yang terlihat mewah. Hal ini dilakukan agar persepsi orang lain terhadap dirinya adalah orang yang mampu.

Pada alasan ketiga, perilaku yang dilakukan dapat dibahas melalui teori Adler mengenai individual psikologi (inferior dan superior) (sitat dalam Feist & Feist, 2017) yaitu, seseorang dapat dianggap memiliki kesan yang baik karena memiliki keinginan untuk mencapai superioritas. Teori yang disampaikan ini dapat diartikan bahwa seseorang yang biasanya memamerkan barang atau melakukan

Flexing hanya ingin menyembunyikan infeoritasnya yang memungkinkan berasal dari pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan. Lebih bisa diterima oleh banyak orang, imaturerity, untuk memberikan keunggalan dalam posisi sosial bahwa dia dapat melakukan hal yang hebat. Perilaku ini dapat dimanfaatkan seseorang untuk mendapatkan keuntungan salah satunya yaitu, dapat lebih mudah memengaruhi orang didalam kelompoknya.

Terdapat pula konsep lain yang mendasari terjadinya fenomena perilaku flexing. Konsep tersebut milik Carls Rogers yang menyebutkan bahwa manusia mengenal konsep Real Self dan Ideal Self. Konsep dari real self sendiri merupakan kondisi bagaimana seseorang saat ini secara nyata. Sedangkan konsep ideal self merupakan kondisi yang diharapkan oleh seseorang (Feist & Feist, 2017). Konsep diri ini memiliki dampak yang baik dan buruk.

Dampak yang baik akan menjadikan seseorang menjadi semakin termotivasi untuk mencapai ideal self-nya, dan sebaliknya apabila seseorang gagal mencapainya maka orang tersebut akan merasa dirinya gagal. Jika seseorang mengalami adanya kecenderungan konsep diri yang incongruent antara real-self dan ideal-self, maka ia akan mudah merasa cemas terhadap dirinya. Adanya pertanyaan apakah perilaku flexing itu normal dilakukan, dapat terjawab melalui konsep milik Carls Rogers. Seseorang lebih cenderung untuk menampilkan ideal self-nya kepada orang lain.

Pada beberapa kondisi hal ini memang normal untuk dilakukan, misalkan saja seorang artis yang melakukan perilaku flexing karena memiliki tujuan untuk menambah exposure media sosial. Sales juga tidak jarang menunjukan perilaku flexing, misalkan saja sales dibidang MLM, mereka perlu terlihat trendi dan bergaya agar orang lain percaya dan mau ikut bergabung ke dalamnya, konsep ideal self sangat ditekankan di sini.

Hal yang tidak baik adalah ketika seseorang sudah mendapat kepercayaan dari orang lain melalui flexing, kemudian melakukan tindak penipuan, hal itu sudah menjadi konteks lain dari perilaku flexing. Perilaku flexing bisa dikatakan normal dilakukan bila tidak melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat.

Perilaku ini akan cenderung menjadi gangguan dalam kehidupan sosial psikologis masyarakat bila perilaku flexing yang dilakukan dapat merugikan orang lain, untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Writing...