Jika

Seberapa mendebarkan sebuah jatuh cinta, jika hanya tetap menjadi jatuh cinta, tanpa keberanian untuk menggenapkan?

Advertisement

Kau mungkin bukan perempuan pertama yang pernah kubilang paling meneduhkan. Tapi, segala yang pernah kurasa paling meneduhkan seakan kalah oleh tatapanmu, diammu, cara berbicaramu, cara tersenyummu, dinginmu, cara menegurmu. Mirip sebuah senja di bentangan ufuk sana. Teduh.

Obrolan kita masih menjadi sebatas diam, tanpa kata-kata. Hanya mata yang berbicara. Seperti seorang pengecut yang jatuh cinta dengan seseorang yang bersembunyi di balik segunung rahasia. Maka, menerka-nerka adalah kejahatan yang seringkali menjadi ketakutan.

Di kepalaku, namamu adalah kata yang meminjamkan diri untuk kurapalkan dalam doa. Hal-hal kecil darimu adalah kata-kata yang meminjamkan diri, untuk menjadi tubuh bagi sajak-sajak yang dilahirkan oleh kepala seorang pengecut.

Advertisement

Jika kegenapan adalah yang paling diharapkan, maka harapan akan menjadi yang paling mungkin lebih membunuh dari pada jarak kita saat ini.

Dan berharap adalah bahaya-bahaya yang paling menakutkan dalam jatuh cinta. Maka aku berdoa, "Jika kau takdirku, akan kunikahi seluruhmu, dengan syukur paling riuh. Jika kau bukan takdirku, akan kupunggungi namamu dengan langkah paling sunyi.

— Imran Ahmad @muh.imran151

(Maros, September 2018)

Sebatas Pertemanan

Malam, dengan senang hati meminjamkan pundak untuk orang-orang yang senang mengenang. Dielusnya segala gelisah agar menjadi tenang, tapi kesepian sering kali menjadi kejam. Maka pelarian satu-satunya adalah menyelinap di antara riuh orang-orang yang entah merahasiakan apa di balik gelak tawanya.

Tapi, apa yang bisa dikenang dari kita? Sementara "kita" masih sebatas angan-angan, dan mengharapkan "kita" bisa saja menjadi sumber lara.

Pada jalan-jalan kota sunyi dalam pikiranku
kau berjalan dengan tubuh terbakar
tapi, tak pernah menjadikanmu abu
Jauh di dalam nurani,
apimu menerangi segala labirin,
sekaligus membakarnya
Tapi, lengkung senyum itu, seringkali menjadi hujan, yang seketika memadamkan semuanya.
Gelap, sunyi; tapi hatiku pekerja keras yang bertahan hidup di antara kesepian dan kenangan yang hanya "sempat" di batas pertemanan
.
— Imran Ahmad @muh.imran151

(Maros, September 2018)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya