Tanpamu Aku Memang Tetap Bisa Bertahan Hidup. Tapi Perkara Batin Aku Ragu Untuk Mampu

Merelakanmu bukanlah perkara mudah.

Konsep bahagia bagiku adalah aku. Namun semenjak ada kamu, bahagia adalah tentang genggaman tangan kita yang tetap saling menyatu. Sebelum bertemu denganmu aku mampu berdiri tegap, melangkah kemanapun sejauh mata memandang. Bahagiaku adalah bagaimana aku berupaya menciptakan rasa ringan disetiap kondisi dan kenyataan yang datang. Sederhananya, konsep bahagiaku adalah bagaimana aku mampu berbahagia atas apapun tentangku. Namun kedatanganmu membuatku untuk kembali menata gambaran, bahwa aku hidup dengan satu lagi seseorang. Aku dan kamu adalah sepasang bahagia yang harus kuperjuangkan.

Advertisement

Seperti pijar yang menyala terang, kita adalah daya yang menguat sekalipun ada badai menerjang. Terbiasa untuk bersama membuatku yakin kita adalah taut yang saling memperjuangkan. Terbiasa saling menguatkan membuatku percaya bahwa kita adalah dua insan yang oleh semesta takdirkan. Sebab itu pula pelukanmu mampu menguraikan laraku dan dekapanku menghangatkan senyummu. Ibarat kita adalah sepasang sepatu, tanpamu aku masih bisa disebut sepatu. Namun untuk berjalan bahkan berlari sekalipun, aku kehilangan fungsi. Coba bayangkan, semampu apa aku berdiri tegap tanpa pijar yang kau salurkan?

Perkara melepaskanmu masih bisa ku usahakan. Namun perihal melupakan, aku tak mampu memastikan. Hidup adalah tentang kedatangan dan kepergian. Kehadiranmu menawarkan genggaman tangan dan pelukan kehangatan, namun kepergianmu jelas menyisakan kehampaan. Karena terbiasa dengan keadaan, aku paham bagaimana caranya melepaskan, sekalipun itu ialah sesuatu yang paling memberatkan.

Pun kamu bukanlah pengecualian, berusaha merelakanmu meski setengah mati itu sungguh menyakitkan. Berusaha mengubur dalam kenangan dari setiap langkah yang kita perjuangkan. Namun untuk melupakanmu, aku angkat tangan. Sebab hati dan perasaan terlalu sulit untuk dikendalikan, sebagaimanapun keras yang kuupayakan.

Advertisement

Tanpamu aku mampu bertahan hidup. Namun bersamamu, hidup adalah tentang bagaimana aku bernapas dengan nyaman. Jika kamu bertanya bagaimana aku bisa hidup tanpa adanya dirimu, maka dengan mantap kukatakan bisa. Bukankah sebelum kedatanganmu, bahagia adalah bagaimana aku mampu menciptakannya di setiap keadaan. Tapi jika kamu bertanya, akankah bahagia yang kumaksudkan adalah rasa nyaman. 


Maka akan kutatap matamu sambil menjawab dengan pelan, “Titik cahaya itu adalah sumber nyamanku. Tanpanya, pijar terangku meredum padam.” 


Aku masih bisa berjalan sambil tersenyum atau bahkan menebarkan tawa riang. Tapi perkara perasaan, aku tak mampu membohongi kenyataan. Bahwa kehilangan genggaman tanganmu adalah hal terberat yang sekalipun tak mampu kubayangkan.  

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Abadi meski berlalu.

CLOSE