Penulis memulai tulisannya dengan menyajikan data statistika negara Amerika Serikat yang menyatakan bahwa Amerika menanggung biaya 44 miliar dolar setiap tahun! Tahukah anda untuk apa dana tersebut? Dana yang begitu besar digunakan untuk mengobati warganya sendiri dari penyakit depresi yang telah memakan lebih dari 17 juta orang Amerika. Mereka berusaha untuk berobat ke dokter, namun kebanyakan atau lebih dua pertiga mereka gagal dalam berobat. Menurut statistik terbaru, kebanyakan orang terutama di negara-negara Barat dan negara ateis menderita gangguang kejiwaan. Mereka menderita was-was yang menyebabkan ketidakbahagian, depresi, dan cemas. Sehingga mencerminkan tindakan negatif dan menyebabkan mereka tidak merasakan kebahagiaan.
Tidak sampai di situ saja, dalam sebuah penelitian terbaru disebutkan bahwa 3,4% orang didiagnosis depresi akut akan melakukan bunuh diri. Terpikir oleh penulis
“Bagaimana seseorang sangat mudah menyia-nyikan nyawanya tanpa memikirkan akibat yang ditmbulkan dan hal apakah yang dapat membuat mereka mau melakukan hal tersebut?.”
Para pembaca, mari kita membawanya kedalam ranah ilmu pengetahuan
Lantas, bagaimanakah ilmu Psikologi memandang hal tersebut. Tentunya penyakit depresi ini merupakan sebuah penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Pada umumnya seseorang mengidap penyakit ini disaat terjadi guncangan kejiwaan yang disebabkan berbagai hal, yang faktor utamanya ialah disaat seseorang tidak bisa meraih suatu yang diharapkannya atau dengan kata lain ia gagal dalam melakukan hal yang diimpikannya. Sehingga ia mulai dilanda guncangan psikologis, seperti ketidak acuhan, halusinasi, dan rasa takut yang mendalam yang mana ia berusaha agar seseorang dapat memahami serta membantu dirinya dari kekhawatirannya yang diidapinya ini. Hingga timbul suatu kaidah dalam ilmu psikologi yang menegaskan bahwa 90% gangguan mental disebabkan oleh ketidakpuasaan dengan realitas yang dihadapi oleh manusia
Namun, hal ini telah lama diperbincangkan di kalangan Psikolog dalam menemukan cara penanganan yang paling efektif untuk menyembuhkannya. Pembicaraan ini berakhir dengan sebuah jawaban para psikolog yaitu, mengusulkan prinsip teknik penyemangat (motivasi) merupakan cara yang dinilai paling efektif di dalam mengobati penyakit depresi, dengan mengatakan pada dirinya dan memutuskan bahwa ia akan mengubah sikap dan berusaha menuliskannya di atas kertas menuliskan bahwa ia akan bersikeras melakukan suatu hal walaupun gagal, dan berusaha untuk berubah hingga meraihnya.
Sebetulnya penelitian ini pertama sekali berawal dari sebuah studi, yang beranjak dari tulisan maslow mengenai pengalam pengalaman puncak. Dimana penelitian tersebut mengintruksikan sebagian klien agar menuliskan pengalaman puncak atau positif yang dirasakannya dan sebagian klien lainnya ditempatkan kedalam kondisi yang terkontrol sesuai dengan arahan dokter. Mereka menemukan bahwa, kelompok klien yang menuliskan pengalaman pengalaman positif menunjukkan kesehatan fisik lebih baik pada bulan bulan selanjutnya serta lebih jarang mengunjungi dokter dalam mengatasi penyakit selama 3 bulan setelah aktivitas menulis tersebut (Burton dan King, 2004)
Namun tidak sampai di situ, penelitian inipun berlanjut yang kemudian dikembangkan kembali oleh para peneliti , dilakukan dengan cara mengintruksikan para klien agar memikirkan suatu hal pengalaman yang positif selama 15 menit sehari selama 3 hari berturut-turut, melaporkan bahwa kondisi kesehatan dan kebahagian mereka meningkat lebih besar dari pada penelitian sebelumnya (Lyubomirsky, Sousa, dan Dickerhoof, 2006). Telah jelaslah bahwa, suatu hal yang menjadi sandaran dasar seorang agar dapat sembuh dari penyakit depresi ialah memikirkan suatu hal yang positif dalam hidupnya
Lalu, bagaimanakah islam menanggapi hal ini, maka penulis katakan,
”Hal ini bukanlah suatu hal yang baru dalam pandangan islam.”
