Hidup?

Untuk apa kita hidup? Untuk makan saja? Untuk tidur? Untuk kerja? Untuk apa? Kupikir kita jarang menanyakan hal tersebut. Hal yang seharusnya kita pahami betul, bukan hanya sekedar memantul di pikiran dan memuai begitu saja.

Hidup?

Hiduplah yang benar-benar hidup, menjadi manusia yang menghidupi perannya, menjadi manusia yang menghidupi apa yang harusnya dilakukan.


Lantas apa yang harus dilakukan?


Advertisement

Hanya satu sebenarnya. Hiduplah untuk menghidupkan peranmu dalam menjalankan hidupmu. Kata pepatah Jawa, “Urip kudu Urup”. Yah, hanya itu sebenarnya. Kita memerankan peran manusia yang sebaik mungkin dan bisa memanusiakan manusia. Atau lebih gampangnya, kita harus memberikan manfaat di dalam hidup yang kita jalani. Peran yang kita jalankan hendaknya memberikan efek yang baik dan memberikan getaran positif pada orang-orang di sekitar kita.

Bukan menjadi manusia yang terlalu menjiwai dunia, sehingga lupa akan perannya. Lupa kalau kita ini adalah mahluk paling berakal budi yang diciptakan. Tujuannya? Tujuannya adalah agar dunia ini tidak penuh karut marutnya. Yang seharusnya ia berperan menjadi manusia, tapi malah memerankan binatang, yah binatang, yang hanya makan, tidur, dan meniduri, serta embel-embel “aku pemilik daerah kekuasaan” sebagai penyempurna hidup, agar lebih dipandang besar dan dipandang pemegang pasar.

Kita ini bukan binatang, kita ini bukan mahluk yang tak berakal, yang memikirkan apa yang jadi keinginannya. Ya kalau baik? Kalau keinginannya membuat hal yang tak baik? Biasanya orang yang memerankan binatang adalah dia yang memiliki kuasa, harta, dan wanita yang berlimpah senghinga lupa kalau itu harusnya digunakan untuk memberikan manfaat untuk sekitarnya. Jika Singa saja mampu memberikan rasa aman bagi daerah kekuannya. Kenapa yang berkuasa lupa akan perannya? Padahal lebih berakal lho. Lebih bisa berfikir seharusnya. Tapi, kenyataannya banyak yang memilih untuk memerankan binatang akhirnya.

Hebat dalam segala hal, tapi di sekitar hanya menjadi sampah yang tak berguna? Kaya raya tapi daun pohonnya jatuh di halaman tetangganya saja, di punggut dan tetangganya dituntut? Kuharap anda yang membaca bukan orang yang mengambil peran itu.

Dan satu pesan terakhir yang kuharap juga menjadi prinsipmu atau setidaknya kau melakukannya dalam menghidupkan hidupmu


Hiduplah yang lebih baik dari hari kemarin

Dan ulangi untuk hari selanjutnya, dan selanjutnya, dan sampai mati.