Patah hati itu menyakitkan, tapi lebih menyakitkan kalau harus patah hati karena ditolak berulang-ulang kali. Hahahaha :P

Ya, tidak semua manusia diberi keberuntungan mendapat cinta sejati dengan begitu sederhana, tanpa luka. Kadang harus ada perjuangan untuk mendapatkan cinta sejati, walau, perjuangan tak selalu mendapat ending yang happy, banyak di antaranya, yang masih sendiri walau sudah berjuang dengan sepenuh hati.

Aku juga salah satu orang yang pernah ditolak berulang-ulang kali, yang harus rela berjibaku untuk menarik perhatian sosok gadis pujaan hati.

Pacaran adalah hal yang ingin aku lakukan sejak dari Bangku SMA dulu, ngenes juga kalau ditanya perihal kenangan indah saat masa-masa SMA dulu?

Jujur saja, Kenangan indah yang aku lalui di SMA, Hanya segelintir kenangan manis petualangan dengan teman-teman satu kelas saja.

Advertisement

Di saat orang lain sibuk dengan cinta masa SMA, aku masih berkutat dengan komik dan hayalan tentang pacaran.

Mencintai dalam diam yang terdalam”. Mungkin itu yang pantas mengambarkan bagaimana caraku menyukai seorang wanita. Lelaki pemalu dan tak berani berhadapan dengan cewek yang disukainya.

Saat lulus sekolah dan bekerja di salah satu perusahaan, dengan sadar, aku ingin merubah sifat pemaluku ini. Dengan harapan, aku bisa mendapatkan jodoh yang bisa bersanding seiringan dalam hidupku.

Advertisement

Mulailah aku mencoba berinteraksi dengan lawan jenis, belajar memperbaiki rasa percaya diri, dan juga belajar bagaimana mengenal wanita lebih dalam.

Kencan pertama,

Mungkin bagi banyak orang, kencan pertama ini sudah dilakukan saat masih SMA. Tapi tidak bagiku, pertama kali mengajak wanita untuk sekedar hang out yang aku anggap kencan pertama.

Karena hal itu, pertama kali dalam sejarah hidupku, aku mengajak seorang gadis jalan-jalan, berduaan saja. Status kita masih sekedar teman kerja, tapi itu pengalaman yang berharga dalam hidupku.

Sampai akhirnya, aku benar-benar jatuh cinta dengan seorang gadis.

Awalnya, tak terbesit rasa suka dalam diriku kepada gadis ini. Setelah kita kenal akrab dan ada event camping kecil-kecilan bersama rekan-rekan kerja.

Kebersamaan kita di sana, menjadikanku nyaman bercakap dengannya. Tapi masih belum terbesit rasa suka dalam hatiku kepadanya.

Sampai akhirnya, di malam harinya, gadis ini kedatangan tamu yang tak lain lelaki yang disukainya. Aku baru tau, kalau dia dekat dengan lelaki itu, yang tak lain juga teman kerjaku juga.

Entah kenapa, ada perasaan tak rela ada orang lain yang menyukainya. Begitu juga saat pagi harinya, aku tanya kepadanya, dan dia cerita bagaimana kronologi dia suka dengan lelaki itu.

Apa ini yang namanya cemburu? Apa sesakit ini rasa cemburu itu?

Hal itu yang selalu aku tanyakan dalam diriku, lambat laun, aku menyadari bahwa, aku memang menyukainya bahkan mencintainya.

Setelah beberapa minggu, aku mendengar kabar bahwa lelaki itu, juga masih ada wanita lain dalam hidupnya. Aku merasa geram dan marah, ingin rasanya aku merebut gadis ini dari cengkraman lelaki itu.

Karena tak tahan, aku mengajak dia jalan-jalan dan nekat menembaknya!

Bisa ditebak sih, hasilnya seperti apa? Sebuah penolakan.

Aku tak berharap itu berhasil sih, se-enggaknya dia tau perasaanku yang sebenarnya. Walaupun penolakan itu menjadi kisah pahit dalam hidupku. Karena saat itulah pertama kali aku mengungkapkan perasaan kepada wanita.

Pertama kali aku menembak gadis dan pertama kali juga ditolak.

Beruntungnya, aku mengetahui banyak hal tentang penolakan itu. Penolakan itu bukan karena dia sudah berpacaran dengan lelaki itu, tapi dia masih setia dengan ikatan long distance dengan pacarnya. Hubungan dengan lelaki itu juga masih mengambang karena terbentur dengan tembok kesetiaan wanita tersebut dengan pacarnya.

Dengan mengetahui perasaanku yang sebenarnya, menjadikan kita lebih akrab. Aku juga tak putus asa dalam mendapatkan cintanya, walau untuk menjadi akrab, itu sudah cukup membuatku bahagia sekaligus juga merana.

Terhitung sudah tiga kali aku ditolak, masih dengan alasan yang sama. Walaupun aku tahu, hubungan dengan pacarnya, tak lebih dari sebatas hubungan telepon yang lebih sering melukai.

Sempat, aku mencoba berhubungan dengan wanita lain. Tapi kenyamanan dengan dia, tak bisa tergantikan oleh wanita lain. Hanya sekedar rasa pelarian saja.

Kadang aku tak mengerti dengan perhatiannya kepadaku, sempat aku berpikir kalau dia seorang player. Tapi mana mungkin gadis sebaik dia, selugu dia menjadi seorang pemain cinta yang hobi memainkan hati seorang pria.

