Kita bertemu dalam suatu waktu lalu lambat laun waktu menyatukan kita dan pada akhirnya waktu pula yang membuat jarak diantara kita. Aku berusaha memahami segala kondisi, berusaha menjaga hati dari kejauhan dan tetap berpegang bahwa aku milikmu meskipun tanpa ikatan. Namun nyatanya hanya karena kejujuran kau pergi, itu menyakitkan katamu. Lantas selama ini kebohongan mampu membuatmu bahagia? Bukankah cinta itu mengenai kejujuran. Bagaimana bisa kau mencintaiku jika kau tidak menerima kejujuranku?

Kau mungkin harus tahu bahwa cinta bukan hanya tentang jatuh dan patah tapi juga tentang bagaimana caranya bangkit agar tidak sakit terus menerus, tentunya bukan dengan cara meninggalkan, karena tidak ada yang baik-baik saja ketika ditinggalkan. Aku sadar mencintaimu butuh banyak pengorbanan dan perjuangan namun hatiku tetap saja menginginkanmu. Harusnya dari awal aku menegaskan bahwa mencintaimu biarkan hanya perasaanku yang merasakan bukan tentang melawan takdir yang kau sama sekali tidak menginginkanku.

Advertisement

Kau perlahan-lahan ingin meninggalkanku tanpa jejak, sesak rasanya. Inginku menahanmu tapi aku sudah lelah dengan yang namanya berjuang sendiri. Pergilah jika itu maumu, aku akan berhenti menahanmu karena aku tahu yang terbaik tidak akan meninggalkan begitu saja. Maka biar aku membawa kenangan-kenangan yang ada. Jika semesta mengizinkan kita untuk bersatu lagi semoga tidak akan ada lagi yang tersakiti.

Kau tahu sendiri melupakan bukan keahlianku apalagi melepaskan, lalu mengapa kau membuatku melakukan hal yang sama sekali tidak bisa ku lakukan? Tapi biarkan cinta ini tetap kusimpan sendiri, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Tak perlu di umbar-umbar karena tentang perasaan hanya perlu dirasakan bukan di pamerkan. Pergilah, jika kau tidak menemukan orang sepertiku maka kembalilah karena aku selalu mendoakanmu dibalik sepertiga malamku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya