Ini Cerita Tentang Aku, Murid-muridku, dan Perkenalan Tak Terlupakan Kami di Tengah Pandemi Virus Corona

perkenalan di tengah pandemi virus corona

Tak pernah terbanyangkan sebelumnya kalau aku akan kembali menginjakkan kakiku di sekolah tempatku menempuh pendidikan SMP. Mungkin kalau sekadar menginjakkan kaki untuk bermain, bernostalgia, maka siapa pun bisa melakukannya. Namun aku kembali ke SMP Don Bosco 2 dengan pekerjaan baru sebagai guru. Aku menjadi guru bimbingan dan konseling usai berpetulang dan menempuh perjalanan di berbagai tempat kerja sebelumnya hingga waktu mengantarku pulang ke almamaterku.

Advertisement

Rasanya senang bercampur haru karena masih ada sebagian guruku yang kini menjadi rekan kerjaku. Tapi bagiku aku tetaplah murid mereka. Tak mudah mengajar di tengah situasi pandemi. Aku dengan modal pendidikan psikologi memang kaya akan teori dan ilmu psikologi yang kudapatkan di kampus. Aku pun sering bertanya-tanya dalam hati tentang apakah aku bisa mengenali remaja-remaja jaman now dengan baik, mampu menjadi teman mereka, dan membantu mereka menjadi diri mereka sendiri dengan segala kekuatan dan keterbatasan yang mereka miliki. 

Saat duduk di ruangan konseling–tempat kerjaku, aku melayangkan pikiranku ke beberapa waktu yang lampau, tentang aku yang mati gaya dan membeku di depan kelas. Aku yang ingin berucap kata menyampaikan pendapat tapi tak satu pun kata yang keluar dari lidahku. Aku merasa takut dan memikirkan bagaimana jika orang-orang menertawakan setiap kata bahkan pendapat yang keluar dari mukutku. Hingga akhirnya guruku membimbingku dengan sabar dan di detik itulah aku mulai berani berpendapat di sebuah rapat tim kerja OSIS. Aku yakin setiap orang hadir dengan pengalaman menyenangkan dan kurang menyenangkan dalam hidupnya. 

Tapi kekuatan seorang guru pada waktu itu membuatku menjadi orang yang berani berbicara, setidaknya aku menjadi orang yang percaya diri. Kini di sekolah, sekitar dua minggu aku bertemu dan berkenalan dengan murid-muridku, meski hanya secara virtual. Tentu saja aku sempat deg-deg an ditambah lagi aku tak pernah bertemu dengan murid-murid dari kelas 7. Hari pertamaku mengajar di kelas 7, aku bercerita tentang diriku yang iseng, aku yang pernah bermain HP dan berbuat iseng pada guru dan kabur membeli es krim di tengah pelajaran berlangsung.

Aku bercerita tentang hobiku yang senang menonton tayangan anime, menulis, dan mendengarkan cerita orang.Saat melihat wajah-wajah murid-muridku dari balik layar komputer aku sempat terdiam dan teringat semua kenanganku di kelas 7 dulu. Aku sampaikan juga pada mereka kalau di kelas bimbingan dan konseling akan ada yang namanya pertemuan personal dengan guru BK. 

Pertemuan itu ternyata tak mudah. Aku menjadwalkan semua siswa dapat bertemu denganku secara virtual, namun rupanya aku perlu sangat bersabar untuk dapat menyapa dan sangat mengenal mereka satu per satu melalui video call pribadi. Aku juga memberikan mereka beberapa pertanyaan online untuk mengetahui tentang cerita mereka masing-masing. Cerita kehidupan yang pasti tak sedikit menguras air mata. Benar saja, saat membaca cerita yang mereka tuliskan tentang kehidupan mereka aku sempat tertegun. Jika aku yang ada di posisi mereka, apakah aku bisa setangguh mereka.

Advertisement

Setiap aku memiliki waktu berbicara dengan murid-muridku, aku selalu bertanya kembali pada diriku apakah caraku berbicara tadi sudah cukup baik, sudah seberapa positif aku melontarkan kalimat yang mampu menyemangati anak-anak itu menjadi remaja yang lebih tangguh lagi. Aku selalu berusaha berada di dalam sudut pandang mereka dan memahami setiap cerita mereka dari perspektif seorang remaja. 

Di pertemuan minggu kedua bersama murid-muridku, aku mengajak mereka menulis surat. Satu surat untuk sesama teman dan satu surat lagi untuk guru sesuai yang telah kutentukan. Aku tahu setiap orang punya cerita masa lalu, setiap orang punya memori yang rasanya tak ingin diulang, tapi ada juga memori indah untuk dikenang. Tapi di balik semua cerita kehidupan, aku ingin murid-muridku tetap tangguh. Aku yakin dan tak bosan mengingatkan mereka kalau mereka semua hebat dan punya potensi untuk menjadi diri mereka sendiri dengan versi terbaik mereka.

Aku juga berkata di kelasku kalau setiap orang tak luput dari yang namanya masalah dan itu wajar. Bahkan saat bermain game pun ada rintangan yang harus dilalui. Tak bisa kabur begitu saja. Aku tak jenuh mengingatkan kalau aku bukan peramal masa depan, aku juga bukan tukang pemberi solusi, tapi satu hal yang pasti aku siap mendengar setiap keluh kesah mereka dan berusaha menjadi orang yang berada di urutan awal untuk memuji mereka untuk setiap pencapaian dan perubahan positif terjadi dalam diri mereka.

Aku akan menjadi orang yang tersenyum di posisi awal saat melihat mereka menjadi apa yang mereka inginkan dan cita-citakan. Aku juga ingin menjadi orang yang pertama kali menyodorkan telingaku dan hatiku secara penuh saat mereka putus asa, saat mereka merasa dunia sangat tidak adil dan kejam pada mereka. 

Kalau suatu ketika ada suatu masalah yang menerpa mereka dan mereka berani menghadapinya, itu karena mereka. Bukan aku. Jika mereka melewati perjalanan panjang penuh tetesan air mata namun akhirnya mereka berada di puncak kemenangan dan keberhasilan, itu karena daya juang dan keinginan hati mereka yang selalu mau berusaha. Aku hanyalah pembuka sudut pandang dan hingga kini masih berusaha untuk sedikit berbicara, namun lebih banyak mendengar. Aku ingin lebih memahami makna sedih, makna tertekan, arti dari kata takut, kecewa dari sudut pandang mereka. Bukan dari sudut pandangku. 

Di situlah tantangannya dan melalui tugas surat yang aku berikan di kelas, aku ingin membuktikan pada murid-muridku kalau di dunia ini mereka tidak sendirian. Semua muridku bisa saling memberi semangat, membiasakan diri dengan kata-kata positif untuk diri mereka sendiri dan untuk orang lain. 

Mereka menerima dan memberi cinta untuk orang-orang di sekitar mereka. Sementara nanti, aku akan menjadi pengagum karya-karya yang kelak mereka hasilkan dengan kerja keras dan ketangguhan yang mereka miliki. Aku yang hidup di saat ini tak akan pernah berhenti untuk mendengarkan dengan lebih baik tentang cerita-cerita calon remaja tangguh yang datang dengan jutaan mimpi indah mereka dan semoga aku bisa menjadi bagian dari sejarah baik dalam perjalanan hidup mereka meraih mimpi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

une femme libre

CLOSE