Liburan ke Jogja adalah sakit hati paling menyesakkan dalam hidupku, sekaligus kegalauan luar biasa dengannya.

Berangkat sebangku denganku, aku mengandeng tangannya di perjalanan menuju Jogja di malam hari. Terasa juga, genggaman balik yang cukup erat darinya. Menjadikan aku berharap kembali untuk berjuang mendapatkan cintanya.

Tapi, kisah di perjalanan ke Jogja, tak semanis perjalanan berangkatnya. Yang ada, hanya sebuah rasa sakit dan kekecewaan yang terlampir di setiap perjalanan.

Setelah perjalanan di Jogja itu, aku meminta penjelasan dan sebuah pilihan darinya. Bukan hanya aku saja, sosok lelaki baru yang mulai menyukainya juga meminta agar si wanita ini membuat keputusan untuk memilih siapa yang akan jadi pasangannya?

Kembali lagi, rasa kecewa menusuk di hati. Kembali, dia masih memilih untuk tetap setia dengan pacarnya yang jauh itu.

Dari rasa kecewa, sudah enam kali ditolak oleh wanita yang sama. Menjadikan aku sadar satu hal, aku tidak boleh larut dalam kegalauan seperti ini.

Aku mulai mencoba belajar ikhlas dan tak berharap untuk mendapatkan dia lagi. Hubungan kita semakin renggang dan jarang sekali ada pembicaran, padahal kita sama-sama bertemu tiap hari di tempat kerja.

Aku menyerah untuknya, mencoba untuk bisa bernafas tanpanya. Dan mencoba membuka hati untuk hal yang lainnya.

Selama berminggu-minggu, aku mencoba untuk memperbaiki diri. Dari berpuasa sunnah senin-kamis, sholat dhuha, sholat qiyamul lail. Berharap agar aku mendapat pekerjaan di perusahaan lain.

Sungguh, aku sudah ikhlas melepas dirinya dan mencoba untuk move on ke hati yang lain. Mungkin dengan pindah kerja, adalah awal yang baik untuk bisa melupakannya dan mulai kehidupan yang baru.

Beberapa kali aku mendapati panggilan interview kerja, tapi tak satupun ada yang sukses.

Berbulan-bulan kita tak saling berbicara akrab, kita juga jarang pulang bersama karena kerenggangan ini. Tapi aku masih mempunyai satu janji dengannya, janji yang belum kesampaian saat di Jogja dulu.

Belanja bersama, waktu di Malioboro dulu, aku tak bisa mewujudkan janji yang telah aku buat lantaran rasa kecewa yang merasuk dalam hatiku.

Akhirnya, aku menuntaskan janji untuk belanja bersama dengan dia. Ketika bulan ramadan, aku dan dia belanja keperluan hari Raya bersama di kota Malang.

Dari situlah, aku mengetahui kalau dia sudah tak bersama pacarnya lagi. Entah, perasaanku kembali bergejolak kembali. Antara senang, tapi aku juga takut merasakan sakit lagi.

Di hari Lebaran, aku berkunjung kerumahnya, kita saling berbicara nyaman seperti dulu. Dia mengajakku, ke sebuah telaga dekat rumahnya. Tidak hanya berduaan, melainkan dengan kedua ponakannya.

Kita berjalan dan mengasuh kedua ponakannya ini, selayak pasangan muda suami istri yang mempunyai dua anak. Terdengar dari beberapa orang yang berlibur ke telaga tersebut, yang mengatakan bahwa, ponakannya itu anak kita berdua.

Terlihat senyum dan tertawa geli di bibirnya, ketika ada orang yang berbicara seperti itu. Sungguh, kenangan di telaga itu begitu menyenangkan. Ingin sekali aku menghentikan waktu, agar bisa berlama-lama dengannya dalam keadaan seperti itu.

Setelah kejadian di telaga itu, dia kembali mendekat dan akrab kembali denganku. Sebenarnya, aku tak ingin terlena dalam keadaan yang fana seperti ini. Tak ingin kembali jatuh dalam lubang kesedihan yang sama berulang kali.

Tapi, aku sedikit merasakan ada perhatian khusus darinya. Dari cara dia berbicara, dari cara dia menanyakan sesuatu dan dari cara dia bersikap kepadaku.

Kembali, aku ingin mempertaruhkan semuanya di penembakan yang ketujuh ini. Tapi, berbeda dengan sebelumnya, aku ingin meminangnya dengan ketulusan hati yang masih tersisa hanya untuknya.

Aku mengajak dia dan ponakannya ke telaga itu lagi, untuk berlatih renang, juga untuk menyenangkan ponakannya. Di situlah aku mengatakan pinanganku kepadanya.

Aku menutup mata karena terlalu takut mendengar penolakannya, aku sudah menyiapkan hati untuk lebih ikhlas menerima setiap jawabannya. Tapi dia memelukku dengan erat. Aku membuka mataku dan melepaskan dari pelukannya.

Dia menatap wajahku dan mengiyakan untuk menerima pinanganku, “Aku mau jadi istrimu, Mas”.

Itu yang aku dengar dari bibirnya, langsung aku peluk dia dan meneteskan air mata bahagia.

Ketika kita buta saat mengejar-ngejar cinta, terkadang hanya ada rasa kecewa di dalamnya.

Tetapi, ketika kita lebih sabar dan ikhlas dari cobaan hidup yang terjadi, di situlah proses pemantasan diri untuk mendapat cinta yang lebih pantas.