Islam telah, mengabarkan hal ini sejak 1400 tahun yang lalu melalui sesosok manusia yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alihi wa sallam dalam keseharian beliau yang dikenal dengan As-Sunnah bagaimana tidak, mari kita simak bersama kisah singkat beliau.
Pada suatu ketika beliau dan sahabatnya berusaha menyelamatkan diri dari kejaran kaum kafir quraisy yang ingin membunuh beliau dan sahabatnya.Dengan usaha yang kersa beliau menyelamatkan diri dengan cara memasuki sebuah gua yang bernama Tsur yang mana gua tersebut memilki ukuran yang sangat kecil dan terdapat berbagai hewan yang buas di dalamnya. Ternyata kaum tersebut juga menargetkan pengejaranya pada gua Tsur. Tidak terelakan lagi merekapun segera mendatangi gua tersebut dan berhenti tepat didepannya tidak hanya itu sebagian keterangan menyebutkan bahwa sangking dekatnya, seandainya mereka memasukan sedikit wajah tentunya mereka akan mendapati Nabi dan sahabatnya tepat di depan.
Di tengah-tengah ketegangan tersebut sahabat beliau mulai merasa cemas akan keselamatan Nabi dan dirinya dan berkata, “Saya berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika saya dalam gua sekiranya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah kedua kakinya, maka kita akan kelihatan.”
Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu, wahai Abu Bakar terhadap dua orang yang ketiganya adalah Allah.” Lantas, karena satu jawaban tersebut sahabat beliau merasakan ketenangan dan, hilangnya segala kecemasan yang ada.
Penulis sediri berusaha membayangkan dirinya apabila terlibat dalam posisi tersebut, tentu segala pikiran negatif yang membayang-bayang dalam benak akan muncul sementara musuh sudah siap dengan pedang terhunusnya. Tetapi lihat bagaimana Nabi yang mulia ini menyelesaikan permasalahan akan keselamatan dirinya dan ditambah dengan menghilangkan rasa kekhawtiran dari sahabatnya.
Oleh karena itu penulis akan mengarahkan para pembaca ke pada dua pertanyaan,
“Hal apakah yang menjadikan seorang manusia biasa seperti kita dapat mengatasi hal ini tanpa sedikitpun merasa khawtir atau menimbulkan trumatis?”
“Lantas pikiran seperti apakah yang dapat memberikan ketenangan jiwa seperti ini walaupun dalam suasana mencengkam?”
Jawabanya hanya satu yaitu ketengan jiwa yang dimiliki. Dimana seseorang merasakan bahwa dirinya memiliki pelindung dan penolong yang Maha Kuat dan dapat menyelesaikan segala masalah yang dihadapi. Sehingga dengan demikian hilanglah segala was-was ataupun pikiran negatif. Dengan demikian, telah jelaslah kesinambungan dan keselarasan antara islam dengan ilmu modern laiinya.
Maka penulis tutup tulisanya dengan sebuah pernytaan dari para ilmuan
”Pentingnya berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar dan mempergunakan sebaik baik waktu pagi dan sore, terutama setelah bangun dan sebelum tidur.” Dan islam telah mendahuluinya dengan amalan yang disyariatkan seperti hal itu.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”