Kita mengenal lewat cerita dari mulut-ke mulut. Sejak kapan kau hadir dalam hidupku? Memngukir sejuta kenangan yang takkan pernah terlupakan. Dulu aku hanya menganggapmu teman biasa. Ya, dulu lebih kurang 8 tahun kita saling kenal. Satu tahun aku hanya mendengar cerita indah dari sahabatku tentang kepribadian dirim, kau pintar, sholeh dan banyak disenangi oleh teman, guru, atau pun orang-orang di sekitarmu. Kamu tahu setiap hari sebelum kita saling kenal, aku sudah mengenal kepribadianmu dari sahabat kecilku itu. Awalnya biasa saja. Tak ada yang spesial bahkan aku tak peduli sedikit pun.

Namun, lambat laun rasa penasaranku tentang sosok dirimu mulai muncul dalam benakku. "Siapa kamu?", mungkin itu kalimat sederhana yang selalu menghantuiku setiap hari. Aku masih ingat kenangan ini. Ya aku masih ingat. Di kala kita dipertemukan dalam satu ruangan selama 1 tahun. Di saat itulah aku mulai melihat sosok misteri dalam hidupku yang hadirnya hanya lewat cerita dari mulut sahabatku.

Advertisement

Saat itulah aku mulai mengenal dirimu, aku mulai memperhatikan sikapmu dan bahasa santunmu. Aku mulai mendekatimu, yang awalnya hanya sekedar teman semata. Tak lebih. Tak ada rasa spesial dalam hatiku tentang dirimu. Namun kenyataan tak bisa aku tolak. Setelah sekian lama kita berteman, ada rasa yang tidak wajar hadir dalam hatiku, setiap kali aku dapat kabar atau pun hanya sekedar mendengar namamu disebut seolah ada aliran darahku semakin terasa. Telinganku memerah, jantungku seakan cepat bekerja. Kenapa ini?

Ada apa dengan perasaanku padamu? Aku mencoba menepis perasaan yang tak biasa hadir dalam hidupku ini, namun aku tak terlalu kuat untuk itu. Aetiap pesanmu yang masuk aku selalu senang, meskipun itu hanya sekedar mengucapkan "assalamu'alaikum".

Bahkan aku selalu menanti-nanti kabarmu padahal kita satu kelas. Setiap hari ketemu, tapi setiap detik rindu itu menggunggung tinggi dalam hatiku. Ya aku ternyata merindukanmu dan ternyata aku mencintaimu. Aku salut denganmu rasanya tak ingin pertemuan ini dipisahkan oleh apapun atau siapapun.

Advertisement

Aku ingin selalu melihatmu. Namun, aku tak bisa menentang kehendakNya. Satu tahun pertemuan yang indah itu harus terpisah oleh kepentingan kita yang berbeda. Aku masih ingat satu tahun bersama itu ketika kita menginjak kelas 2 SMP. Aku pun tak menyangka ternyata itu awal perpisahan kita hingga detik ini.

Selama tahun 2008-2016 Allah tak pernah lagi pertemukan kita seperti pertemuan yang terlama itu dan kini, kau suddah jauh berbeda. Meskipun hanya melihat kegiatanmu di medsos. Tapi sedikitnya aku sudah mendapatkan gambaran tentang dirimu lagi. Tapi satu yang tak pernah berubah dari dirimu dan itu yang membuat perasaan ini masih bertahan padamu yaitu kedekatanmu pada Sang Khalik.

Ya pada Rabb kita, coba katakan, wajarkan perasaan ini masih ada dan bersemayam selam 8 tahun dalam hati ini.

Batinku tersiksa dan aku berharap setelah menulis tulisan ini aku tak pernah bangga lagi denganmu. Cukup aku ingin mengakhiri ini semua. Karena aku ingat, bahwa kau belum tentu menjadi imam dalam kehidupanku. Karena aku ingat, kau belum siapa-siapa bagiku dan karena aku ingat aku tak pantas seperti ini. Mempersiapkan diri untuk yang menantiku di sana lebih baik, jika harus memendam perasaan yang tak wajar ini dan untuk sekarang aku ingin amnesia tentangmu dan sekarang aku mohon ya Allah, jangan pernah pertemukan aku dengan dia atau pun mendengar kabarnya. Menjauhlah dan jangan datang sebelum kau menjabat tangan waliku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya